
Foto : Dok Pribadi/Natera
Pagi di Kota Malang sering menyisakan cerita tentang sampah. Di sungai, seringkali kita melihat plastik tersangkut di bebatuan, atau botol kosong yang terdampar di pantai selatan, dan kumpulan plastik sampah di sela permukiman.
Di tengah kondisi itu, ada sekelompok anak muda memilih tidak berpaling. Mereka memungut sampah, menyusuri medan berat, dan mengajak warga ikut bergerak bersama.
Trash Hero Tumapel tumbuh bukan sebagai komunitas pungut sampah semata. Mereka hadir sebagai ruang bertindak bagi mereka yang resah melihat lingkungannya terus tertekan. Sejak awal berdiri, komunitas ini rutin turun ke lapangan, dari sungai hingga pantai, dengan semangat kerelawanan yang bertahan hingga kini.
Teladan di Balik Aksi Trash Hero Tumapel
Di balik gerak kolektif Trash Hero Tumapel itu, berdiri sosok Coqi Basil, atau yang akrab disapa Basil. Kepeduliannya pada lingkungan tidak muncul tiba-tiba ketika ia menjadi ketua komunitas tersebut pada 2022. Ia menumbuhkan kesadaran itu sejak lama, bahkan sejak masa kanak-kanak.
Ada sebuah cerita kecil yang ia bagikan kembali ke Tim Natera. Saat masih taman kanak-kanak, Basil mengikuti lomba pidato di Surabaya dengan tema “ketika kamu jadi presiden, kamu akan ngapain”.
Ketika peserta lain berbicara tentang kekuasaan dan program besar, Basil kecil memilih jawaban sederhana. Ia hanya ingin menjadi teladan.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Jawaban itu secara tak langsung membentuk jalan hidupnya. Basil memang tidak menjadi presiden. Namun hingga kini ia menempatkan dirinya di barisan depan, memberi contoh lewat tindakan nyata.
Sejak menjadi mahasiswa, ia aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan hingga akhirnya dipercaya memimpin Trash Hero Tumapel.
Bagi Basil, isu lingkungan tidak bisa berhenti sebagai wacana. Ia harus hadir di lapangan, menyentuh tanah, dan melibatkan banyak orang. Prinsip itulah yang terus ia pegang hingga hari ini.
Apa yang Telah Mereka Lakukan?
Trash Hero Tumapel berdiri pada 4 Februari 2018. Di Jawa Timur, hanya ada dua chapter Trash Hero, yakni di Pacitan dan Malang. Kehadiran komunitas ini menjawab kebutuhan bagi mereka yang resah akan lingkungan di Malang.
Pada masa itu, Malang belum banyak memiliki wadah lingkungan yang cukup representatif. Padahal, semangat anak muda untuk bergerak sedang tumbuh-tumbuhnya.
“Tahun 2018 menjadi periode ketika banyak organisasi dan komunitas lingkungan baru bermunculan.”
Di Malang sendiri, hanya ada beberapa komunitas lingkungan lahir dalam rentang saat itu. Trash Hero Tumapel muncul di tengah gelombang tersebut, lalu memilih fokus pada aksi langsung yang konsisten dan terbuka untuk siapa pun.
Seiring waktu, kegiatan mereka terus berkembang. Jumlah relawan meningkat, lokasi aksi meluas, dan partisipasi publik semakin terasa. Salah satu momen terbesar terjadi pada akhir 2018, saat mereka menggelar aksi bersih pantai.
Selain momen tersebut, Trash Hero Tumapel biasanya mengumpulkan sekitar 100 hingga 200 relawan dalam setiap kegiatan. Angka itu menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat untuk terlibat dalam aksi lingkungan.

Foto : Dok Trash Hero Tumapel/Kegiatan Clean Up
Namun, medan aksi tidak selalu ramah. Jika pantai menawarkan ruang terbuka luas, sungai-sungai di Malang justru menghadirkan tantangan tersendiri.
“Nah, hampir semua medan sungai di malang itu berat sih. Karena… Naik turun curam, licin.”
Kondisi tersebut membuat tim sulit mengaudit sampah secara menyeluruh. Banyak sampah tersangkut di titik yang sulit dijangkau, tersembunyi di balik semak atau endapan lumpur. Meski begitu, mereka tetap memilih hadir di lokasi-lokasi tersebut.
Basil dan relawan lain percaya bahwa perjuangan ini tidak semata tentang jumlah karung sampah yang terkumpul. Mereka ingin membangun kesadaran jangka panjang, terutama di kalangan warga sekitar lokasi aksi.
Seperti jawaban Basil kecil dalam lomba pidato dulu, menjadi teladan tetap menjadi kunci. Di tengah krisis lingkungan yang semakin kompleks, Trash Hero Tumapel menunjukkan bahwa perubahan bisa bermula dari tindakan sederhana, memungut, merawat, dan mengajak orang lain bergerak bersama.