
Foto : Dok Pribadi/Natera
Di balik isu lingkungan yang sering terasa berat, selalu ada cerita manusia yang berjalan pelan namun konsisten. Cerita itu datang dari Cahyo Ilham Firmansyah Subagio, atau yang akrab Naters kenal sebagai Firman.
Pemuda asal Sidoarjo ini memilih jalan yang tidak biasa. Ia menautkan persoalan sampah, pertanian, edukasi, dan kepedulian sosial dalam satu napas panjang bernama dampak.
Firman hari ini dikenal sebagai CEO Capunglam sekaligus pendiri Yayasan Firwani Kids Center. Namun perjalanan itu lahir dari proses jatuh bangun yang panjang dan penuh pelajaran. Kisahnya bukan tentang sukses instan. Cerita ini tentang keberanian mencoba, gagal, lalu bangkit lagi dengan makna yang lebih luas.
Awal Mula Capunglam, Dari Jelantah ke Edutech
Capunglam tidak langsung lahir dengan nama itu. Pada awalnya, Firman menamai inisiatifnya Greenbios saat masih mahasiswa baru semester dua.
Di usia yang sebagian orang sibuk beradaptasi dengan kuliah, Firman justru turun ke lapangan, berkeliling Malang untuk mengumpulkan minyak jelantah.
“Masih maba itu aku nyari minyak jelantah pake pickup, se malang itu aku puterin” cerita Firman pada Tim Natera saat wawancara bersama di Capunglam Singhasari.
Selama dua hari, Firman bahkan rela tidak masuk kuliah. Dari usaha itu, terkumpul sekitar satu setengah ton minyak jelantah dari warga. Namun masalah internal membuat langkah itu harus terhenti.
Kegagalan itu tidak menghentikan Firman. Ia justru menggeser fokus ke bidang lain yang masih satu ruang dengan isu lingkungan.
Firman mulai tertarik pada konsep integrated farming. Ia berpikir tentang cara mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai. Pilihan pun muncul antara cacing atau maggot.
“Maggot kan hal yang biasa kan pada waktu itu, jadi wes lah aku pake cacing.”
Modal dari minyak jelantah ia gunakan untuk mewujudkan ide pengolahan sampah organik tersebut. Firman bekerja sama dengan pamannya untuk budidaya cacing.
Namun realita berkata lain. Selama satu tahun berjalan, usaha itu justru tidak menghasilkan keuntungan.
“Ternyata ga semudah itu main di olahan sampah organik.”
Tantangan datang dari berbagai arah. Bau limbah ampas tebu sebagai pakan cacing memicu keluhan warga sekitar. Cuaca juga memengaruhi keberhasilan budidaya. Kondisi itu membuat usaha cacing semakin sulit.
Firman tidak berhenti belajar. Ia mendalami konsep integrated farming hingga ke Wonosobo. Dari sana, ia mulai membangun sistem yang lebih stabil untuk cashflow.
Setelah alur keuangan mulai terbentuk, Firman melihat peluang baru. Capunglam tidak lagi sekadar tentang produksi, tetapi tentang edukasi dan branding lingkungan. Capunglam ingin menjangkau para pensiunan yang sering kebingungan mencari aktivitas produktif.

Foto : Dok Pribadi/Natera
“Apalagi sekarang para pensiunan itu bingung mau cari kerja duit dek ndi?” Ujarnya.
Pengalaman keluarga Firman yang banyak memasuki masa pensiun memperkuat keyakinannya. Ia melihat pertanian dan pengolahan limbah rumah tangga sebagai peluang.
Dari situ, Capunglam berkembang menjadi edutech dan banyak pihak mulai tertarik berkolaborasi dalam edukasi lingkungan dan green entrepreneurship.
“Ternyata kita unggulnya di situ, dan kita banyak cashflow ya dapetnya dari situ.”
Harapan Sekolah Alam dan Ruang Tumbuh yang Setara
Bagi Firman, dampak tidak berhenti pada alam. Ia percaya keseimbangan harus hadir antara lingkungan dan manusia.
”Gimana caranya menyatukan manusia dan alam itu seimbang”
Prinsip itu mendorong Firman membangun Yayasan Firwani Kids Center. Keputusan ini berangkat dari pengalaman personal bersama adiknya yang merupakan anak berkebutuhan khusus.
Firman ingin menciptakan ruang aman. Tempat di mana anak berkebutuhan khusus bisa tumbuh bersama anak lainnya tanpa stigma.
Ia melihat banyak orang tua di sekitarnya masih sulit menerima kondisi anak mereka. Rasa malu sering membuat anak justru terisolasi.
Di Firwani Kids Center, pendekatan itu diubah sejak awal. Bahasa pun menjadi alat penting untuk membangun penerimaan.
“Makanya statement ‘ABK’ di sini diganti dengan ‘tumbuh kembang anak’” Jelasnya
Firman dan tim terus mendampingi orang tua. Ia percaya setiap anak memiliki ritme tumbuh yang berbeda dan layak dihargai.
Lebih jauh, Firman ingin anak-anak di yayasan ini mengenal alam sejak dini. Lingkungan bukan sekadar latar, tetapi bagian dari proses belajar.
“Jadi aku pengen bangun sekolah alam untuk anak-anak.”
Harapan itu kini menjadi arah besar Capunglam sebagai startup edutech. Firman membayangkan sekolah-sekolah alam tumbuh dari kolaborasi dan edukasi berkelanjutan.
Kisah Firman ini mengingatkan kita akan satu hal penting. Dampak besar sering lahir dari langkah kecil yang dijalani dengan konsisten dan empati.