
Foto: Dok Pribadi/Natera
Kota Malang — Hai Naters! Pernah nggak sih berfikir ke mana perginya sampah yang kita buang setiap hari? Di balik Kota Malang yang bersih dan tertata, berdiri satu lokasi yang jadi “paru-paru terakhir” sistem persampahan kota ini – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang di Kelurahan Lesanpuro. Berdiri sejak 1992, lahan seluas 32 hektar ini kini menjadi satu-satunya TPA aktif setelah tiga TPA lain ditutup karena overload.
Namun, di balik gunungan sampah yang terlihat biasa, TPA Supit Urang ternyata menyimpan kisah kerja sama internasional, teknologi canggih dari Jerman, dan ambisi Indonesia menuju pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Sejak 2017, Kota Malang terpilih menjadi salah satu dari empat kota di Indonesia – bersama Jombang, Sidoarjo, dan Jambi yang mendapat program ERIC SWM (Emission Reduction in Cities – Solid Waste Management). Program ini merupakan kerja sama antara Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR dan Pemerintah Jerman, yang bertujuan menekan emisi karbon dari pengelolaan sampah perkotaan.
Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia mendapatkan bantuan teknis dan pendanaan dari KfW (Kreditanstalt für Wiederaufbau) bank pembangunan asal Jerman untuk membangun sistem pengelolaan sampah modern. Menurut Direktorat Cipta Karya PUPR, pengembangan sistem sanitary landfill di TPA Supit Urang mulai dikerjakan sejak Juli 2018. Proyek ini menggunakan desain dan peralatan dari Jerman dengan nilai investasi sekitar Rp 230 miliar.
“Program ERIC-SWM ditujukan untuk memberikan kontribusi terhadap strategi perubahan iklim di Indonesia, khususnya di daerah perkotaan melalui investasi fasilitas pengolahan sampah rumah tangga yang ramah lingkungan dan higienis.” Arif Dermawan
Dengan sistem baru ini, TPA Supit Urang resmi bertransformasi dari open dumping site menjadi sanitary landfill, metode yang menimbun sampah secara berlapis, dilengkapi sistem drainase gas metana dan pengolahan air lindi agar tidak mencemari tanah maupun sungai.
Setiap hari, 160 truk dari berbagai wilayah Kota Malang membawa total 490 ton sampah ke TPA Supit Urang. Padahal potensi timbulan sampah kota mencapai 740 ton/hari, dan sekitar 240 ton lainnya belum tertangani secara resmi (Hasil liputan lapangan, 2025). Sebelum masuk area pengolahan, truk-truk itu akan melewati jembatan timbang digital berbasis Waste Information System (WIS) software otomatis yang mencatat berat dan sumber sampah secara real-time.
Di dalam area pemilahan, 25 pekerja memilah 9 jenis sampah anorganik, mulai dari plastik putih, logam, hingga kertas. Sampah organik dari pasar dan taman kota diolah menjadi 15 ton pupuk kompos per hari. TPA Supit Urang juga memiliki instalasi Landfill Treatment Plant (LTP), tempat pengolahan air lindi (leachate) yang melalui tiga tahap filtrasi dan ozonisasi. Air hasil olahan ini digunakan untuk irigasi tanaman seperti eceng gondok, yang sekaligus menjadi indikator kebersihan air.
Menurut laporan Pikiran Rakyat Malang Raya, sistem sanitary landfill di TPA Supit Urang dibagi menjadi empat zona besar:
- Zona pemilahan – memilah sampah organik dan anorganik.
- Zona pengomposan – mengubah sampah organik menjadi pupuk.
- Zona penimbunan saniter – menimbun sampah anorganik dengan lapisan pelindung tanah dan geomembran.
- Zona pengolahan lindi – mengolah air buangan hingga layak untuk tanaman.

Sistem ini memastikan bahwa proses penimbunan sampah tidak lagi menghasilkan polusi air dan udara sebesar sebelumnya. Selain itu, gas metana yang dihasilkan dari tumpukan organik dikumpulkan dan dialirkan agar tidak menimbulkan risiko kebakaran atau ledakan.
Walau sistemnya sudah modern, TPA Supit Urang menghadapi ancaman serius. Berdasarkan data lapangan, area 32 hektar tersebut diperkirakan tidak dapat beroperasi lagi setelah akhir 2026 jika tidak ada perluasan zona baru atau perubahan pola pengolahan sampah. Kondisi ini menandakan bahwa meskipun teknologi membantu mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi, peran masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah tetap kunci utama. Program ERIC SWM menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi lintas negara bisa menghadirkan dampak langsung bagi kehidupan warga.
Bagi pekerja di TPA Supit Urang, teknologi Jerman bukan sekadar alat, tapi bagian dari upaya menjaga agar kota ini tetap punya “ruang bernafas”.
Namun dari kaca mata Natera, perubahan besar tidak lahir hanya dari alat canggih – tetapi dari kesadaran warga untuk tidak membuang masa depan mereka bersama sampah hari ini. Dari satu truk ke truk berikutnya, dari satu ton ke ton berikutnya perubahan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil yang tidak dibuang percuma.