Tak Tunjukkan Jumlah Sampah, Ini Cara BSIL Ajak Warga Peduli

Sebagian orang melihat sampah sebagai angka. Berapa kilogram terkumpul, berapa karung terisi, lalu selesai. Namun bagi Bank Sampah Indah Lestari (BSIL), setiap kilogram sampah menyimpan cerita yang lebih besar tentang jejak manusia terhadap lingkungan.

Suatu Ramadan, sebuah masjid berhasil mengumpulkan puluhan kilogram sampah terpilah. Angkanya terlihat biasa saja. Namun ketika angka itu berubah menjadi informasi tentang pohon yang terselamatkan dan energi yang terhemat, ceritanya terasa jauh lebih dekat.

Dari situlah BSIL mulai merancang pendekatan yang berbeda. Mereka tidak ingin masyarakat hanya berhenti pada angka timbangan sampah. Mereka ingin orang memahami dampak yang muncul dari setiap tindakan kecil.

Tim Natera dan Mayedha Adifirsta selaku CO Founder iLitterless
Suatu malam dalam satu layar, Tim Natera berbincang bersama Mayedha Adifirsta tentang bagaimana angka sampah berubah menjadi cerita yang menggerakkan kepedulian.
Foto : Dok Pribadi/Natera

“Orang kalau dilaporkan berhasil memilah sekian kilo sampah, saya berusaha mengubah yang dilaporkan adalah dampaknya,” ujar Mayedha Adifirsta selaku Co-Founder iLitterless.

Ide tersebut lahir saat BSIL menjalankan program pengelolaan sampah bersama pesantren dan masjid selama Ramadan. Tim mencoba menyusun laporan yang lebih mudah dipahami masyarakat.

Alih-alih hanya menulis jumlah sampah yang terkumpul, BSIL menerjemahkan data menjadi bahasa yang lebih dekat. Mereka menghitung dampak lingkungan yang setara dengan hasil pemilahan sampah tersebut.

“Masjid Al-Ghazali berhasil memilah puluhan kilogram sampah. Itu setara dengan penghematan 61 liter bensin, penyelamatan tujuh pohon, dan penghematan lampu hingga 13 ribu jam,” jelas pemuda yang akrab disapa Maye.

Bagi BSIL, angka kilogram sering terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, informasi tentang pohon, listrik, atau bensin lebih mudah membangun koneksi emosional dengan masyarakat.

Konsep ini kemudian berkembang menjadi impact report atau laporan dampak. Bukan sekadar laporan operasional, tetapi media edukasi yang membantu orang memahami hubungan antara sampah dan lingkungan.

“Yang dilaporkan bukan sekadar perolehan sampah, tapi lebih ke dampaknya,” kata Maye.

BSIL Sampaikan Isu Sampah Jadi Dekat dengan Generasi Muda

BSIL melihat tantangan terbesar kampanye lingkungan bukan hanya soal pengelolaan sampah. Tantangan sebenarnya muncul saat mengubah informasi teknis menjadi cerita yang mudah dipahami banyak orang.

Menurut Maye, isu lingkungan sering terasa rumit karena penuh istilah ilmiah. Padahal generasi muda lebih mudah terhubung dengan cerita yang relevan dengan kehidupan mereka.

Karena itu, BSIL memanfaatkan storytelling sebagai bagian penting dari edukasi lingkungan. Data tetap penting, tetapi cerita membuat data lebih hidup dan mudah diingat.

TPS 3R Basama Bandungrejosari
Dari tempat ini, kolaborasi iLitterless dan TPS 3R Basama Bandungrejosari tumbuh menjadi BSIL, ruang tempat sampah, edukasi, dan dampak lingkungan bertemu.
Foto : Dok Pribadi/Natera

“Media sosial, terutama Instagram, menjadi etalase untuk menunjukkan aktivitas kami,” ujar Maye.

Melalui berbagai kampanye, BSIL mencoba menunjukkan bahwa sampah bukan sekadar limbah yang harus dibuang. Sampah merupakan bagian dari jejak lingkungan yang manusia tinggalkan setiap hari.

Setiap botol plastik, kardus paket, atau kemasan makanan memiliki perjalanan panjang. Ketika seseorang memilah sampah, mereka ikut menentukan akhir dari perjalanan tersebut.

Harapan berikutnya bahkan lebih besar. BSIL ingin menjadikan impact report sebagai fitur utama dalam berbagai kerja sama dengan hotel, komunitas, hingga penyelenggara acara.

“Saya berharap impact report menjadi fitur utama ketika kami bekerja sama dengan hotel, event, konser, dan komunitas,” ujar Maye.

Melalui pendekatan itu, sebuah acara tidak hanya menghasilkan laporan jumlah sampah. Acara tersebut juga bisa menunjukkan berapa energi yang berhasil dihemat atau berapa sumber daya alam yang berhasil dijaga.

Di tengah krisis sampah yang terus meningkat, BSIL percaya perubahan besar sering berawal dari cara pandang yang sederhana. Ketika masyarakat mulai melihat sampah sebagai bagian dari dampak lingkungan, kesadaran akan tumbuh lebih kuat.

“Setiap orang sudah harus sadar menyelesaikan masalah sampahnya sendiri karena itu potensi bencana di kemudian hari,” tutup Maye.

Pada akhirnya, BSIL tidak hanya mengumpulkan sampah. Mereka mengumpulkan cerita. Dari setiap botol yang terpilah, setiap kardus yang terselamatkan, dan setiap langkah kecil yang membantu bumi bernapas sedikit lebih lega.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.