Cerita BSM Mencatat Sampah, Mengubah Kebiasaan Warga Kota

Deretan sertifikat menggantung di dinding Bank Sampah Malang, berdampingan dengan poster jenis sampah terpilah yang menjadi panduan warga. Di ruang sederhana ini, sampah tak lagi dipandang sebagai sisa, melainkan dicatat, ditimbang, dan diubah menjadi nilai tabungan sebuah upaya perlahan membangun kebiasaan pilah dan tanggung jawab lingkungan dari tingkat komunitas.
Foto: Dok Pribadi/Natera

Pagi belum terlalu panas ketika seorang ibu datang membawa dua karung besar ke halaman Bank Sampah Malang. Isinya botol plastik, kardus bekas belanja daring, dan beberapa kaleng minuman. Ia tak langsung pulang. Karung itu ditimbang, isinya dipilah ulang, lalu seorang petugas membuka buku tabungan berwarna kusam miliknya. Angka ditulis pelan. Bukan nominal uang yang ia setor, melainkan kilogram sampah. Di tempat inilah sampah kehilangan identitas lamanya sebagai benda sisa. Ia berubah menjadi data.

Timbangan yang Tak Pernah Bohong

Di BSM, semua cerita selalu dimulai dari timbangan. Setiap hari, sampah dari warga, sekolah, hingga komunitas datang silih berganti. Dalam sebulan, jumlahnya tak kecil  sekitar 15–17 ton sampah anorganik tercatat masuk ke sistem BSM.

“Angka itu bukan perkiraan. Semuanya yang masuk kami timbang dan kami catat,” ujar Isa, teller sekaligus admin Bank Sampah Malang.

Pencatatan itu rinci. Plastik, kertas, logam, kaca, hingga minyak jelantah total 73 jenis item masing-masing punya kategori dan harga tersendiri. Bagi BSM, ketelitian ini bukan soal administrasi semata, melainkan fondasi pengelolaan.

“Kalau sudah masuk sini, harus jelas. Beratnya berapa, nilainya berapa, dan akan dikirim ke mana,” ujarnya.

Sampah yang Tidak Langsung ke TPA

Menariknya, seluruh sampah yang masuk ke BSM dapat dikelola. Tidak ada residu yang langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) dari jalur ini. Setelah disortir ulang, sampah didistribusikan ke berbagai industri daur ulang kertas ke pabrik kertas, botol plastik ke pengolah plastik, kaca dan logam ke jalurnya masing-masing.

“Yang masuk ke BSM itu semuanya terkelola. Dari sini langsung kami kirim ke industri daur ulang,” ujar Isa.

Artinya sederhana tapi penting,15–17 ton sampah per bulan berhenti di BSM, bukan di TPA. Di tengah krisis daya tampung TPA, angka ini mungkin tampak kecil. Tapi bagi BSM, ini tentang konsistensi. Tentang membuktikan bahwa sampah bisa “berhenti di tengah jalan” jika dikelola dengan benar.

Buku Tabungan yang Mengubah Cara Pandang

Bagi warga, pencatatan di BSM terasa akrab. Mirip bank biasa. Ada buku tabungan. Ada saldo. Ada waktu pencairan.

Setiap kali setor, sampah ditimbang dan dikonversi menjadi rupiah sesuai jenisnya. Nilai itu masuk ke buku tabungan bisa atas nama pribadi, keluarga, RT, sekolah, atau komunitas. Tidak ada kewajiban setor rutin. Ada yang datang sebulan sekali, ada yang hanya saat sampah sudah menumpuk di rumah.

Tabungan bisa dicairkan minimal sebulan setelah penyetoran. Sebagian warga memanfaatkannya untuk kebutuhan rumah tangga. Sebagian lain memilih membiarkannya terkumpul.

Di titik ini, sampah berhenti menjadi sesuatu yang menjijikkan. Ia berubah menjadi simpanan.

Data yang Bicara tentang Perilaku

Bagi BSM, buku tabungan bukan sekadar arsip transaksi. Ia adalah peta perilaku warga.

Dari catatan itu terlihat pola plastik dan kertas masih mendominasi setoran. Cerminan gaya hidup urban yang tak lepas dari kemasan. Namun, data juga menunjukkan perubahan: semakin banyak warga yang memilah sejak dari rumah, semakin sedikit yang membakar sampah, dan semakin banyak yang memilih menyetor daripada membuang.

Perubahan ini tak datang dari larangan keras, melainkan dari insentif sederhana: sampah punya nilai jika diperlakukan dengan benar.

Lebih dari Sekadar Angka

Sebagian sampah tak langsung dikirim ke industri. Ada yang berhenti di tangan warga dan berubah bentuk. Bungkus kopi menjadi tas. Tutup botol jadi tikar. Limbah kemasan menjadi produk kerajinan.

BSM hanya menjadi etalase dan penghubung. Keuntungan utama tetap kembali ke pembuatnya. Pencatatan tetap berjalan bukan hanya soal sampah yang dijual, tapi juga tentang nilai yang berputar di masyarakat.

Menabung Masa Depan dari Hal yang Kita Buang

BSM sadar, keberadaannya belum serta-merta menurunkan volume sampah kota secara drastis. Tapi mereka memilih fokus pada hal yang lebih mendasar mengubah cara pandang.

“Kuncinya itu mindset. Sampah jangan dilihat sebagai sesuatu yang menjijikkan, tapi punya nilai dari sisi sosial, ekonomi, dan pendidikan,” kata Isa

Di halaman BSM, cerita itu terus berulang setiap hari. Dimulai dari karung-karung kusam, berakhir dibuku tabungan. Dari kebiasaan kecil itulah, perlahan cara kota memperlakukan sampah mulai berubah.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.