
📍 Bank Sampah Malang, Kota MalangÂ
Dokumentasi: Tim Natera
Kota Malang – Di Jalan Esupriadi Nomor 38, Kecamatan Sukun, sebuah bangunan yang dulu pernah jadi tempat persemayaman jenazah kini berubah fungsi menjadi ruang belajar tentang sampah, kebiasaan, dan nilai ekonomi. Lewat Bank Sampah Malang (BSM), warga diajak pelan-pelan mengubah cara pandang: sampah bukan cuma sesuatu yang “menjijikkan”, tapi bisa dikelola, dipilah, dan bahkan jadi uang.Â
BSM Sukun: Lebih dari Tempat Setor Sampah
Di beberapa kepala orang, bank sampah masih sering disalahpahami sebagai “tempat numpuk sampah”. Padahal, menurut pengelola BSM yang kami temui, peran utama bank sampah justru ada di depan pintu: mengedukasi masyarakat sejak dari rumah.
“Fungsi Bank Sampah itu menyadarkan masyarakat soal peduli sampah, cara pemilahan yang baik, sampai cara mengelola dengan program 3R: Reduce, Reuse, Recycle,” kurang lebih begitu gambaran yang ia jelaskan.
Di sini, edukasi bukan sekadar teori. Warga datang, ditimbang, dicatat, lalu pelan-pelan belajar bahwa sampah punya kategori—dan setiap kategori punya nilai berbeda. Dari yang awalnya campur aduk, BSM mencoba menuntut warga untuk mengenali: mana plastik, mana kertas, mana logam, mana kaca. Bahkan, ada juga minyak jelantah yang diterima sebagai salah satu jenis setoran.
Berawal dari “Keresahan” di 2009–2010
Cerita BSM Malang tidak muncul dari ide yang tiba-tiba viral. Ia berangkat dari keresahan orang dinas yang melihat pengelolaan sampah Kota Malang waktu itu belum baik-baik saja.
Di kisaran 2009–2010, seorang pejabat dinas (disebut sebagai Pak Rahmat) merasa risau dengan kondisi pengelolaan sampah. Ia kemudian belajar ke salah satu bank sampah pertama di Indonesia yang berada di Bantul, Yogyakarta. Setelah pulang ke Malang, gagasan itu disampaikan ke kepala dinas, lalu lahirlah bank sampah pertama awal mulanya disebut berdiri di wilayah Sawojajar.
Namun, masa awal tidak mulus. Masyarakat masih awam dan sempat menilai bank sampah “membawa timbulan sampah” dan menghadirkan bau. BSM lalu berpindah lokasi hingga menetap di Sukun.
Menariknya, tempat yang sekarang digunakan dulunya merupakan tempat persemayaman jenazah dan berdekatan dengan area makam Nasrani. Bangunan lama yang identik dengan “akhir” itu sekarang justru jadi titik awal untuk banyak orang memulai kebiasaan baru.
BSM sebagai “Pusat Informasi”: Sampah Itu Bisa Dipelajari
Kalau ditanya apa yang membuat BSM penting, jawabannya bukan sekadar karena ia menerima setoran sampah. Tapi karena BSM bekerja seperti pusat informasi: tempat warga bertanya, belajar, dan punya pegangan.
Salah satu “pegangan” yang dimaksud adalah buku tabungan sampah. Sistemnya mirip bank: warga menyetor sampah anorganik, ditimbang, lalu nilainya dicatat. Dari situ, muncul pelajaran yang sering luput: kalau kita memilah lebih rapi, nilai jualnya juga berbeda.
Misalnya, botol plastik yang masih ada tutup, cincin, dan labelnya, nilainya bisa berubah kalau dipisahkan. Label tertentu bahkan tidak laku dan lebih cocok dijadikan ecobrick. Hal-hal seperti ini terlihat sepele, tapi buat warga yang baru belajar, justru ini inti edukasinya.
BSM juga menerima 73 jenis item sampah dalam beberapa kategori besar. Artinya, warga bukan hanya belajar “pisah organik dan anorganik”, tapi mengenal pemilahan yang lebih detail dan realistis.

Edukasi yang Dibuat “Masuk Akal”: Ada Nilai Ekonominya
Salah satu cara BSM merangkul warga adalah membuat edukasi terasa dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Pengelola bercerita, sosialisasi yang hanya dilakukan sekali biasanya belum efektif. Tapi kalau dilakukan berulang dan disertai informasi nilai sampah (rupiah per item), warga mulai tertarik.
Di sinilah pendekatan BSM terasa “membumi”. Mereka tidak menuntut warga langsung ideal. Mereka mengajak warga mulai dari hal yang sederhana: pilah, setor, dan lihat hasilnya.
Rata-rata, BSM mengelola sekitar 15–17 ton per bulan dari sampah yang masuk. Sampah yang sudah dipilah akan disortir lagi, lalu didistribusikan ke pihak industri daur ulang sesuai jenisnya. Ada yang ke Mojokerto, Bangil, Pasuruan, Jombang, hingga pabrik di Kabupaten Malang (tergantung jenis materialnya).
Artinya, di sini sampah tidak berhenti jadi tumpukan. Ia masuk ke rantai yang lebih panjang: dari rumah, ke bank sampah, ke sortir, lalu ke industri.
Reward dan “Kampung Bersinar”: Cara Mengubah Kebiasaan Warga
Edukasi di BSM juga didorong oleh dukungan program pemerintah. Dalam wawancara, disebutkan adanya reward bagi warga yang mengelola sampah, termasuk kompetisi tingkat RW yang dikenal sebagai “Kampung Bersinar”.
Warga yang konsisten mengelola sampah bisa mendapat penghargaan dan bahkan diikutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Hal seperti ini, bagi sebagian orang, bukan cuma hadiah tapi pemantik semangat.
Di titik ini, yang dibangun bukan hanya sistem, tapi juga budaya. Budaya bahwa mengelola sampah itu bukan kerja sia-sia.
Mengubah Mindset: Dari “Jijik” Menjadi “Nilai Positif”
Bagian paling menarik dari obrolan kami justru muncul saat membahas generasi muda. Pengelola menyebut, tantangan anak-anak sekarang seringnya bukan karena tidak mampu memilah, tapi karena mindset: merasa sampah itu terlalu kotor untuk disentuh.
Harapan BSM sederhana tapi dalam: mengubah cara pandang. Sampah bisa dilihat dari sisi sosial, pendidikan, bahkan nilai positif lain. Bukan untuk memaksa semua orang jadi aktivis lingkungan, tapi agar warga tidak lagi memandang sampah sebagai “urusan orang lain”.
Kalau mindset ini terbentuk, langkah-langkah teknis seperti memilah, menyetor, dan mengurangi sampah ke TPA akan lebih mudah mengikuti.
BSM Itu Ruang Belajar yang Hidup
Bank Sampah Malang bukan tempat yang sempurna dan selesai. Tapi ia menawarkan sesuatu yang penting: ruang belajar yang nyata di mana warga bisa bertanya, mencoba, dan melihat dampaknya langsung.
Dari tempat yang dulu identik dengan kematian, kini lahir kebiasaan baru: memilah, menyetor, dan menghargai barang yang sebelumnya dianggap tak berguna. Dan mungkin, di kota yang setiap harinya terus menghasilkan sampah, ruang belajar semacam ini justru yang paling dibutuhkan.