
Foto : Dok Pribadi/Natera
Jeans usang yang mulai pudar warnanya seringkali berakhir dengan nasib yang sama. Disobek, dijadikan lap, atau dibiarkan menumpuk dan berakhir di tempat pembuangan.
Namun di sebuah rumah di Blitar, kain usang itu justru menjadi awal dari perlawanan kecil terhadap cara kita memandang barang bekas.
Ardhiana Malrasari, atau yang akrab disapa Sari tidak melihat jeans bekas sebagai akhir. Di tangannya, setiap potongan kain selalu diupayakan kembali bernilai.
“Biar ga downcycle, bukan jadi keset atau pengelap. Tapi dia punya nilai yang lebih tinggi.” Ujarnya sambil menunjukkan tas upcyclenya.
Menolak Nasib Jeans Usang
Sari memulai perjalanannya dari membangun brand upcycle bernama D’Belel. Sebuah nama yang lahir dari kejujuran terhadap kondisi bahan yang ia gunakan.
Huruf “D” merujuk pada disabilitas, sementara “belel” berarti rusak, usang atau tidak lagi sempurna. Jeans yang sudah usang tidak ditutupi kekurangannya, tetapi Ia rangkai menjadi cerita baru.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Bagi Sari, keindahan bukan soal kondisi awal bahan. Nilai keindahan itu justru muncul dari proses mengolah ulang sesuatu yang seringkali kita anggap tak berguna.
Namun gagasan itu tidak serta-merta diterima lingkungannya sekitarnya. Produk berbahan jeans bekas memunculkan rasa enggan di masyarakat.
“Cuman kan kita orang jawa itu kayak ada semacam ini loh. Tabu ya gimana kok bekasnya orang kayak gitu.” Jelasnya.
Pandangan tentang barang bekas masih lekat dengan rasa risih. Kekhawatiran soal kebersihan dan kepantasan menjadi tembok pertama yang harus ia hadapi.
Padahal tahukah Naters? Jeans bukanlah sekedar kain biasa. Produksinya membutuhkan air, energi, dan pestisida dalam jumlah besar.
Sehingga struktur kainnya membuat jeans sulit untuk didaur ulang. Banyak yang akhirnya berakhir di tempat pembuangan akhir.
Mulai dari Rumahnya Sendiri
Alih-alih langsung menjual, Sari memilih memulai dari lingkar terdekat. Ia membuat karya upcycle pertamanya untuk kakak dan anggota keluarga lainnya. Bahan yang digunakan berasal dari jeans usang dan seragam bekas milik suaminya.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Suami Sari sendiri bekerja di sebuah perusahaan tambang di Kalimantan dan pulang ke Blitar sebulan sekali. Namun, setiap kepulangannya tentu membawa “oleh-oleh” yang tak biasa.
Bukan makanan atau pakaian baru, melainkan tumpukan seragam lama. Di kantor kerja suaminya, setiap tahunnya para pekerja di sana mendapat seragam baru.
Atasan berupa kemeja, dan bawahan berupa celana jeans. Dalam setahun, seorangnya mendapatkan enam pasang seragam tersebut. Dan tentu tahun berikutnya, jumlah itu kembali bertambah.
“Sebisa mungkin tidak dibuang, semuanya bisa kita manfaatkan.”
Bayangkan berapa banyak jeans-jeans tersebut yang hanya akan menumpuk. Padahal kondisinya masih layak pakai kembali.
Respon keluarga menjadi titik balik penting bagi Sari. Mereka menyukai karya-karya upcycle buatannya dan mulai menggunakannya tanpa rasa enggan atau risih.
“Jadi awalnya masih ada kendala image orang terhadap menggunakan kembali. Bekasnya orang kayak gitu ya.”
Dari penerimaan kecil itu, kepercayaan diri Sari tumbuh kembali. Ia mulai melihat bahwa persepsi bisa berubah secara perlahan.
Dari Produksi ke Edukasi
Kesadaran lingkungan kemudian menjadi bahan bakar baru. Sari menyadari bahwa limbah tekstil terus lahir setiap tahun.

Foto : Dok Pribadi/Natera
“Saya semakin semangat untuk menggunakan lagi karena pasti setiap tahun menghasilkan sampah.”
Sejak saat itu, misi D’Belel berkembang. Bukan hanya memproduksi tas, tetapi juga mengedukasi.
Sari pun mulai mengadakan pelatihan keterampilan upcycle jeans. Ia mengajak masyarakat menyentuh langsung prosesnya.
“bebannya itu apakah bisa diterima masyarakat dengan menggunakan bahan bekas.”
Keraguan itu masih ada. Namun setiap orang yang mencoba menjahit dan membawa pulang hasil karyanya mulai melihat perspektif baru. Pelatihan menjadi ruang belajar sekaligus ruang dialog bagi Sari.
Melalui D’Belel, Sari tidak hanya menjahit tas. Ia menjahit ulang cara pandang kita terhadap barang bekas.