
Foto : Dokumen Inovasi Muda Foundation
Di Pentingsari, cinta pada lingkungan tak lahir dari slogan atau papan peringatan. Ia tumbuh dari kebiasaan sehari-hari, membatasi tamu yang datang, memilah sampah sendiri, hingga menanam pohon bersama orang yang baru dikenal sebagai wisatawan. Desa kecil di lereng Gunung Merapi ini mengajarkan bahwa mencintai alam bukan soal romantisme, tapi soal keputusan.
Bertahun-tahun lalu, Pentingsari hanyalah dusun dengan akses terbatas dan pilihan ekonomi yang sempit. Mayoritas warganya bekerja sebagai petani dan buruh harian, hidup dekat dengan alam, tapi belum sepenuhnya berdaya untuk menjaganya secara berkelanjutan. Perubahan mulai terjadi pada 2008, ketika warga sepakat membangun desa wisata berbasis komunitas dengan satu prinsip utama: alam tidak boleh dikorbankan.
Lingkungan Bukan Objek, tapi Rumah
Berbeda dengan destinasi wisata yang mengejar keramaian, Pentingsari justru menetapkan batas. Kunjungan wisatawan dibatasi maksimal 400 orang per hari, dengan sistem reservasi satu pintu. Kebijakan ini bukan tanpa risiko, tetapi bagi warga, menjaga keseimbangan jauh lebih penting.
“Kami sadar, alam di sini adalah rumah kami sendiri,” ujar Dwi Wahyu Setia Budi, Pengelola Desa Wisata Pentingsari.
“Kalau rusak karena pariwisata, yang pertama kehilangan bukan wisatawan, tapi warga.”
Prinsip itu diterjemahkan ke dalam berbagai praktik ramah lingkungan, desa ramah pejalan kaki untuk menekan emisi karbon, pemantauan penggunaan listrik dan air, serta kebiasaan Jumat Bersih yang melibatkan seluruh warga. Wisatawan pun tidak dibiarkan menjadi penonton mereka diajak ikut menanam, memilah sampah, dan belajar hidup selaras dengan alam.
Anak Muda dan Cinta Lingkungan yang Praktis
Cinta lingkungan di Pentingsari tidak berhenti pada generasi tua. Justru anak mudalah yang kini menjadi motor penggeraknya. Lebih dari 70 persen pemandu wisata berasal dari generasi muda, yang membawa pendekatan baru, edukatif, kolaboratif, dan sadar iklim.
Mereka terlibat dalam pengelolaan limbah, pembuatan eco-enzyme, pengomposan, hingga inovasi Nabung Gendul mesin donasi botol plastik yang hasilnya digunakan untuk penanaman pohon. Satu botol mungkin hanya bernilai puluhan rupiah, tapi di Pentingsari, ia menjadi simbol kepedulian.
“Cinta lingkungan perlu ruang untuk dipraktikkan, bukan hanya dikampanyekan,” kata Dani Fauzi, Senior Programme Officer DESMA Center.
“Di desa wisata seperti Pentingsari, anak muda belajar bahwa menjaga alam juga bisa menjadi pekerjaan yang bermakna.”
Konsep ini dikenal sebagai green jobs pekerjaan layak yang berkontribusi pada pelestarian lingkungan sekaligus kesejahteraan sosial. Di Pentingsari, green jobs hadir dalam peran pemandu wisata ekologis, pengelola homestay berwawasan hijau, hingga operator pengolahan limbah desa.
Pariwisata yang Mengembalikan, Bukan Menguras
Tahun 2024, Pentingsari menerima lebih dari 32 ribu wisatawan dengan omzet hampir Rp5 miliar. Namun keuntungan itu tak berhenti di angka. Hasil bersih dibagikan kembali kepada masyarakat melalui kas desa, program sosial, dan beasiswa pendidikan bagi anak keluarga kurang mampu.
Bagi warga Pentingsari, mencintai lingkungan berarti memastikan alam tetap lestari, ekonomi tetap berjalan, dan generasi berikutnya masih punya ruang untuk hidup. Di desa ini, cinta lingkungan bukan jargon ia adalah pilihan hidup, yang dijaga bersama, setiap hari.