Karya Handmade Disabilitas di Balik Industri Kreatif D’belel

Ardhiana Malrasari, Founder D’belel, menjelaskan proses pembuatan karya handmade yang melibatkan penyandang disabilitas.
Ardhiana Malrasari, Founder D’belel menjelaskan proses produksi dan nilai inklusi di balik karya handmade yang melibatkan penyandang disabilitas.
Foto: Dok Pribadi/ Natera

Blitar – Ardhiana Malrasari, pendiri jenama D’belel, menginisiasi transformasi limbah seragam tambang menjadi tas upcycle bernilai tinggi melalui kolaborasi kreatif bersama penyandang disabilitas dari Rumah Kinasih di Blitar guna menciptakan ekosistem mode yang inklusif. Melalui integrasi kain Batik Ciprat buatan tangan-tangan istimewa ini, D’belel tidak hanya menekan timbulan limbah tekstil, tetapi juga memulihkan martabat dan kemandirian ekonomi kelompok difabel di tengah ketatnya persaingan industri kreatif.

Simfoni Kreativitas Karya Handmade dari Keterbatasan

Di sebuah sudut Kota Blitar, deru mesin jahit bukan sekadar penanda aktivitas produksi, melainkan suara perlawanan terhadap stigma. Ardhiana Malrasari, melalui D’belel, tidak hanya sedang mendaur ulang kain ia sedang merajut kembali eksistensi manusia. Fokus utama gerakan ini adalah kolaborasi dengan teman-teman disabilitas di Rumah Kinasih, Desa Brongkos, yang merupakan produsen utama Batik Ciprat.

“Awalnya mereka bikin batik Ciprat. Saat pandemi, mereka resah karena tidak paham konsep social distancing atau harus lockdown,” kenang Ardhiana. 

Keresahan itu berbuah ide yaitu menggabungkan kain denim usang dari seragam pekerja tambang dengan kain batik karya penyandang disabilitas tersebut agar hasil produksinya tidak monoton.

Pilihan teknik batik ciprat yang dilakukan dengan memercikkan malam secara bebas menggunakan kuas atau lidi dipilih karena sifatnya yang inklusif. Teknik ini memberikan ruang ekspresi bagi teman-teman dengan keterbatasan motorik halus, seperti penyandang tunagrahita atau tunadaksa, untuk berkarya tanpa terbebani kerumitan pola geometris batik klasik. Setiap percikan warna di atas kain bukan sekadar motif, melainkan jejak keberanian mereka menembus batas keterbatasan fisik.

Filosofi di Balik Nama yang “Usang”

Logo D’belel pada karya tekstil handmade berbahan limbah kain hasil produksi inklusif.
Identitas D’belel terpampang pada karya tekstil handmade hasil pengolahan limbah kain yang diproduksi secara inklusif.
Foto: Dok Pribadi/ Natera

Bagi Gen Z yang mengedepankan otentisitas, nama “D’belel” mungkin terdengar edgy. Namun, Ardhiana menjelaskan bahwa ada kedalaman filosofis di balik diksi yang identik dengan barang usang tersebut. Secara harfiah, “belel” dalam bahasa Jawa merujuk pada kondisi kain yang sudah pudar dan lama.

Namun secara akronim, D’belel menyimpan pesan mendalam yaitu Better Environment untuk bumi, Life untuk memberi kehidupan kedua pada material, Empati bagi penyandang disabilitas, dan Love sebagai dasar setiap pengerjaannya.

 “Ternyata nama yang kelihatan jelek itu malah lebih mudah diingat,” ujar Ardhiana. Identitas ini kini menjadi simbol perlawanan terhadap budaya fast fashion yang serba instan dan membuang.

Dan dari foto diatas yang menunjukkan diksi “D’Belel”, dibagian huruf D nya adalah salah satu sentuhan handmade dari penyandang disabillitas.

Urgensi Inklusi dalam Data

Kolaborasi ini muncul sebagai solusi di tengah minimnya ruang bagi kelompok difabel. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat partisipasi angkatan kerja penyandang disabilitas di Indonesia masih jauh di bawah non-disabilitas, di mana banyak dari mereka terjebak dalam sektor informal dengan pendapatan tidak menentu. Kehadiran D’belel yang menyerap kain handmade mereka memberikan kepastian ekonomi yang berkelanjutan.

Dari sisi lingkungan, upaya ini sangat krusial. Industri mode menyumbang sekitar 10% emisi karbon global. Menurut laporan Bappenas mengenai Ekonomi Sirkular, praktik upcycling dapat mengurangi limbah tekstil yang biasanya sulit terurai di TPA. Dengan memadukan denim tambang dan batik ciprat, D’belel memenuhi kriteria Social dan Environmental dalam standar global yang kini sangat diperhatikan oleh konsumen muda yang kritis.

Mengubah Sampah Menjadi Mewah lewat Karya Handmade

Salah satu tantangan terbesar adalah meyakinkan pasar bahwa material dari tambang ini bersih. Ardhiana menerapkan proses sterilisasi yang unik namun ramah lingkungan. Karena limbah seragam tambang seringkali terpapar noda oli yang pekat, ia menggunakan sabun khusus berbahan minyak jelantah.

“Oli itu minyak, jadi harus ketemu pengurai minyak juga. Pakai sabun minyak jelantah ini, bau dan noda langsung hilang, beda dengan deterjen biasa yang hanya memberikan wangi semu,” jelasnya. 

Proses pendedelan atau melepas jahitan seragam pun dilakukan secara manual oleh 10 hingga 20 orang tenaga pendedel lokal, memastikan setiap jengkal kain siap untuk digabungkan dengan Batik Ciprat yang berwarna-warni.

Visualisasi Narasi, Pertemuan Dua Dunia

Tas handmade D’belel dari limbah denim bekas, dibuat dengan keterampilan penyandang disabilitas.
Salah satu produk tas D’belel berbahan denim bekas, karya handmade yang dikerjakan dengan sentuhan keterampilan penyandang disabilitas.
Foto: Dok Pribadi/Natera

Secara visual, produk D’belel adalah pertemuan antara dua dunia yang kontras. Ada tekstur denim tambang yang kasar, kaku, dan menyimpan memori kerja keras di pedalaman Kalimantan, yang kemudian “dijinakkan” oleh kelembutan kain katun Batik Ciprat. Percikan motif batik yang abstrak dan cerah memberikan nyawa baru pada kain denim yang pudar.

Sentuhan handmade dari penyandang disabilitas membuat setiap tas memiliki karakter yang berbeda. Tidak ada dua tas yang benar-benar identik setiap produk nya adalah karya seni tunggal yang membawa narasi tentang perjuangan manusia dan kelestarian alam. Bagi Gen Z, keunikan ini adalah kemewahan baru (new luxury) yang lebih bernilai daripada barang branded buatan mesin.

Harapan untuk Masa Depan Inklusif

D’belel membuktikan bahwa inklusivitas bukan sekadar jargon. Dengan memberikan panggung bagi kain handmade karya disabilitas untuk menjadi produk premium, Ardhiana sedang membangun jembatan antara kelompok marjinal dengan pasar ekonomi modern. Kesuksesan ini bahkan telah membawa pola pemberdayaan serupa ke kota-kota lain seperti Madiun melalui berbagai pelatihan upcycling.

Ke depannya, Ardhiana bermimpi untuk terus memperluas jenis produk, termasuk merambah ke home decor yang tetap mengusung napas keberlanjutan. Mendukung D’belel bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan tentang menghargai setiap tetes keringat dan percikan malam dari tangan-tangan istimewa yang menolak menyerah pada keadaan. Ini adalah pesan kuat bahwa di tangan yang tepat, sesuatu yang “belel” dan terpinggirkan bisa kembali bersinar dan berharga.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.