Capunglam Academy: kelas edukasi berbahan ajar “sampah”

Kelas Edukasi untuk generasi muda di Capung Lam
Foto: Capung Lam

Capung Lam mungkin dikenal sebagai perusahaan pengelolaan limbah dan pertanian terintegrasi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, wajah Capung Lam berkembang lebih jauh dari sekadar bisnis lingkungan. Dari pengalaman panjang berkutat dengan minyak jelantah, cacing, hingga maggot, lahirlah sebuah ruang belajar baru bernama Capunglam Academy. Merupakan sebuah platform edukasi yang menjembatani pengetahuan praktis dan kebutuhan masyarakat akan pengelolaan lingkungan yang aplikatif.

Cahyo Ilham, CEO Capung Lam menjelaskan bahwa keputusan masuk ke dunia edukasi bukanlah strategi dadakan, melainkan hasil dari perjalanan panjang penuh trial and error.

“Kami melihat bahwa banyak orang ingin terlibat di pertanian dan pengelolaan limbah, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Dari situ kami sadar, edukasi justru menjadi titik paling kuat dari Capung Lam,” ujarnya.

Berangkat dari realitas tersebut, Capunglam Academy dirancang sebagai ruang berbagi ilmu, bukan hanya untuk petani atau pegiat lingkungan, tetapi juga masyarakat umum, pensiunan, hingga generasi muda yang ingin memulai usaha hijau dari rumah.

Workshop dan Webinar sebagai Jantung Pembelajaran

Tidak seperti lembaga pelatihan konvensional, Capunglam Academy mengandalkan format workshop dan webinar sebagai medium utama. Model ini dipilih karena dinilai lebih inklusif dan mampu menjangkau peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Lewat sesi daring dan luring, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga praktik langsung mulai dari bagaimana memilah sampah organik, membuat sistem biopori, hingga merancang kandang ayam dalam skema integrated farming. Capung Lam memanfaatkan pengalaman lapangan mereka sebagai bahan ajar utama, sehingga setiap materi yang dibagikan sudah teruji di kondisi nyata.

“Kalau cuma ngomong konsep, orang cepat lupa. Tapi kalau mereka lihat langsung bagaimana limbah rumah tangga bisa jadi pakan ternak atau kompos, itu baru klik,” kata pendiri Capung Lam.

Pendekatan ini pula yang membuat Capunglam Academy pelan-pelan tumbuh sebagai rujukan nasional bagi mereka yang ingin belajar pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.

Mengintegrasikan Waste Management dan Pertanian

Salah satu kekhasan Capunglam Academy terletak pada pendekatan integrated farming, yaitu konsep yang menggabungkan pengelolaan limbah, peternakan, dan pertanian dalam satu sistem yang saling menopang. Limbah organik tidak lagi diposisikan sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya.

Dalam praktik yang diajarkan, sisa makanan rumah tangga dapat diolah menjadi pakan maggot atau cacing. Kotoran ternak kemudian kembali dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman. Siklus ini menciptakan sistem yang minim residu, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Buat kami, ekonomi sirkular itu bukan teori besar. Itu soal bagaimana kotoran ayam hari ini bisa jadi nutrisi tanaman besok,” jelasnya.

Melalui workshop dan webinar, Capunglam Academy membedah proses ini secara rinci, sehingga peserta bisa menirunya di skala rumah tangga maupun usaha kecil.

Budidaya Cacing dan Maggot: Dari Gagal hingga Jadi Kurikulum

Menariknya, salah satu materi unggulan Capunglam Academy justru lahir dari kegagalan. Capung Lam pernah menghabiskan hampir dua tahun bereksperimen dengan budidaya cacing berbasis sampah organik, namun hasilnya tidak sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan.

Alih-alih menutup pengalaman itu, Capung Lam menjadikannya sebagai bahan belajar. Dalam kelas-kelas mereka, peserta diajak memahami mengapa cacing tidak tumbuh optimal jika hanya diberi sampah rumah tangga, serta bagaimana kombinasi pakan seperti ampas tebu dan kotoran sapi bisa meningkatkan produktivitas.

Begitu pula dengan maggot, yang kini menjadi salah satu solusi paling efisien untuk mengolah sampah organik. Melalui Capunglam Academy, pengetahuan teknis ini dibagikan secara terbuka, agar masyarakat tidak perlu mengulang kesalahan yang sama.

Menuju Ruang Belajar Nasional

Dengan semakin banyaknya peserta dari berbagai daerah, Capunglam Academy kini tidak lagi sekadar program internal, tetapi berkembang menjadi ruang belajar. Minat terhadap workshop green entrepreneurship, waste management, dan pertanian berkelanjutan terus meningkat, seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat akan krisis lingkungan dan peluang ekonomi hijau.

Capung Lam melihat fase ini sebagai transisi penting dari perusahaan yang bertumpu pada bisnis pengelolaan limbah, menuju ekosistem edukasi yang menumbuhkan banyak inisiatif baru di berbagai daerah.

“Kami ingin Capung Lam tidak hanya mengelola sampah sendiri, tapi melahirkan ratusan bahkan ribuan orang yang bisa mengelola sampah dan lahannya masing-masing,” tutupnya.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.