
Di Blitar, ada rumah yang tidak dibangun dari bata biasa, melainkan dari campuran abu hasil pembakaran sampah. Rumah ini dibuat sebagai “rumah bukti” cara sederhana untuk menunjukkan bahwa limbah yang sering dianggap selesai setelah dibakar ternyata masih bisa diolah menjadi material bangunan.
Berawal dari TPST dan Rasa “Nekat” yang Dipelihara
Sosok di balik rumah ini adalah Ahmad Perdam Sunalis. Dari ceritanya, ia bukan orang yang sejak awal bercita-cita berkutat di dunia persampahan. Ia justru mengaku dulu cenderung “apatis” dan suka hidup simpel, tidak mau ribet. Tapi keadaan desanya membawanya ke arah itu.
Pada 2014, desanya ikut program lingkungan yang menuntut adanya pelayanan pengambilan sampah. Masalahnya, hampir tidak ada yang mau jadi petugas. Anak-anak muda menolak. Warga saat itu masih punya kebiasaan membuang sampah sembarangan ke sungai, kebun tetangga, atau asal “yang penting rumah bersih”. Dari situ, desa mencari kader. Ketika orang lain mundur, Sunalis memilih maju.
Ia mengaku di awal sering merasa malu: dianggap bau, dianggap pekerjaan rendahan, bahkan pernah dicibir masyarakat. Ada yang menyebut ia “cari muka” atau “kurang kerjaan”. Tapi ia bertahan. Ia menekuni pekerjaan itu sampai akhirnya mampu membangun dan merintis TPST di desanya, yang ia beri nama TPST Punakawan.
Meski kemudian ia pindah tugas dan keluar dari pengelolaan sampah (sekitar beberapa bulan terakhir), ia menyebut identitasnya tetap sama: orang yang berkarya dari limbah. Dari situlah muncul ide yang cukup ekstrem bagi banyak orang membangun rumah dari hasil olahan sampah.
Bata dari Abu Bakaran Sampah: Kenapa Bisa Kepikiran?
Angle utama cerita ini ada pada satu hal: abu pembakaran sampah yang biasanya dianggap “akhir” justru dijadikan bahan awal untuk sesuatu yang baru.
Sunalis menuturkan bahwa dalam sistem kerja TPST, sampah yang tidak bisa diolah dengan metode 3R akhirnya dibakar. Dari pembakaran itu tersisa abu. Di titik ini, kebanyakan tempat hanya berhenti: abu dibuang, ditimbun, selesai. Tapi ia melihat celah.
Ia mulai bereksperimen. Referensinya sederhana ia menyebut mencari rujukan dari internet (YouTube), meski pada awalnya konten yang ia temukan lebih banyak membahas batako dari abu sekam. Ia lalu mencoba mengembangkan dengan bahan yang ia miliki: abu pembakaran sampah.
Dalam ceritanya, abu itu tidak langsung digunakan begitu saja. Ia menyebut melakukan proses pembersihan, perendaman, dan pencampuran. Ada campuran seperti pasir, bahkan ada pecahan kaca (beling) yang ia tumbuk halus. Semua dikerjakan mandiri, alatnya juga seadanya. Yang penting menurutnya: dicoba dulu sampai ketemu komposisi yang “pas” dan cukup kuat.
Ia tidak menjelaskan formula detail seperti takaran gram atau rasio pasti, tapi ia menekankan satu hal: ini bukan sekadar “asal campur”. Ini proses yang diulang-ulang. Prinsipnya, ia ingin menjadikan sisa pembakaran yang selama ini dianggap tidak berguna menjadi sesuatu yang bisa dimanfaatkan.
“Kalau Warga Ragu, Saya Kasih Contoh Langsung”
Bagian yang paling terasa dalam wawancara ini bukan sekadar teknis bata, tapi alasan kenapa rumah itu harus benar-benar dibangun.
Di desa, ide seperti “batako dari sampah” sering memancing keraguan. Sunalis menyebut masyarakat ragu. Ada yang menganggap itu tidak mungkin kuat. Ada yang menganggap itu cuma proyek aneh. Keraguan itu bukan cuma komentar; itu bisa membuat inovasi berhenti sebelum dicoba.
Dan itulah yang bikin ia “gergetan”. Alih-alih terus berdebat, ia memilih membuat bukti nyata: membangun rumah dengan bata dari abu pembakaran sampah. Ia menyebut rumah itu sebagai kenang-kenangan dari masa ia bekerja dan merintis pengelolaan sampah. Tapi di saat yang sama, rumah itu juga jadi semacam pernyataan: kalau mau menilai sesuatu, lihat hasilnya dulu.
“Makanya saya bikin rumah ini, saya kasih contoh,” kira-kira begitu garis besar kalimatnya.
Rumah itu bukan rumah mewah. Ia lebih seperti “monumen kecil” yang menyimpan cerita panjang: dari dicibir waktu awal merintis, sampai akhirnya mampu menunjukkan sesuatu yang bisa dilihat semua orang. Bagi Sunalis, rumah itu juga punya dimensi pribadi semacam warisan kecil. Ia bahkan menyebut harapannya: meski ia sudah tua atau nanti meninggal, ada jejak yang tertinggal dari apa yang pernah ia bangun.

Rumah Bukti dan Pesan yang Dititipkan
Kisah rumah dari bata abu pembakaran sampah ini sebenarnya sederhana, tapi pesannya cukup kuat: pengelolaan sampah tidak selalu berhenti pada “buang” atau “bakar”. Kadang, yang tersisa justru bisa jadi bahan untuk fungsi baru asal ada keberanian untuk mencoba.
Di Blitar, rumah ini berdiri sebagai pengingat bahwa inovasi di akar rumput sering lahir bukan dari fasilitas lengkap, tapi dari orang yang keras kepala dalam cara yang baik: mau mencoba, mau gagal, mau mengulang, sampai akhirnya jadi.