Dari Workshop hingga Aksi Nyata, Anak Muda Mulai Melirik Gaya Hidup Berkelanjutan

Siang itu, sebuah kafe di Kota Malang dipenuhi suara obrolan dan tawa anak-anak muda. Sebagian baru saling mengenal, sebagian lainnya datang sendirian dengan rasa penasaran yang sama ingin tahu bagaimana cara hidup lebih ramah lingkungan tanpa harus mengubah hidup secara drastis.

Di atas meja, selembar kain katun, serpihan lilin lebah, dan alat sederhana telah disiapkan. Hari itu mereka mengikuti workshop pembuatan beeswax wrap, pembungkus makanan berbahan kain dan lilin lebah yang dapat digunakan berulang kali sebagai alternatif plastik sekali pakai.

Bagi sebagian peserta, kegiatan ini adalah pengalaman pertama mengenal produk ramah lingkungan secara langsung. Namun lebih dari sekadar membuat pembungkus makanan, workshop tersebut menjadi ruang belajar yang mempertemukan anak muda dengan isu keberlanjutan yang selama ini sering terdengar jauh dan rumit.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap perubahan iklim, polusi, dan persoalan sampah, semakin banyak generasi muda yang mulai mencari cara untuk berkontribusi. Bukan melalui aksi besar yang sulit dijangkau, melainkan dari langkah-langkah sederhana yang bisa dimulai dari kehidupan sehari-hari.

Ketika Isu Lingkungan Menjadi Dekat dengan Kehidupan Anak Muda

Selama beberapa tahun terakhir, isu lingkungan tidak lagi hanya menjadi topik diskusi para akademisi atau aktivis. Media sosial membuat berbagai informasi tentang krisis iklim, pencemaran, hingga gaya hidup minim sampah semakin mudah diakses oleh generasi muda.

Kesadaran itu juga dirasakan oleh EPYC Indonesia, komunitas yang aktif mengangkat berbagai isu lingkungan dan banyak melibatkan anak muda dalam setiap kegiatannya.

Dalam workshop tersebut, Amalia Zulfa dari EPYC menjelaskan bahwa komunitas mereka tidak hanya berbicara soal gaya hidup hijau, tetapi juga persoalan yang lebih luas seperti krisis iklim, polusi, dan sampah.

“Anggota kami memang kebanyakan anak muda. Tapi isu yang kami bahas bukan hanya green lifestyle, melainkan juga krisis iklim, polusi, sampah, dan berbagai persoalan lingkungan lainnya,” ujarnya saat membuka sesi materi.

Pendekatan seperti ini membuat isu lingkungan terasa lebih relevan. Anak muda tidak lagi hanya mendengar data atau angka tentang kerusakan lingkungan, tetapi juga memahami hubungan antara kebiasaan sehari-hari dengan dampaknya terhadap bumi.

Workshop Menjadi Ruang Belajar yang Menyenangkan

Bagi banyak peserta, workshop menjadi cara belajar yang jauh lebih menarik dibandingkan sekadar membaca artikel atau menonton video edukasi.

Alih-alih hanya mendengarkan teori, peserta diajak langsung mempraktikkan solusi yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya melalui pembuatan beeswax wrap.

Produk ini dibuat dari kain yang dilapisi lilin lebah sehingga dapat digunakan berulang kali untuk membungkus makanan. Selain mengurangi penggunaan plastik pembungkus sekali pakai, beeswax wrap juga memiliki masa pakai yang cukup panjang apabila dirawat dengan baik.

Suasana workshop berlangsung santai. Para peserta aktif bertanya, berdiskusi, bahkan mengkritisi berbagai aspek keberlanjutan dari bahan yang digunakan. Salah satu peserta misalnya menanyakan bagaimana proses pengambilan lilin lebah dilakukan dan apakah proses tersebut aman bagi populasi lebah.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menunjukkan bahwa anak muda saat ini tidak hanya ingin mengikuti tren ramah lingkungan. Mereka juga ingin memahami proses di balik sebuah produk dan memastikan bahwa solusi yang digunakan benar-benar berkelanjutan.

Di era ketika informasi tersedia dalam hitungan detik, generasi muda cenderung lebih kritis terhadap berbagai klaim lingkungan. Mereka ingin mengetahui asal bahan, proses produksi, hingga dampak sosial dan ekologis yang mungkin ditimbulkan.

Dari Komunitas ke Gerakan Bersama

Menariknya, workshop tersebut tidak berdiri sendiri. Kegiatan ini lahir dari kolaborasi antara EPYC Indonesia dan iLitterless, organisasi yang berfokus pada pengelolaan sampah dan edukasi lingkungan.

Sejak berdiri pada 2021, iLitterless aktif bekerja sama dengan puluhan kafe untuk mengumpulkan serta mendaur ulang berbagai jenis sampah seperti kemasan karton minuman dan plastik. Melalui jaringan komunitas dan mitra yang mereka bangun, edukasi lingkungan tidak lagi berlangsung di ruang kelas formal, melainkan hadir di tempat-tempat yang akrab dengan keseharian anak muda.

Kolaborasi semacam ini menjadi penting karena perubahan gaya hidup tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan ruang yang aman untuk belajar, bertanya, mencoba, dan bahkan melakukan kesalahan.

Bagi generasi muda, komunitas sering kali menjadi pintu masuk menuju perubahan tersebut. Dari satu workshop sederhana, seseorang bisa mulai membawa tas belanja sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, atau lebih sadar dalam memilah sampah.

Perubahan itu mungkin terlihat kecil, tetapi ketika dilakukan oleh banyak orang secara bersamaan, dampaknya menjadi jauh lebih besar.

Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks, optimisme justru muncul dari ruang-ruang kecil seperti workshop siang itu.

Anak-anak muda yang hadir datang dari latar belakang berbeda. Ada mahasiswa, pekerja, hingga lulusan baru yang sedang mencari arah setelah menyelesaikan pendidikan. Namun mereka dipertemukan oleh satu kesamaan keinginan untuk belajar dan menjadi bagian dari solusi.

Gerakan gaya hidup berkelanjutan mungkin tidak selalu dimulai dari aksi besar. Kadang ia berawal dari rasa ingin tahu, sebuah percakapan sederhana, atau selembar kain yang dilapisi lilin lebah.

Ketika semakin banyak anak muda bersedia meluangkan waktunya untuk belajar tentang lingkungan, harapan untuk masa depan yang lebih hijau pun ikut tumbuh. Bukan karena mereka mampu menyelesaikan seluruh persoalan lingkungan sendirian, melainkan karena mereka memilih untuk mulai bergerak dari hal-hal yang bisa dilakukan hari ini.

Dan dari ruang workshop yang sederhana itu, perubahan tampaknya memang sedang dimulai.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.