
Foto: Dok Pribadi/Natera
Pagi itu, cahaya yang menembus sela-sela dedaunan di Gartenhaus terasa seperti jeda kecil dari riuhnya Kota Malang. Dari luar, banyak orang mengira tempat ini hanyalah toko mebel deretan kayu besar di teras memang menipu mata. Namun begitu kaki melangkah ke dalam, atmosfer berubah menjadi hijau di mana-mana, udara lembab khas ruang terbuka, dan aroma kopi yang baru diseduh.
Di antara kehijauan itu, seorang karyawan yang sudah empat tahun bekerja di sini, yang akrab dipanggil Kak Eno, menjelaskan sebuah rutinitas yang mungkin luput dari perhatian para pengunjung. Rutinitas kecil, sederhana, tapi menjadi salah satu alasan kenapa lingkungan Gartenhaus terasa begitu “hidup” pemilahan sampah.
Sampah Tak Terurai: Dipilih Dulu, Baru Dibuang
Setiap hari, setelah gelas-gelas selesai dipakai dan piring kembali kosong, dapur Gartenhaus tidak langsung menimbun sampah ke satu kantong besar seperti banyak tempat lain. Sejak awal 2016 tahun berdirinya kafe ini mereka memilih untuk melakukan hal yang paling mendasar dari upaya ramah lingkungan untuk memisahkan sampah yang tak bisa terurai.
“Yang nggak bisa terurai, kami pisahkan dulu,” kata Eno.
Kaca, plastik keras, kemasan minuman, hingga bagian kecil seperti lapisan plastik dari bahan makanan semuanya masuk kategori “tidak terurai”. Barang-barang ini tidak diserahkan ke petugas TPS seperti kebanyakan rumah atau usaha, melainkan dibawa langsung oleh pihak Gartenhaus ke tempat pembuangan.
“Kita pilih buang sendiri,” lanjutnya.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Pemilahan manual oleh karyawan meminimalkan potensi sampah tercampur, sehingga limbah non-organik tidak mengganggu proses penguraian alami di area kafe yang penuh tanaman.
Sampah Terurai: Kembali ke Tanah, Kembali ke Tumbuhan
Sisi yang paling menarik justru datang dari jenis sampah yang sering kita abaikan: ampas kopi, ampas wedang jahe, lemon, dan sisa daun dari tanaman.
Gartenhaus memang punya banyak produk minuman berbasis rempah wedang jahe, serai, dan lemon menghasilkan limbah organik cukup besar. Alih-alih dibuang begitu saja, limbah itu dipisahkan, airnya dibuang terlebih dahulu, lalu sisa padatnya dikembalikan ke tanah sebagai pupuk alami.
Cara mereka sangat sederhana, bahkan bisa ditiru siapa saja:
- Air dari sisa wedang ditiriskan agar tidak terlalu basah.
- Ampas kopi dipisahkan dari cairannya.
- Semua limbah organik dikumpulkan di titik tertentu dekat tanaman.
- Lalu dibiarkan terurai secara alami setingkat komposting paling simpel.
“Kami pakai buat tanaman kami sendiri. Nggak dijual, nggak diproduksi massal,” kata Eno.
Bagi Gartenhaus, pupuk ini bukan bisnis. Ini adalah cara merawat kebun mereka, menjaga tanaman tetap subur tanpa pupuk kimia. Inilah alasan kenapa tanaman di kafe ini dari monstera mahal hingga pohon kopi pribadi terlihat begitu segar meski tidak tersentuh pupuk komersial.
Daun Gugur? Pupuk. Ampas Kopi? Pupuk. Sisa Wedang? Pupuk.
Ritme itu terulang setiap hari. Daun yang jatuh dari pohon besar di halaman belakang tidak pernah dianggap sebagai “kotoran”. Daun-daun itu dikumpulkan oleh petugas cleaning dan langsung dikembalikan ke tanah. “Limbah daun kembalikan lagi ke tanah,” kata Eno.
Siklus yang berjalan begitu natural, seolah tanaman dan manusia saling bekerja sama menjaga ruang yang sama.
Tantangan: Tisu dan Kesadaran Pengunjung
Namun upaya menjaga lingkungan ini tidak selalu mulus. Gartenhaus dulu menyediakan tisu di setiap meja, seperti kafe pada umumnya. Sampai akhirnya memasuki musim pohon rontok.
Daun-daun putih kecil yang jatuh dari salah satu pohon di halaman belakang memiliki bentuk mirip tisu. Saat musim itu selesai, barulah mereka sadar bahwa tisu-tisu yang dibuang sembarangan sudah bercampur dengan daun-daun itu, sulit dipilah, dan mencemari area tanaman.
Sejak itu, tisu di meja dihilangkan. Pengunjung harus meminta langsung jika butuh, dengan tujuan mengurangi konsumsi sekaligus mencegah sampah bercampur dengan limbah organik.
Keputusan kecil, tapi berdampak.
Bukan Fasilitas, Tapi Kebiasaan
Yang menarik dari Gartenhaus adalah tidak ada mesin komposter, tidak ada teknologi pengolah limbah canggih, tidak ada sistem modern yang biasanya dipamerkan tempat-tempat ramah lingkungan. Yang mereka punya hanyalah kebiasaan memilih, konsistensi, dan ruang hijau yang mereka rawat sendiri.
Dalam dunia yang semakin cepat, seringkali kita lupa bahwa hal paling ramah lingkungan justru berasal dari hal paling sederhana yaitu memilah sebelum membuang.
Gartenhaus menjadi bukti bahwa gerakan kecil bisa membuat ekosistem bertahan. Ampas kopi yang biasanya berakhir di tempat sampah, di sini menjadi energi untuk tanaman. Sisa rempah yang biasanya jadi bau tak sedap, di sini berubah menjadi nutrisi. Dan ruang hijau yang biasanya hanya jadi dekorasi, di sini hidup sebagai bagian dari siklus.
Pada akhirnya, langkah-langkah kecil ini bukan hanya menjaga lingkungan kafe tetap hijau, tapi juga mengirim pesan pelan kepada pengunjung terutama generasi muda bahwa merawat bumi bukan harus besar, tapi harus dimulai.
Dan Gartenhaus memilih untuk memulai dari hal yang paling sederhana memilah sampah.