Di Capunglam Farm, Sampah Tak Pernah Benar-Benar Menjadi Akhir

Area pengolahan di Capunglam Farm, tempat limbah dapur dan ternak diproses kembali dalam sistem pertanian terintegrasi.
Foto: Dok Pribadi/Natera

Pagi di Capunglam Farm dimulai dengan suara yang khas, kepakan ayam dari kandang bambu, gemericik air kolam lele, dan aroma tanah basah yang bercampur sisa pakan. Di sudut lahan, tumpukan kotoran ayam yang bagi banyak orang dianggap limbah justru menjadi bahan paling berharga. Di tempat ini, sampah organik bukan sesuatu yang dibuang, melainkan diputar kembali agar tetap berguna.

Konsep itu menjadi napas utama Capunglam Farm, sebuah ruang praktik pertanian terpadu yang menggabungkan ternak ayam, budidaya ikan lele, dan pertanian sayur dalam satu siklus. Semua saling terhubung. Semua saling membutuhkan.

Dari Kandang ke Tanah

Di Capunglam, kotoran ayam tidak menumpuk tanpa arah. Limbah ini dikumpulkan, diolah, dan difermentasi menjadi kompos. Prosesnya sederhana namun konsisten tanpa teknologi rumit, tanpa bahan kimia mahal. Hasilnya adalah pupuk organik yang siap menyuburkan media tanam.

Kompos ini kemudian digunakan untuk menanam berbagai tanaman pangan. Sayuran tumbuh di atas tanah yang hidup, bukan tanah yang dipaksa produktif oleh pupuk sintetis. Dari sini, siklus tidak berhenti. Sisa hasil panen dan residu organik kembali masuk ke sistem sebagian menjadi pakan tambahan, sebagian lain memperkaya kompos berikutnya.

“Kalau cuma mengolah sampah jadi kompos, nilainya kecil. Tapi ketika diintegrasikan ke tanaman, ayam, dan ikan, nilainya berlipat,” ujar Firman, CEO Capunglam.

Bertani Tanpa Drama, Tapi Penuh Kesadaran

Capunglam Farm tidak mencoba tampil sebagai proyek besar dengan jargon rumit. Justru sebaliknya. Tempat ini terasa seperti laboratorium hidup tempat belajar yang membumi. Konsep integrated farming diterapkan dengan pendekatan praktis, mudah dipahami, dan bisa direplikasi dalam skala kecil.

Bagi generasi muda yang sering merasa isu lingkungan terlalu berat atau abstrak, Capunglam menawarkan narasi yang berbeda. Di sini, keberlanjutan bukan slogan, melainkan rutinitas harian. Mengaduk kompos, memberi pakan ayam, mengecek kolam lele semuanya adalah bagian dari ekosistem yang saling terhubung.

“Kalau kita tidak integrasikan, sampah organik hanya akan jadi beban. Padahal kalau dikelola benar, dia bisa jadi sumber daya,” kata Firman.

Lebih dari Sekadar Produksi Pangan

Apa yang dilakukan Capunglam bukan hanya soal menghasilkan telur, ikan, atau sayur. Ini tentang membangun cara pandang baru terhadap limbah dan pangan. Sistem ini menunjukkan bahwa pertanian bisa berjalan selaras dengan alam tanpa harus mengorbankan produktivitas.

Integrated farming di Capunglam juga menjadi ruang edukasi. Anak muda, mahasiswa, hingga komunitas lingkungan kerap datang untuk melihat langsung bagaimana siklus ini bekerja. Mereka tidak hanya mendengar teori, tetapi menyaksikan sendiri bagaimana kotoran ayam bisa kembali ke tanah, bagaimana tanah memberi makan tanaman, dan bagaimana tanaman serta limbah organik menopang ternak dan ikan.

Di tengah krisis iklim dan persoalan sampah organik yang kian menggunung, praktik seperti ini terasa relevan. Bukan solusi instan, tetapi langkah konkret yang bisa ditiru.

Menutup Lingkaran

Saat sore tiba, cahaya matahari jatuh miring ke kolam lele. Ayam-ayam mulai tenang di kandang. Di Capunglam Farm, hari berakhir tanpa sisa yang sia-sia. Limbah hari ini adalah sumber daya esok hari.

Integrated farming yang dijalankan Capunglam mengajarkan satu hal sederhana, keberlanjutan bukan soal teknologi canggih atau modal besar, melainkan soal kemauan menutup lingkaran. Dari kandang ke tanah, dari tanah ke kolam, lalu kembali lagi. Sebuah siklus yang terus hidup dan mungkin, menjadi inspirasi bagi cara bertani masa depan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.