
Foto: Dok Pribadi/Natera
Pagi itu halaman rumah di Blimbing terasa seperti ruang kecil yang menampung hutan dalam versi mini. Tanaman tumbuh di mana-mana di pot tanah liat, di pinggir teras, bahkan merambat di pagar. Di tengah rimbun itu, Cecilia Triputri Wardhani berjalan pelan sambil memperhatikan daun-daun yang ia rawat seperti sahabat lama. Setiap helai punya peran dalam hidupnya, terutama sejak ia menekuni ecoprint dan menjadikannya bahasa personal untuk bercerita tentang alam.
Ketertarikan Dengan Alam dan Tanaman
Kecintaannya pada tanaman bukan muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dengan kebiasaan memegang daun, mengenali tekstur batang, dan memperhatikan bagaimana cahaya matahari jatuh pada permukaan daun tertentu. “Awal mulanya karena saya memang senang tanaman,” katanya dalam wawancara yang kami rekam di rumahnya.
Dari rasa suka itulah ia tanpa sadar membangun hubungan yang lebih dalam dengan alam, hubungan yang kelak memengaruhi cara ia melihat sampah, warna, motif, bahkan masa depan.
Ecoprint datang seperti panggilan. Pada awal 2019, ia diajak seorang teman untuk melihat proses mencetak motif menggunakan daun. Bukan sekadar teknik kreatif, ecoprint memperlihatkan keajaiban kecil: getah daun, serat alami, dan pigmen yang bisa berpindah ke kain tanpa polusi berlebihan. Saat pertama kali melihat hasilnya, Cecilia mengaku jatuh hati. “Karena saya senang tanaman, waktu tahu hasilnya seperti itu… itu yang bikin saya senang,” ujarnya seraya tertawa kecil.
Sejak saat itu, daun bukan hanya daun. Ketepeng kebo, jati, kayu putih, bahkan daun mentor yang hanya tumbuh di Malang menjadi bahan eksplorasi artistik. Ia mulai berburu daun setiap pagi sebelum embun menguap. “Kalau siang sedikit saja, hasilnya bisa leber,” katanya, menggambarkan bagaimana motif akan rusak jika getah daun sudah tercampur air hujan atau terlalu kering.
Pencarian daun baginya seperti meditasi: menyentuh tanah, memilih helai terbaik, dan mengenali karakter tanaman satu per satu.
Setiap motif yang ia hasilkan bukan sekadar estetika. Cecilia selalu menulis narasi kecil tentang jenis daun, asalnya, dan maknanya yang ditempel pada setiap produk. Itu sebabnya brand ecoprint miliknya ia beri nama Trilogic, terinspirasi dari kata “trilogi”: rangkaian cerita yang tak pernah selesai. “Cerita itu nggak berhenti di saya. Orang yang beli bisa terus menceritakannya ke orang lain,” katanya.
Workshop Ecoprint untuk Darma Wanita
Suatu hari kecintaannya pada tanaman membawanya ke ruang yang berbeda, sebuah workshop untuk Darma Wanita, tempat para ibu dari berbagai organisasi berkumpul. Di sana ia tidak hanya membawa kain, daun, dan alat steamer, tetapi juga membawa gagasan bahwa alam dapat menjadi guru paling murah dan paling jujur.
Ia memperlihatkan bagaimana daun jati dapat menjadi pola cokelat keemasan, atau bagaimana mentor meninggalkan jejak eksotis yang tak dimiliki flora lain di Indonesia. Reaksi para peserta beragam, kagum, takjub, dan tak percaya bahwa motif seindah itu berasal dari halaman rumah mereka sendiri.
Banyak yang tidak menyangka bahwa daun-daun yang biasanya mereka sapu dari halaman bisa berubah menjadi motif cantik di atas kain. Workshop itu bukan sekadar praktik kreativitas itu adalah ajakan untuk memperlambat langkah, untuk menunduk melihat tanah, dan menyadari bahwa keindahan sering muncul dari sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Cecilia mengenang momen itu sebagai salah satu yang paling berkesan. “Karena kalau kita sudah cinta lingkungan, pasti otomatis kita merawatnya,” ujarnya pada sesi wawancara, menegaskan bahwa workshop itu bukan hanya tentang teknik, melainkan tentang menanamkan rasa dekat dengan alam.
Ia percaya bahwa perubahan tidak selalu lahir dari kebijakan besar, kadang cukup dari satu orang yang jatuh cinta pada satu helai daun.
Di ruang kerjanya, ia memperlihatkan kain-kain hasil ecoprint yang tergantung rapi. Ada motif jati seperti bayangan hutan kecil, motif ketepeng kebo yang terlihat seperti lukisan tinta, dan motif mentor yang menjadi favoritnya karena hanya ada di Malang. Menurutnya, keindahan ecoprint terletak pada ketidakterdugaan. “Beda tangan itu beda hasil. Beda lokasi juga beda,” jelasnya sambil menunjuk dua kain dengan daun sama namun hasil berbeda.
Bagi Gen Z yang tumbuh di era digital serbacepat, kisah Cecilia terasa seperti pengingat penting bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari perangkat digital, kadang ia tumbuh dari daun yang jatuh, dari hal-hal yang tidak kita perhatikan dalam keseharian.
Ecoprint bukan hanya teknik, tapi cara mencintai alam dalam bentuk paling sederhana menggunakan apa yang sudah tersedia, tanpa merusak.
Kini, Cecilia masih bangun di pagi hari, menyiram tanaman, memeriksa daun satu per satu, lalu mulai bekerja. Tapi ia tak lagi hanya seorang pengrajin, ia seorang pencerita yang menggunakan daun sebagai tinta. Dan dari halaman kecil di Blimbing itu, ceritanya terus menyebar melalui workshop, motif, narasi, dan setiap orang yang membawa pulang selembar kain yang lahir dari cinta pada alam.