Security Menjadi Pahlawan Limbah

pemisahan ampas minyak oleh palim
Hari mengumpulkan minyak jelantah ke penampungan PALIM di Kedungkandang, Kota Malang. Upaya kecil ini menjadi bagian dari ikhtiar panjang mengurangi pencemaran lingkungan.
Foto : Dok Pribadi/Natera.

Kota Malang—Hello Naters! Hari, yang dulunya bekerja sebagai petugas keamanan di Malang, kini menapaki jalan berbeda. Berbekal pinjaman Rp500 ribu, ia membangun PALIM, sebuah usaha pengumpulan minyak jelantah yang berangkat dari keresahan sederhana soal limbah dapur, lalu tumbuh menjadi ikhtiar nyata mengurangi pencemaran lingkungan.

Awal Perubahan

Hari tak pernah membayangkan hidupnya akan berbelok sejauh ini. Bertahun-tahun ia bekerja sebagai security, menjalani shift panjang dengan penghasilan yang pas-pasan hanya cukup untuk makan hari itu, tapi nyaris tak menyisakan ruang untuk bermimpi lebih jauh. Rutinitasnya berjalan datar berjaga, pulang, lalu kembali bekerja esok hari. Di sela lelah, ia sering bertanya pada diri sendiri, apakah hidup akan terus berjalan seperti ini.

Mencari jalan keluar, Hari mencoba peruntungan lain. Ia sempat menjadi sales penjualan rumah, pekerjaan yang menuntut banyak senyum, janji, dan harapan. Tapi kenyataannya tak semudah brosur iklan. Setiap harinya sering dihabiskan tanpa closing, penghasilan tak menentu, dan rasa ragu yang terus mengintai. Dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, Hari belajar satu hal jatuh bangun itu nyata. Hingga akhirnya, dari rangkaian kegagalan itulah, ia menemukan jalan baru yang kelak mengubah hidupnya.

Pada suatu saat ia dibuat kesal dengan wastafel rumahnya yang sering mampet. Penyebabnya sepele hanya karna minyak jelantah yang selama ini ia buang ke saluran air. Kejadian itu membuatnya berpikir bahwa persoalan kecil ini pasti dialami banyak di rumah tangga. Dari keresahan tersebut, lahir ide yaitu dengan mengumpulkan limbah minyak untuk dikelola kembali.

Dengan modal Rp500 ribu hasil pinjaman dari temannya, Hari memulai usaha yang ia beri nama siklus hijau yang kini berubah menjadi PALIM Pahlawan Limbah. Sebuah nama yang sederhana tapi penuh makna mengubah limbah menjadi peluang, sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari kebiasaan membuang minyak sembarangan.

Bertumbuh dari Nol

kumpulan minyak jelantah palim
Jerigen berisi minyak jelantah dipilah satu per satu di belakang rumahnya, sebelum diekspor ke Belanda. Dari ruang sempit itu, limbah dapur memulai perjalanan panjang menuju pemanfaatan ulang.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Hari mulai berkeliling kampung, mendatangi rumah warga, warung makan, dan pedagang gorengan. Ia menawarkan harga Rp5000 per liter untuk minyak jelantah, tanpa memungut biaya penjemputan. Hari percaya bahwa dengan pendekatan ini membuat banyak warga mulai tertarik menjual limbah minyak mereka. Tidak hanya minyak jelantah, Hari juga mengumpulkan tepung kentaki bekas yang ia jual kembali sebagai bahan pakan ternak. Jenis limbah yang selama ini dibuang begitu saja, ternyata bisa menjadi kategori usaha baru pada industri kecil.

Ketekunan itu perlahan membuahkan hasil yang signifikan. Dari yang awalnya hanya mengumpulkan paling banyak 50 dalam satu hari, kini Hari mampu mengumpulkan sekitar 400 liter minyak jelantah setiap harinya. Pertumbuhan ini membuat PALIM membuka dua cabang baru di Malang, tepatnya di Turen dan Blimbing, sehingga jangkauannya semakin luas. Hari mengakui, perubahan usahanya bukan hanya soal uang. Tapi lebih dari pada itu, ada kepuasan tersendiri ketika melihat semakin banyak warga memahami bahwa limbah rumah tangga memiliki nilai dan dampak ekologis.

Menembus Pasar Global

Yang membuat orang orang disekitarnya tercengang ternyata minyak jelantah yang dikumpulkan oleh Hari tidak berhenti di gudang penyimpanan PALIM. Setelah melalui proses penyaringan dan pengolahan dasar yang di lakuan bersama bebberapa karyawanya, minyak tersebut disalurkan ke perusahaan pengolah energi yang ada di palembang. Dari sana, minyak jelantah Malang dikirim ke Belanda untuk dijadikan bahan baku biodiesel. Negara tersebut merupakan salah satu pusat pengembangan energi ramah lingkungan di Eropa, sehingga permintaan minyak jelantah cukup tinggi. Hari merasa bangga ketika mengetahui limbah yang ia kumpulkan dari dapur-dapur warga ternyata memiliki kontribusi dalam industri energi global.

“Awalnya saya hanya ingin saluran air rumah tidak mampet lagi,” ujarnya. “Ternyata limbah ini bisa punya perjalanan sejauh itu.” ujarnya pada Natera

Kini, PALIM bukan lagi usaha sampingan. Ia tumbuh menjadi gerakan lokal yang membantu warga mengelola limbah, membuka lapangan kerja, sekaligus mengurangi pencemaran air dan tanah. Perjalanan Hari menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu datang dari teknologi canggih kadang dimulai dari hal sederhana yang terjadi di rumah sendiri.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.