
Foto: Dok Pribadi/Natera
Di sebuah pagi yang masih basah oleh embun, aroma kopi merayap keluar dari dapur kecil Retrorika. Dari luar, kafe ini terlihat seperti ruang nostalgia penuh barang-barang vintage, tanaman merambat, dan meja dari pintu bekas. Namun di balik estetika itu, ada sesuatu yang lebih radikal berlangsung, dapurnya sedang mengajarkan cara paling sederhana, tetapi paling terlupakan, untuk mencintai bumi memilah sampah sejak dari sumbernya.
Di balik pintu dapur yang berembun, seorang staf menggenggam baskom berisi sisa nasi dan potongan lauk. “Ini buat ternak,” katanya sambil menuangkannya ke wadah besar. Mereka tidak sedang membuat pakan instan, hanya memastikan sisa makanan tidak berakhir di TPA. Sampah organik di dapur Retrorika dipilah menjadi dua jenis yaitu sisa makanan manusia untuk pakan ternak, dan sisa tumbuhan seperti daun pisang atau kulit buah untuk kompos.
Bagi Ismi, CEO Retrorika, proses ini bukan sekadar rutinitas dapur ini adalah bentuk perlawanan kecil. “Sampah dapur di sini sudah terpilah tiga atau empat jenis,” katanya. “Organik untuk ternak, organik untuk kompos, dan anorganik yang langsung kami setorkan ke bank sampah DLH Kota Batu.” Ia mengatakannya dengan tenang, seakan itu hal yang lumrah dilakukan semua orang. Padahal, di banyak dapur, sisa makanan dan plastik sekali pakai masih disatukan campuran yang mengunci bau, penyakit, dan jejak karbon yang tak terlihat.
Dapur yang Tidak Lagi Menjadi Ruang Buangan
Konsep pemilahan sampah di dapur Retrorika dimulai dari kesadaran sederhana: sampah yang tercampur tidak memiliki peluang hidup kedua. Namun ketika dipilah, sampah berubah menjadi sumber daya.
Setiap hari, sisa daun pisang, kulit jeruk, batang sayur, hingga remah kopi dikumpulkan ke mesin pencacah Alih-alih dibuang, semuanya dipotong kecil untuk mempercepat pembusukan. Setelah itu, campuran organik dimasukkan ke komposter tertutup, ditambah bakteri, dan dibiarkan bekerja selama lima hingga enam bulan.
Hasilnya bukan sekadar kompos. Ini adalah siklus hidup baru yang kembali ke taman-taman di sekitar kafe. Bu Ismi menyebutnya sebagai bagian dari lini bisnis mereka, industri pertanian kreatif yang memanfaatkan kompos panenan sendiri sebagai media tanam untuk tanaman hias mereka
Di belakang kafe, deretan tanaman hias berdiri tegak seperti bukti bahwa apa yang kita sebut “sampah” sebenarnya hanya bahan mentah yang menunggu disentuh dengan benar.
Gen Z dan Kebiasaan Baru di Dapur
Menariknya, kebiasaan pemilahan sampah ini ternyata cukup resonan dengan budaya hidup Gen Z generasi yang dekat dengan isu lingkungan, tetapi juga ingin semuanya praktis dan estetik.
Dapur Retrorika menjadi representasi kecil perubahan itu, tak ada sedotan plastik, tak ada styrofoam, bahkan tisu diganti dengan tisu bambu yang lebih cepat terurai dan hemat air dalam proses produksinya
Ketika pengunjung ingin membawa pulang makanan, kafe ini menawarkan besek bambu seharga Rp2.500 atau botol kaca seharga Rp8.000 tanpa mengambil keuntungan dari keduanya karena itu adalah bagian dari kampanye lingkungan mereka
“Ini reward untuk mereka yang sudah terbiasa membawa tumbler atau food box,” kata Ismi. Salah satu bentuk dukungan itu bahkan berupa kolaborasi dengan Malaka Project, di mana pengunjung yang membawa wadah sendiri bisa mendapat potongan hingga 20 persen.
Di titik ini, dapur bukan lagi ruang yang dipenuhi bau sisa makanan. Ia berubah menjadi ruang edukasi.
Anorganik yang Tidak Dibiarkan Mati
Sementara organik dikelola di dalam dapur, sampah anorganik seperti plastik, logam, atau bekas kotak susu diseleksi ketat. Yang bisa didaur ulang disetorkan ke bank sampah DLH Kota Batu. Yang lain, menariknya, justru disulap menjadi merchandise kemasan kaos, paper bag, hingga produk kreatif lain dari kotak susu yang sudah dibersihkan, dipilok, dan diberi stiker baru
Dalam proses ini, sampah anorganik tidak mati. Ia direinkarnasi.
Ketika Dapur Menjadi Ruang Perubahan
Bagi banyak orang, pemilahan sampah terdengar seperti pekerjaan tambahan. Tetapi Bu Ismi justru melihatnya sebagai investasi masa depan. Menurutnya, jika saja sepuluh kafe di satu kota bisa mengelola sampah dapurnya sendiri, dampaknya akan sangat besar. Data KLHK tahun 2024 menunjukkan 80% sampah organik Indonesia berasal dari sektor kuliner dan Retrorika mencoba masuk menjadi solusi pada lingkaran itu.
Kini, mereka bergerak menuju pendataan low carbon footprint, mencoba menghitung berapa banyak polusi yang berhasil mereka tekan melalui sistem dapur mereka yang sederhana namun konsisten.
Dapur Kecil yang Mendorong Revolusi Pelan-Pelan
Dari luar, dapur Retrorika tampak seperti dapur biasa: panci mendidih, suara talenan, dan bau rempah. Namun di antara rutinitas itu, setiap pekerja sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar memasak.
Mereka sedang menantang sistem sampah Indonesia dengan tangan yang hanya memegang sendok sayur.
Di situlah inti cerita ini, perubahan besar bisa dimulai dari ruang sekecil dapur, dari keputusan sederhana memisahkan sisa makanan dan plastik, dari keberanian untuk konsisten meskipun dianggap aneh, dari energi kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Sebab pada akhirnya, bumi tak meminta kita menjadi pahlawan. Ia hanya meminta kita untuk lebih peduli pada apa yang kita buang.