Brand Audit Trash Hero Ungkap Merek Sampah Dominan di Malang

Relawan Trash Hero Tumapel memilah dan mencatat sampah bermerek saat kegiatan brand audit di Malang.
Relawan Trash Hero Tumapel melakukan pemilahan dan pencatatan sampah bermerek dalam kegiatan brand audit di Malang.
Foto: TrashHero

Malang – Trash Hero Tumapel Malang secara rutin melakukan brand audit untuk memetakan merek-merek sampah yang paling sering ditemukan dalam aksi bersih sungai dan ruang publik di wilayah Malang Raya sejak 2018. Melalui pendataan ini, komunitas lingkungan tersebut berupaya mendorong tanggung jawab produsen atas limbah kemasan sekali pakai yang terus berulang mencemari lingkungan.

Di balik setiap aksi bersih sungai yang dilakukan Trash Hero Tumapel, ada pekerjaan sunyi yang jarang disorot yaitu mencatat satu per satu merek yang menempel pada sampah. Bukan sekadar memunguti, relawan komunitas ini melakukan brand audit sebuah metode pendataan sistematis untuk mengetahui siapa produsen di balik limbah yang berserakan di sungai, taman kota, hingga kawasan wisata.

Ketua Trash Hero Tumapel, Coki Basil, menjelaskan bahwa brand audit menjadi bagian penting dari upaya preventif. 

“Setelah sampah diambil, kami timbang, pilah, lalu dicatat mereknya. Data itu kemudian kami kirim ke pusat Trash Hero untuk diolah secara global,” ujarnya saat ditemui tim Natera dalam liputan lapangan.

Metode ini tidak dilakukan sesekali. Berdasarkan catatan lapangan, Trash Hero Tumapel menggelar kegiatan bersih-bersih minimal dua kali dalam sebulan, dengan jumlah relawan yang bisa mencapai 100–200 orang per kegiatan. Dari setiap aksi tersebut, data merek sampah dikumpulkan secara konsisten.

Merek yang Berulang Muncul

Dari hasil brand audit yang dilakukan Trash Hero Tumapel, terdapat pola yang berulang. Sampah kemasan produk kebutuhan sehari-hari mendominasi temuan, terutama botol plastik air minum dan kemasan deterjen.

 “Yang paling sering kami temukan itu botol air minum sekali pakai dan kemasan sabun cuci. Nama mereknya itu-itu saja,” kata Basil.

Dalam field notes tim Natera, Basil menyebut bahwa merek air minum dalam kemasan dan produk rumah tangga skala besar kerap muncul di lokasi berbeda. Fenomena ini, menurutnya, menunjukkan bahwa masalah sampah bukan semata perilaku individu, tetapi berkaitan erat dengan sistem produksi dan distribusi kemasan sekali pakai.

Sampah lain yang juga sulit ditangani adalah popok sekali pakai. Selain volumenya besar, jenis sampah ini tidak bisa dibuka untuk audit merek secara detail karena alasan sanitasi.

 “Popok itu jadi dilema. Tidak bisa dipilah, tapi selalu ada,” ujarnya.

Brand Audit sebagai Alat Tekanan

Berbeda dengan kegiatan bersih-bersih biasa, brand audit memiliki tujuan jangka panjang. Data yang dikumpulkan tidak berhenti di komunitas lokal. Trash Hero Tumapel mengirimkan hasil audit ke pusat Trash Hero di Swiss, lalu diteruskan ke perusahaan-perusahaan terkait sebagai bentuk tekanan moral dan advokasi.

Menurut Trash Hero World, brand audit digunakan untuk menunjukkan kontribusi produsen terhadap pencemaran plastik global dan mendorong penerapan prinsip Extended Producer Responsibility (EPR), yaitu tanggung jawab produsen atas kemasan yang mereka hasilkan

Basil menegaskan bahwa tujuan mereka bukan menyalahkan satu pihak.

 “Kami ingin produsen tahu bahwa kemasan mereka benar-benar berakhir di sungai. Ini soal transparansi,” katanya.

Medan Sulit, Data Tetap Dicatat

Relawan Trash Hero Tumapel berkumpul sebelum aksi bersih lingkungan dan brand audit sampah di Malang.
Relawan Trash Hero Tumapel bersiap melakukan aksi bersih lingkungan dan pemilahan sampah
Foto: TrashHero

Pelaksanaan brand audit di Malang tidak selalu mudah. Banyak lokasi sungai memiliki medan curam, licin, dan sulit diakses. Meski demikian, Trash Hero Tumapel tetap berupaya melakukan pendataan seakurat mungkin. Dalam beberapa kegiatan, relawan harus membawa sampah dari dasar sungai menggunakan jalur sempit tanpa akses kendaraan.

Catatan lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar sampah yang dikumpulkan akhirnya disalurkan ke TPST terdekat karena keterbatasan bank sampah yang mampu menerima sampah dalam kondisi kotor. Namun, proses audit tetap dilakukan sebelum sampah dipindahkan.

Kaitan Brand Audit dengan Greenwashing

Data brand audit juga membuka diskusi tentang greenwashing. Basil menyebut ironi ketika merek yang mengklaim ramah lingkungan justru sering ditemukan dalam tumpukan sampah. Temuan ini sejalan dengan laporan Greenpeace Indonesia yang menyebut bahwa klaim hijau pada kemasan sering tidak diimbangi sistem pengelolaan pascakonsumsi yang memadai 

Dalam konteks ini, brand audit menjadi alat untuk membongkar jarak antara klaim dan realitas di lapangan. 

“Kalau memang peduli lingkungan, harusnya ada solusi setelah produk dipakai,” ujar Basil.

Trash Hero Tumapel menekankan bahwa brand audit bukan tujuan akhir. Data tersebut digunakan untuk mendorong perubahan kebijakan dan perilaku. Mereka aktif mengedukasi masyarakat, sekolah, dan komunitas bantaran sungai, sembari terus menyuarakan pentingnya pengurangan plastik sekali pakai.

Menurut data KLHK, Indonesia menghasilkan sekitar 68 juta ton sampah per tahun, dengan plastik menyumbang sekitar 17 persennya. Tanpa perubahan sistemik, pola sampah yang sama akan terus berulang.

“Bersih-bersih itu penting, tapi tidak cukup. Kalau produksinya tidak berubah, sungai akan kotor lagi,” kata Basil.

Kesadaran yang Bertahap

Dari hasil evaluasi internal Trash Hero Tumapel, kesadaran masyarakat sebenarnya sudah ada. Banyak warga tahu bahwa membuang sampah ke sungai itu salah. Namun, keterbatasan fasilitas dan sistem pengelolaan membuat mereka sering tidak punya pilihan.

Brand audit, dalam konteks ini, menjadi jembatan antara realitas di lapangan dan kebijakan yang lebih besar. Dengan data yang konsisten, Trash Hero berharap suara komunitas akar rumput bisa sampai ke meja pengambil keputusan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.