Dari Dapur ke Selokan, Kebiasaan yang Dianggap Biasa

Deretan botol berisi minyak jelantah dikumpulkan sebagai bagian dari upaya mengalihkan limbah dapur yang kerap dibuang ke berbagai tempat. Praktik ini merekam kebiasaan sehari-hari yang selama ini dianggap sepele, namun berdampak pada lingkungan.
Foto: Dok Pribadi/Natera

Setiap sore, selepas aktivitas dapur selesai, botol plastik berisi minyak goreng bekas kerap diletakkan begitu saja di sudut rumah. Warnanya kehitaman, aromanya tajam. Bagi sebagian orang, nasibnya sudah jelas dibuang ke selokan atau dicampur dengan sampah. Praktik ini berlangsung lama, diwariskan dari satu kebiasaan ke kebiasaan lain, tanpa pernah benar-benar dipikirkan dampaknya.

Bagi banyak keluarga, membuang jelantah adalah bagian dari rutinitas dapur sesuatu yang dilakukan otomatis, tanpa rasa bersalah, tanpa pertanyaan.

Kegelisahan yang Melahirkan PALIM

Kebiasaan itulah yang kemudian mengusik PALIM. Komunitas yang menamai dirinya Pahlawan Limbah ini lahir bukan dari gagasan besar tentang krisis iklim, melainkan dari kegelisahan sederhana, mengapa minyak goreng bekas selalu berakhir sembarangan, padahal jumlahnya terus bertambah setiap hari?

PALIM melihat jelantah bukan sebagai limbah mati, tetapi sebagai titik awal perubahan asal ada yang mau mengumpulkan dan menjelaskannya.

Jeriken, Motor, dan Jalan Panjang Edukasi

Hari Supriyatno memulai langkah PALIM hampir tujuh tahun lalu dengan cara yang sangat sederhana. Tanpa sistem rapi, tanpa jaringan luas, ia hanya berbekal sepeda motor dan jeriken kosong. Ia mendatangi warung-warung kecil, rumah tangga, dan dapur-dapur warga.

“Banyak yang heran, ngapain minyak kotor dikumpulin,” ujar Hari. Penolakan, kecurigaan, bahkan cibiran menjadi bagian dari keseharian awal PALIM.

Bercerita untuk Mengubah Persepsi

Menghadapi respons itu, PALIM tidak memilih jalan konfrontatif. Mereka memilih bercerita. Tentang got yang mampet karena minyak, tentang bau menyengat saat hujan turun, tentang tanah yang tak lagi menyerap air dengan baik. Cerita-cerita kecil yang dekat dengan pengalaman warga.

Pendekatan ini perlahan membuka ruang dialog. Isu lingkungan yang sebelumnya terasa jauh mulai terasa dekat, karena berangkat dari masalah yang ada di depan rumah sendiri.

Antara Kebiasaan Lama dan Kesadaran Baru

Di lapangan, PALIM kerap berhadapan dengan dilema ekonomi. Jelantah masih sering digunakan berulang kali karena dianggap sayang jika dibuang. Risiko kesehatan dan lingkungan kerap kalah oleh kebutuhan sehari-hari.

“Ada yang bilang, masih bisa dipakai kok,” ujar Hari. Dari situ PALIM menyadari, mengubah kebiasaan tidak cukup dengan informasi ia butuh kesabaran dan kehadiran berulang.

Satu Liter yang Mengubah Pola

Perubahan mulai terlihat dari hal-hal kecil. Dari satu liter jelantah yang disimpan, lalu bertambah perlahan. PALIM dengan sengaja tidak menetapkan batas minimal pengambilan. Satu liter tetap dijemput, tanpa biaya.

Kebijakan ini memang tidak efisien secara ekonomi. Namun justru dari situ kepercayaan tumbuh. Warga mulai merasa bahwa apa yang mereka lakukan sekecil apa pun dianggap berarti.

Edukasi yang Hadir sebagai Obrolan

Dalam berbagai kesempatan sosialisasi, PALIM memilih pendekatan ringan. Edukasi dikemas sebagai obrolan santai, kadang diselingi permainan kecil. Tidak ada nada menggurui, tidak ada tuntutan.

Cara ini membuat pesan lebih mudah diterima. Jelantah tidak lagi dibicarakan sebagai masalah besar, tetapi sebagai bagian dari keseharian yang bisa diubah bersama.

Saat Kepercayaan Mulai Tumbuh

Perlahan, perubahan itu terasa. Warga mulai menyimpan minyak bekas di botol plastik. Warung-warung kecil menunggu jadwal penjemputan. Kecurigaan yang dulu muncul mulai bergeser menjadi kebiasaan baru.

Kepercayaan tumbuh bukan karena janji besar, tetapi karena konsistensi datang tepat waktu, menjemput tanpa syarat, dan terus menjelaskan dengan cara yang sama.

Perubahan yang Tidak Instan

Kini, ratusan liter minyak jelantah dapat terkumpul setiap hari. Angka itu tidak berdiri sendiri. Ia merekam perubahan cara berpikir dari membuang menjadi menyimpan, dari abai menjadi peduli.

“Kami nggak muluk-muluk. Kalau orang sekarang mikir dua kali sebelum buang jelantah, itu sudah cukup,” ujar Hari.

Dari Dapur Kecil, Perubahan Bergerak

Perjuangan PALIM tidak datang dengan teknologi canggih atau kampanye besar. Ia hadir lewat jeriken, motor, dan kesabaran mendengar cerita warga. Dari dapur-dapur kecil, perubahan itu bergerak perlahan mengubah minyak bekas yang dulu dianggap tak berguna menjadi bagian dari solusi lingkungan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.