
Foto: Dok Pribadi/Natera
Program EcoWorm Libatkan Ibu PKK dan Petani Organik
Program EcoWorm Capunglam di Sumberbrantas hadir sebagai solusi pengelolaan sampah organik berbasis warga melalui pendekatan worm farming berkelanjutan.
EcoWorm Capunglam melibatkan ibu-ibu PKK dan petani organik untuk mengolah limbah dapur menjadi pupuk kascing bernilai ekonomi.
Program ini berangkat dari permasalahan sampah organik rumah tangga yang terus menumpuk tanpa sistem pengolahan yang konsisten.
Capunglam melihat potensi besar masyarakat desa untuk mengelola sampah secara mandiri melalui teknologi sederhana berbasis cacing tanah.
Firman selaku CEO Capunglam menyampaikan EcoWorm lahir dari proses belajar panjang dan kegagalan di fase awal.
“EcoWorm bukan proyek instan, kami melewati proses trial panjang sampai sistem ini cocok dengan karakter warga,” ujar Firman.
EcoWorm Capunglam menggunakan metode worm farming yang mudah diterapkan oleh ibu-ibu rumah tangga.
Sampah dapur seperti sisa sayur dan buah masuk ke media cacing untuk menghasilkan kascing berkualitas.
Ratusan kilogram sampah organik berhasil terolah setiap bulan melalui program ini.
Hasil kascing kemudian petani organik manfaatkan untuk memperkuat sistem pertanian ramah lingkungan di Sumberbrantas.
Keterlibatan ibu-ibu PKK menjadi kunci keberlanjutan EcoWorm Capunglam.
Mereka berperan sebagai pengelola harian, pencatat produksi, sekaligus agen edukasi di lingkup keluarga.Firman menegaskan program ini tidak hanya menyasar pengurangan sampah, tetapi juga perubahan pola pikir warga.
“Kami ingin warga melihat sampah sebagai sumber daya, bukan beban lingkungan,” jelasnya.
Program EcoWorm Capunglam juga membuka ruang kolaborasi antara rumah tangga dan sektor pertanian lokal.
Kascing hasil olahan warga langsung petani gunakan tanpa rantai distribusi panjang.
Pendekatan ini memperkuat ekonomi sirkular di tingkat desa.
Sampah rumah tangga berputar kembali sebagai nutrisi tanah dan penopang produksi pangan lokal.
Dari Edukasi hingga Dampak Ekonomi Warga
EcoWorm Capunglam tidak berhenti pada aspek teknis worm farming semata.
Program ini juga menyertakan edukasi berkelanjutan tentang pemilahan sampah dan manajemen organik rumah tangga.
ADEL selaku Marketing Capunglam menjelaskan pentingnya pendekatan komunikasi yang membumi.
“Kami menggunakan bahasa sederhana dan praktik langsung agar ibu-ibu merasa mampu menjalankan sistem ini,” ujar ADEL.
Capunglam mengemas edukasi melalui pelatihan rutin, pendampingan lapangan, dan diskusi komunitas kecil.
Model ini membantu peserta memahami siklus sampah tanpa tekanan atau pendekatan akademis berlebihan.
EcoWorm Capunglam juga membangun kepercayaan warga melalui hasil nyata.
Kascing yang petani gunakan menunjukkan peningkatan kualitas tanah dan produktivitas tanaman.
Dampak ekonomi mulai terasa setelah beberapa bulan berjalan.
Warga tidak lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk pupuk, bahkan mulai menjual kascing ke petani lain.
Firman menyebut keberhasilan EcoWorm bergantung pada konsistensi, bukan skala besar.
“Lebih baik satu sistem kecil berjalan stabil daripada proyek besar tanpa keberlanjutan,” kata Firman.
Program ini juga membuka peluang pendapatan tambahan bagi ibu-ibu PKK.
Mereka memperoleh insentif dari produksi kascing dan pengelolaan sistem worm farming.
ADEL menilai EcoWorm Capunglam menjadi contoh konkret bahwa isu lingkungan bisa sejalan dengan kebutuhan ekonomi warga.
“Warga mau bergerak ketika solusi lingkungan juga menjawab kebutuhan hidup sehari-hari,” jelasnya.
EcoWorm Capunglam menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu membutuhkan teknologi mahal.
Pendekatan berbasis komunitas justru menciptakan rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama.
Keberhasilan EcoWorm di Sumberbrantas mendorong Capunglam merancang replikasi program di wilayah lain.
Namun Capunglam tetap menyesuaikan metode dengan karakter sosial dan budaya setempat.
Firman menutup dengan menekankan pentingnya kesabaran dalam membangun sistem lingkungan.
“Perubahan tidak terjadi cepat, tetapi EcoWorm membuktikan proses kecil bisa berdampak besar,” ujarnya.
Program EcoWorm Capunglam akhirnya menjadi bukti bahwa kolaborasi warga, alam, dan ekonomi bisa berjalan seimbang.
Dari dapur rumah hingga lahan pertanian, sampah organik kini kembali menjadi sumber kehidupan.