
Foto: iLitterless
Pagi itu, deretan kotak susu bekas tersusun rapi di sudut sebuah kafe di Kota Malang. Bukan menunggu dibuang, melainkan dijemput. Anak-anak muda yang biasanya datang untuk ngopi kini terbiasa membilas, mengeringkan, lalu menyimpan kemasan bekas konsumsi mereka. Di titik inilah iLitterless bekerja mengubah kebiasaan santai menjadi aksi kecil yang berdampak.
iLitterless tidak lahir dari ruang rapat atau konsep besar yang rumit. Gerakan ini berangkat dari kegelisahan personal para pendirinya yang melihat betapa masifnya sampah dari aktivitas harian, terutama nongkrong di kafe. Dari situ, muncul kesadaran bahwa perubahan justru paling mungkin dimulai dari lingkaran terdekat, yakni anak muda dan ruang yang akrab dengan mereka.
Anak Muda sebagai Wajah Gerakan
Sejak awal, iLitterless menempatkan anak muda bukan sekadar peserta, tetapi wajah utama gerakan. Mahasiswa, pekerja muda, hingga komunitas nongkrong menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari mereka. Media sosial dipilih sebagai ruang utama untuk berkomunikasi, berbagi cerita, sekaligus mengajak lebih banyak orang terlibat.
“Founder kami selalu bilang, ini harus jadi organisasi anak muda. Bukan soal umur, tapi semangatnya,” ujar Nina. Menurutnya, cara berpikir yang cair, visual yang ringan, dan bahasa yang akrab membuat isu sampah terasa lebih dekat dengan keseharian Gen Z.
Pendekatan ini membuat iLitterless cepat diterima. Banyak anak muda yang awalnya hanya ikut kampanye daring, kemudian datang langsung untuk menyetor sampah atau membantu aktivasi di kafe dan kampus.
Mulai dari yang Paling Mudah
Alih-alih menuntut pemilahan sempurna sejak awal, iLitterless memilih langkah paling realistis. Anak muda diajak memulai dari satu jenis sampah yang paling sering mereka hasilkan. Botol minuman, kemasan kopi, atau skincare menjadi pintu masuk.
“Kalau langsung disuruh pilah banyak jenis, orang bisa mundur. Jadi kami ajak mulai dari yang paling gampang dan paling sering mereka pegang,” ujar Nina. Dari kebiasaan kecil itulah, perlahan muncul kesadaran untuk memilah lebih rapi dan bertanggung jawab pada sampah sendiri.
Pendekatan ini terbukti efektif. Sampah yang disetorkan anak muda semakin bersih, kering, dan terpilah. Bahkan, ada yang mulai melepas label kemasan sebelum disetor tanda bahwa proses belajar benar-benar terjadi.
Aksi yang Dibuat Fun dan Relevan
iLitterless sadar bahwa konsistensi adalah tantangan terbesar dalam melibatkan anak muda. Karena itu, mereka merancang aktivitas yang fun dan relevan dengan gaya hidup Gen Z. Event setor sampah dibalut dengan konsep ngopi bareng, aktivasi kampus, hingga kampanye tahunan yang memberi reward sederhana.
“Anak muda itu semangatnya bisa naik turun. Jadi kami bikin ruang yang nyaman, fun, dan tidak menggurui,” kata Nina. Reward seperti voucher kopi atau apresiasi di media sosial dianggap cukup untuk menjaga semangat tetap hidup.
Cara ini membuat pilah sampah tidak terasa sebagai beban moral, melainkan bagian dari gaya hidup yang bisa dibanggakan.
Lebih dari Sekadar Setor Sampah
Bagi iLitterless, keterlibatan anak muda tidak berhenti pada angka kilo sampah yang terkumpul. Yang lebih penting adalah perubahan cara pandang. Anak muda mulai menyadari bahwa sampah yang mereka hasilkan mencerminkan pola konsumsi mereka sendiri.
Gerakan ini perlahan meluas ke lingkaran yang lebih besar. Anak muda membawa kebiasaan pilah sampah ke kos, rumah, bahkan ke komunitas pertemanan mereka. Dari satu orang ke orang lain, praktik kecil ini menyebar tanpa paksaan.
Di tengah kompleksnya persoalan sampah perkotaan, iLitterless menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal yang sangat dekat dengan keseharian Gen Z. Dari meja kopi, unggahan Instagram, dan obrolan santai, anak muda diajak terlibat bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku utama perubahan.