D’Belel Konsisten Tak Pakai Bahan Impor

Display produk D’Belel di atas rak
Foto: Dok Pribadi/Natera

Di Blitar, tumpukan seragam tambang bekas, celana jeans usang, dan kain sisa produksi tak dipandang sebagai sampah oleh D’Belel. Bagi UMKM ini, limbah tekstil justru menjadi penopang utama keberlangsungan produksi di tengah ketidakpastian rantai pasok global.

Sebelum pandemi Covid-19, D’Belel masih menggunakan linen impor dari Jepang dan Taiwan sebagai bahan baku utama. Namun ketika kebijakan pembatasan impor diberlakukan, pasokan bahan terhenti. Produksi pun nyaris lumpuh. Kondisi itu memaksa D’Belel untuk mengambil keputusan besar: berhenti bergantung pada bahan impor.

“Waktu itu impor benar-benar dibatasi, bahan nggak bisa masuk. Dari situ saya mikir, kalau kita terus tergantung sama kebijakan negara lain, UMKM kayak kita mau bertahan sampai kapan?” ujar pendiri D’Belel.

Pertanyaan itu menjadi titik balik. D’Belel mulai beralih sepenuhnya ke bahan lokal berupa limbah tekstil mulai dari seragam kerja, jeans bekas, hingga kain sisa pabrik. Keputusan tersebut bukan hanya soal bertahan secara ekonomi, tetapi juga bentuk kritik terhadap sistem industri yang rapuh karena ketergantungan impor.

“Buat saya, impor itu bukan solusi jangka panjang. UMKM harus punya kemandirian bahan, kalau tidak, sekali ada krisis, kita yang paling duluan tumbang,” katanya.

Pemilihan limbah tekstil juga didorong oleh realitas lingkungan. Limbah kain termasuk jenis sampah yang sulit terurai dan volumenya terus meningkat. D’Belel melihat celah di sana: mengolah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi produk dengan fungsi baru.

Proses produksi dilakukan secara manual dan detail. Setiap bahan dipilah berdasarkan jenis dan tingkat kelayakan. Kancing, resleting, reflektor, hingga benang hasil dedelan dikumpulkan terpisah. Bahkan sisa benang yang belum bisa diolah pun tidak langsung dibuang.

“Prinsip kami sederhana, sebisa mungkin jangan ada yang jadi sampah. Kalau sekarang belum kepakai, disimpan dulu. Nanti pasti ada solusinya,” ujarnya.

Pendekatan ini menegaskan bahwa upcycle bukan sekadar tren estetika, melainkan strategi ketahanan. Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar, D’Belel tidak hanya memotong ketergantungan impor, tetapi juga menekan biaya produksi dan dampak lingkungan.

Nama D’Belel sendiri menyimpan filosofi tersebut. Belel dimaknai sebagai Better, Environment, Live, Love. Barang yang dianggap usang diberi kehidupan kedua, dengan empati sebagai nilai utama. Filosofi ini juga tercermin dalam keterlibatan komunitas disabilitas, seperti pembatik ciprat, dalam proses produksi.

“Kami nggak cuma bikin barang. Kami pengin setiap produk punya cerita tentang lingkungan, tentang manusia, dan tentang kesempatan kedua,” tambahnya.

Meski demikian, jalan yang dipilih D’Belel tidak selalu mulus. Produk berbahan limbah kerap dipersepsikan negatif oleh konsumen lokal. Harga sering dipertanyakan karena masih ada anggapan bahwa barang bekas seharusnya murah.

“Masih banyak yang tanya, ‘kok barang bekas mahal?’ Padahal yang dibayar itu bukan cuma bahannya, tapi proses, tenaga, dan dampak lingkungannya,” ujarnya.

Menariknya, justru konsumen dari kota besar seperti Jakarta lebih mudah menerima produk D’Belel. Pengalaman langsung menghadapi banjir dan krisis sampah membuat kesadaran lingkungan di kota besar relatif lebih tinggi.

“Kalau konsumen Jakarta biasanya sudah paham isu lingkungan. Mereka beli karena tahu dampaknya, bukan cuma karena bentuk produknya,” katanya.

Hingga kini, D’Belel terus bertahan dengan prinsip yang sama produksi sesuai kapasitas, memberdayakan penjahit lokal, dan mengedepankan bahan non-impor. Bagi D’Belel, bertahan tanpa bahan impor bukan sekadar pilihan bisnis, melainkan sikap.

“Kami pengin buktiin, UMKM bisa kok jalan tanpa impor. Justru dari limbah lokal, kita bisa lebih kuat dan lebih mandiri,” tutupnya.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.