Dari Sampah ke Panggung Nasional: Yust Collection Mengubah Limbah Menjadi Kebanggaan Negeri

Produk Fashion Yust Collection Berbahan Dasar Kain Sisa
Foto: Dokumentasi Pribadi/Natera

Di sebuah gang tenang di Kelurahan Bunul, Kota Malang, terdapat sebuah rumah sederhana yang setiap hari dipenuhi suara gunting, lipatan kertas, dan obrolan ringan warga. Dari tempat itulah Yust Collection tumbuh bukan sekadar sebagai UMKM daur ulang, tetapi sebagai ruang kreatif yang telah membawa karya berbahan sampah ke panggung nasional. Berdiri sejak 2017, usaha yang digagas Bu Yustin ini berhasil membuktikan bahwa limbah non-logam dapat menjelma menjadi kostum megah dan tas karya seni yang siap bersaing di Jakarta hingga Bali.

Semua bermula dari keaktifan Bu Yustin dalam Karang Taruna. Pada suatu peringatan Hari Kartini di lingkungannya, ia melihat kerajinan daur ulang yang terasa kurang maksimal. Dari rasa penasaran itu muncul tekad kuat dalam dirinya, ia ingin membuat versi yang lebih baik, lebih rapi, dan lebih bernilai. Sesampainya di rumah, ia mengumpulkan sepuluh jenis sampah, memasukkannya ke dalam kardus, dan mengolahnya menjadi beragam produk. Siapa sangka, eksperimen kecil itu menjadi awal perjalanan panjang Yust Collection.

Keahliannya kemudian terasah lewat pelatihan di Bank Sampah Malang (BSM). Selama tiga tahun bergabung, Bu Yustin belajar memahami jenis sampah, cara mengolahnya, hingga akhirnya didapuk sebagai instruktur daur ulang. Dari titik itu, aktivitasnya tak lagi terbatas pada membuat karya sendiri, ia mulai mengajar, mengisi pelatihan, dan menginspirasi banyak warga untuk ikut terlibat dalam gerakan pengelolaan sampah.

Ketika warga mulai mengetahui bahwa sampah bersih mereka bermanfaat bagi pelatihan, rumah Bu Yustin berubah menjadi titik kumpul limbah non-logam. Plastik kemasan, koran, majalah, kain perca, bungkus detergen, hingga CD rusak berdatangan setiap hari. Di ruang kerjanya yang sempit, semua bahan itu dipilah, dicuci, dilinting, dirajut, digunting, lalu disusun menjadi karya baru. Tak jarang, ia juga memadukan teknik batik tulis yang ia kuasai.

Kegiatan pemberdayaan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Yust Collection. Bu Yustin secara rutin memberikan pelatihan gratis setiap bulan, khususnya bagi warga satu RW yang ingin belajar membuat kerajinan.

 “Jadi aku tiap sebulan sekali itu ngasih pelatihan gratis di RW sini. Terus yang kedua itu untuk produksi aku sendiri,” tuturnya.

Dari sini, terbentuk jaringan kecil perajin lokal yang bekerja dari rumah masing-masing. Ada yang ahli melinting kertas, ada yang mahir merajut kresek, ada pula yang telaten mengolah botol bekas. Kolaborasi ini membuat produksi Yust Collection berjalan konsisten sekaligus memberi tambahan penghasilan bagi warga.

Produk Tas “Tsuy”
Foto: Natera

Meski dikenal lewat tas-tas uniknya, Yust Collection pernah mencapai pencapaian yang jauh lebih besar dari sekadar produk sehari-hari, yaitu kostum panggung skala nasional. Salah satu pencapaian terbesar adalah ketika Bu Yustin diminta membuat kostum daur ulang untuk Polwan yang akan dibawa ke Jakarta dalam Jambore Indonesia Bebas Sampah. Kostum tersebut mengangkat tema wayang, dengan detail rumit, warna cerah, serta ornamen yang seluruhnya berasal dari limbah plastik dan koran. Lebih mengejutkan lagi, kostum megah itu berhasil diselesaikan hanya dalam sepuluh hari.

“Waktunya dua minggu, tapi sepuluh hari sudah jadi,” kenangnya.

Karya itu bukan hanya dipuji, tetapi juga meraih prestasi. Kostum tersebut dinobatkan sebagai juara favorit dan berlanjut mengikuti kompetisi di Bali pada ajang Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah (JIBBS), di mana ia kembali menorehkan prestasi sebagai The Best Costume. Prestasi itu menjadi bukti bahwa kreativitas berbasis lingkungan dapat bersaing di tingkat nasional bahkan mampu mengungguli kostum-kostum produksi profesional.

Seiring berjalannya waktu, Yust Collection semakin matang. Bu Yustin mulai fokus pada produksi tas, dompet, dan aksesori, sementara produksi kostum dihentikan pada 2024 karena memakan ruang dan waktu yang besar. Namun jejak kejayaannya tetap membekas. Banyak sekolah, komunitas modeling, hingga dinas pemerintah yang masih mengakui kualitas karyanya bahkan beberapa institusi sekolah membeli kostumnya sebagai inventaris setelah memenangi lomba.

Kini, Yust Collection tidak hanya menjadi UMKM daur ulang kreatif. Ia menjadi simbol gagasan bahwa sampah bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan peluang yang bisa dikelola menjadi karya bernilai ekonomi dan sosial. Dengan pelatihan rutin, kolaborasi bersama warga, dan dukungan pemerintah, Yust Collection terus memproduksi karya ramah lingkungan yang fungsional dan estetis.

Perjalanan Bu Yustin adalah bukti bahwa perubahan besar bisa lahir dari ruang kecil. Dari sampah yang dikumpulkan warga, dari jemari yang sabar melinting kertas, dari kresek yang dirajut, hingga dari keteguhan seorang perempuan yang percaya bahwa kreativitas dapat menjadi jalan memperbaiki lingkungan. Dan dari rumah sederhana itu, karya Bu Yustin telah menjangkau panggung nasional mengangkat nama kampungnya, sekaligus menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat dimulai dari satu orang yang mau mencoba.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.