M212 Ajak Pelajar Malang Belajar Kelola Sampah Sejak Dini

Logo BSM M212 tersusun dari tutup botol plastik warna-warni di dinding galeri daur ulang.
Kreasi logo BSM M212 dari tutup botol plastik, simbol komitmen warga Malang dalam gerakan daur ulang dari rumah
Foto: Dok Pribadi/Natera

Di Malang, Galeri Daur Ulang M212 mendatangi sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi pengelolaan sampah demi menekan volume sampah rumah tangga dan sekolah yang terus meningkat setiap tahun. Program ini berlangsung langsung di kelas maupun kunjungan siswa ke galeri, menggunakan pendekatan praktik agar murid memahami cara memilah dan mengolah sampah secara benar.

Di sebuah ruangan kelas SMPK Tunas Bangsa, belasan siswa tampak duduk melingkar. Di tengah mereka, Bu Nur pendiri Galeri Daur Ulang Malang M212 mengeluarkan bungkus kopi, plastik detergen, puntung rokok, hingga sampah snack.

“Ini semua bisa jadi produk. Tapi sebelum itu, kita harus tahu cara memilahnya,” katanya saat sesi edukasi yang terekam dalam kegiatan liputan tim Natera.

Cara bicara Bu Nur santai, langsung, dan mengalir. Anak-anak mengikuti dengan antusias, terutama ketika sesi praktik dimulai. Mereka diminta membawa sampah plastik dari rumah, lalu belajar membuat tas mini dan dompet sederhana dari bungkus kopi.

“Kalau ini tidak kalian olah, ia akan tetap utuh 500 tahun,” ujarnya.

Dua Arah Edukasi M212

Dalam wawancara, Bu Nur menjelaskan bahwa edukasi ini tidak hanya dilakukan ketika sekolah berkunjung ke galeri, tetapi juga melalui program jemput bola tim M212 datang langsung ke sekolah-sekolah di Malang.

Setidaknya beberapa sekolah yang pernah mereka datangi antara lain:

  • SMPK Tunas Bangsa
  • Santa Maria Malang (program kokurikuler)
  • TK/TPQ Qurrota A’yun melalui program Jumat Bersih
  • Kelompok sekolah dari Jombang, Surabaya, dan bahkan tamu dari Sulawesi yang datang untuk belajar langsung
  • Sekolah dan komunitas lain yang tidak tercatat secara resmi, tetapi sering datang secara kolektif

Dalam catatan lapangan tim Natera, terlihat bagaimana siswa datang berkelompok, membawa sampah dari rumah, dan diberi kesempatan untuk melihat langsung proses penyortiran yang dilakukan galeri.

Pendekatan dua arah ini membuat edukasi terasa lebih dekat. Beberapa sekolah meminta Bu Nur datang rutin. Ada yang menjadikannya bagian dari kurikulum kokurikuler, ada yang memasukkan dalam kegiatan Jumat Bersih, dan ada pula sekolah yang menjadikannya bagian dari projek P5 atauProfil Pelajar Pancasila tema lingkungan.
Kemdikbud sendiri menegaskan bahwa proyek P5 bertujuan membentuk karakter siswa yang peduli lingkungan.

Mulai dari “Ini Sampah Apa?” Sampai “Ini Bisa Jadi Apa?”

Saat edukasi berlangsung, pertanyaan paling sering bukan tentang cara membuat kerajinan, melainkan: “Ini sampahnya masuk kategori apa, Bu?”
Bu Nur menjelaskan bahwa fondasi daur ulang bukan kerajinan, tapi pemilahan.
Karena jika pemilahannya salah, proses berikutnya ikut salah.

“Banyak yang kira semua plastik sama. Padahal bungkus kopi, botol air, dan plastik detergen semua beda.” ujarnya dalam wawancara tim natera.

Ini sejalan dengan pernyataan KLHK bahwa pemilahan sampah di Indonesia masih belum optimal karena rendahnya edukasi sejak usia dini.

Dalam sesi praktik, siswa belajar membuat:

  • tas kecil dari bungkus kopi
  • gantungan kunci dari plastik kemasan
  • tempat tisu dari plastik multilayer
  • mini pouch dari sisa snack

Dalam catatan lapangan, beberapa siswa tampak terkejut melihat sampah pribadi mereka sendiri bisa berubah menjadi benda fungsional.

Mengubah Kebiasaan Lewat Pengalaman Langsung

Edukasi M212 tidak berhenti di kelas. Banyak guru kemudian membuat regulasi kecil misalnya, siswa diwajibkan membawa ecobrick atau sampah anorganik bersih pada hari tertentu.

Data UNICEF menyebutkan bahwa anak-anak usia sekolah adalah kelompok paling efektif dalam perubahan perilaku lingkungan karena mereka cenderung membawa pulang kebiasaan baru ke rumah.

Hal ini sesuai dengan temuan Bu Nur.
“Kadang orang tua datang ke sini bilang, ‘Anak saya jadi bawelin saya soal sampah.’ Justru itu bagus. Artinya mereka paham sejak kecil.” Anak-anak menjadi agen perubahan kecil. Mereka mengingatkan keluarga, membawa pulang cerita, bahkan ada yang mulai memilah sampah sendiri tanpa disuruh.

Beberapa sekolah kemudian membuat aturan baru setelah sesi edukasi, misalnya:

  • tiap murid membawa ecobrick atau sampah anorganik bersih seminggu sekali
  • guru memasukkan pemilahan sampah ke kegiatan Jumat Bersih
  • siswa wajib memilah sampah bekal sebelum pulang

Menurut Waste4Change, tingkat kesadaran memilah sampah masyarakat Indonesia masih di bawah 20% angka yang menunjukkan pentingnya intervensi edukasi sejak dini.


Mengapa Edukasi Ini Penting? Karena Angkanya Tidak Baik-Baik Saja

Indonesia menghasilkan sekitar 19 juta ton sampah per tahun, dan 41% di antaranya tidak terkelola dengan baik (KLHK, 2022).

Di banyak sekolah, tong sampah tiga warna hanya menjadi dekorasi tanpa fungsi. Pemilahan tidak terjadi karena siswa tidak tahu perbedaannya. Guru sudah kewalahan dengan kurikulum, sementara edukasi lingkungan bersifat opsional. Di ruang kosong inilah M212 masuk.

Galeri Kecil M212 dengan Dampak Tak Terduga

Busana dan kerajinan gantung yang dibuat dari berbagai bungkus kemasan di Galeri Daur Ulang M212.
Deretan busana daur ulang dari bungkus kemasan di Galeri M212, hasil edukasi kreatif yang diajarkan kepada sekolah-sekolah pengunjung.
Foto: Dok Pribadi/Natera

Walaupun hanya galeri rumahan, M212 memiliki dampak yang terasa. Mereka bukan lembaga pemerintah, bukan juga NGO besar. Namun karena edukasi mereka dilakukan dengan cara yang sederhana dan fun, anak-anak lebih mudah menerima.

“Kami bukan ingin membuat semua orang jadi pengrajin. Yang penting mereka ngerti membuang sampah itu ada caranya.” kata Bu Nur.

Program edukasi ini juga menumbuhkan rasa percaya diri pada murid bahwa mereka bisa mengambil bagian dalam solusi. Bagi sekolah, ini menjadi pelengkap pembelajaran karakter, terutama tema lingkungan. Bagi kota, ini adalah investasi perilaku jangka panjang. 

Di Tengah Krisis Sampah, Ruang Belajar M212 Justru Paling Dibutuhkan.

M212 menunjukkan bahwa edukasi persampahan tidak harus rumit. Tidak harus memakai teknologi canggih. Tidak harus dari institusi besar. Yang dibutuhkan sering kali hanyalah ruang aman untuk bertanya, memegang sampah, memotong plastik, mencoba mengolahnya, lalu memahami mengapa semua itu penting.

Ketika anak-anak menggunting bungkus kopi mereka sendiri dan mengubahnya menjadi tas kecil, ada momen ketika mereka sadar: sampah itu bukan sesuatu yang hilang begitu saja.

Ia tetap ada,Ia menumpuk, Dan mereka anak-anak ini punya peran untuk mengubahnya.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.