
foto: Dok Pribadi/Natera
Naters tau gak sih? Tidak banyak orang memulai perjalanan hidup dari setetes minyak jelantah. Namun tujuh tahun lalu, seorang warga Malang bernama Hari justru memulai langkah besarnya dari benda hitam yang sering dianggap sampah itu. Ia mengumpulkan minyak jelantah dari rumah ke rumah, naik sepeda, tanpa modal, tanpa rencana rumit, hanya mengikuti satu hal: kemauan untuk mencoba.
Pengolahan minyak jelantah di Palim bermula dari permintaan kecil seorang teman sebuah langkah sederhana yang kini menjadi bagian penting dari daur ulang minyak jelantah di Malang. Awalnya, temannya menangani bagian pabrik sementara Hari mengurus pengumpulan limbah minyak goreng langsung dari lapangan. Jumlah minyak yang diterima hanya satu hingga dua liter, tetapi rutinitas kecil itu perlahan membentuk sistem pengelolaan jelantah yang kini dikenal sebagai Palim.
Sebelum fokus ke minyak, Hari sempat mengumpulkan ampas tepung Kentucky dari warung kecil. Ampas itu diolah ulang menjadi pakan bebek pedaging. Dari dapur rumah tangga hingga ternak, ia memahami bahwa limbah punya jalan kembali. Yang dibutuhkan hanya seseorang yang bersedia memulai.
Ketika Sepeda Menjadi Awal Sebuah Ekosistem Baru
Tujuh tahun berlalu, dan apa yang dimulai dari kayuhan sepeda kini berubah menjadi salah satu pusat pengumpulan minyak jelantah paling aktif di Malang. Setiap hari, Palim bisa mengumpulkan hingga 400 liter. Truk dari pabrik eksportir datang menjemput minyak yang telah disaring dan disimpan, untuk kemudian diproses menjadi biodiesel dan produk energi lain. Sebuah siklus baru tercipta: dari dapur ke pabrik, lalu menjadi energi. sejalan dengan data bahwa minyak jelantah mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan biodiesel nasional.
Di Malang, hanya dua pengepul yang ramai: Turen dan Palim. Dan berbeda dari banyak pengepul besar yang lebih tertarik mengambil dari hotel atau restoran, Palim memilih bergerak dari sumber-sumber kecil: warung, rumah tangga, bank sampah. Layanan yang diberikan pun sederhana tapi penting: penjemputan gratis dan tidak ada minimal jumlah. Satu liter pun dihargai.
Setiap hari, Hari mengunjungi 20–25 titik. Jika sekali jalan menuju Batu, ia menetapkan target minimal lima lokasi. Efisiensi itu membuat bisnisnya bertahan tanpa harus memaksa orang menyetor dalam jumlah besar. Keluarganya membantu mengatur pembukuan, jadwal penjemputan, hingga edukasi masyarakat. Palim tumbuh sebagai bisnis rumahan yang berjalan dengan prinsip kepercayaan dan konsistensi.
Pelanggan Palim kini beragam: ibu rumah tangga, pedagang kecil, restoran besar, hotel, bank sampah, hingga taman rekreasi seperti Selecta, Hawaii Waterpark, Orchid, dan MBG.
Namun untuk membangun semua itu, ada satu tantangan besar yang harus dihadapi sejak awal: ketidakpercayaan.
Kepercayaan yang Dibangun dari Door to Door dan Cerita yang Jujur
Ketika pertama kali mendatangi warung-warung di Malang, Hari menyadari bahwa sebagian besar warga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada minyak jelantah yang mereka berikan. Ada ketakutan: minyak itu diproses ulang menjadi minyak goreng, dicampur, atau dijual kembali secara ilegal.
Karena itulah, sebelum mengumpulkan minyak, Hari selalu memulai dengan sosialisasi. Ia menjelaskan alur pengolahan minyak, menunjukkan surat resmi dari pabrik eksportir, dan menjawab satu pertanyaan utama: “Minyak ini nanti ke mana?”
Kejujuran itu membangun kepercayaan.
Pernah ada yang menawarkan penukaran minyak jelantah dengan minyak baru. Awalnya disetujui. Namun keputusan itu dihentikan karena menimbulkan risiko: masyarakat bisa salah paham dan menuduh minyak baru tersebut campuran dari minyak jelantah. “Kalau begitu, nama baik bisa hilang,” ujarnya.
sampah, hingga komunitas pecinta lingkungan. Mereka bahkan membawa doorprize supaya warga tertarik mendengarkan. Sosialisasi ini bukan inisiatif satu arah masyarakat sering mengundang sendiri karena ingin memahami siklus minyak jelantah yang lebih bersih.
Selain minyak, Palim juga mengolah ampas tepung Kentucky menjadi pakan bebek pedaging. Prosesnya melibatkan spinner untuk memisahkan minyak, pengeringan, pencampuran ulang, lalu pengiriman ke Blitar. Sementara minyak jelantah Palim dikontrak langsung oleh pabrik eksportir untuk keperluan biodiesel, termasuk pengiriman ke Belanda.
Dua tahun lalu, Hari juga bereksperimen membuat sabun dan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Produk itu tidak dijual, tetapi diberikan kepada pelanggan sebagai bukti bahwa limbah dapur bisa beru