
Foto Dokumentasi: Instagram @nuralfiatul_khasanah M212 BSM Wiro Sableng
Kota Malang — Di tengah padatnya aktivitas pengelolaan sampah berbasis warga, Galeri Daur Ulang M212 kembali menjadi lokasi verifikasi lapangan (Verlab) Adipura oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang pada November lalu. Bagi M212, penilaian ini bukan sekadar formalitas tahunan, melainkan momentum untuk menunjukkan bahwa praktik daur ulang yang mereka jalankan selama ini benar-benar berdampak pada lingkungan dan masyarakat.
Tim DLH biasanya melihat aktivitas bank sampah, pembukuan, dan alur pengelolaan sampah,” jelas Nur, penggerak utama M212. Standar tersebut sesuai dengan ketentuan Verlab Adipura secara nasional, yang umumnya menilai:
- Efektivitas bank sampah,
- Kebersihan kawasan,
- Sistem pemilahan sampah,
- Pembukuan dan transparasi timbangan sampah,
- Alur pengolahan dan hulur hilir, serta
- Partisipasi masyarakat dalam kegiatan lingkungan.
Dari Pemilahan ke Produk Kreatif
Kegiatan di M212 berangkat dari proses dasar yang sederhana tetapi konsisten: pemilahan. Warga BSM Wiro Sableng setiap hari menyetor bungkus kopi, aluminium, gelas plastik, kardus, hingga minyak jelantah. Sampah-sampah itu kemudian disortir oleh tim bank sampah dan warga aktif yang jumlahnya mencapai enam puluh orang.
“Setelah dikumpulkan, sampah disortir dulu. Ada yang dijual, ada yang ditabung, dan sebagian kami olah menjadi produk kreatif,” kata Nur.
Produk ini tidak hanya dipamerkan, tetapi juga dijual atau disewakan. Salah satu yang paling laris adalah rompi berbahan bungkus kopi, yang pernah dipesan tiga puluh buah oleh pembeli dari Jakarta.
Jenis sampah yang paling banyak masuk, menurut Nur, adalah bungkus kopi. Selain jumlahnya banyak, bahannya mudah dijahit, dianyam, dan dibentuk menjadi aksesori atau busana.
Minyak Jelantah: Dari Dapur Warga Menuju Pengelolaan Lanjutan
Dalam penilaian Adipura, kualitas pemilahan sampah B3 rumah tangga termasuk aspek penting. Di M212, minyak jelantah diperlakukan dengan standar sederhana: tidak boleh bercampur air dan harus bersih.
“Minyak itu pernah kami olah jadi sabun dan lilin untuk pelatihan,” tutur Nur.“
Warga mendapatkan insentif Rp5.000 per liter, sebuah langkah kecil yang terbukti mendorong kebiasaan memilah.
Edukasi sebagai Fondasi Penilaian
Salah satu poin penting Verlab Adipura adalah peran serta masyarakat, dan M212 telah lama mengembangkannya lewat program-program edukatif. Program Jumat Bersih mengajak anak-anak TPQ Qurrota A’yun mengumpulkan kemasan plastik setiap pekan. Kemasan itu kemudian disortir dan sebagian diolah menjadi kerajinan.
“Anak-anak belajar melipat kemasan, membuat aksesori, dan memahami bahwa sampah tidak boleh dibuang sembarangan,” kata Nur. Ratusan kemasan bisa terkumpul setiap Jumat, tergantung tingkat partisipasi.
Selain itu, sekolah-sekolah dari Surabaya, Jombang, Sulawesi, hingga kota-kota lain pernah berkunjung untuk belajar pemilahan sampah dan membuat kerajinan sederhana. Namun, untuk kegiatan ini perlu janji waktu untuk melaksanakannya.
“Kami sesuaikan materinya dengan tingkat usia. SD beda, SMP beda,” ujar Nur.
Kegiatan ini memperkuat posisi M212 dalam penilaian, karena Verlab Adipura menilai bagaimana edukasi lingkungan dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar program sesaat.

Foto Dokumentasi: Instagram @nuralfiatul_khasanah M212 BSM Wiro Sableng
Apa yang Dilihat DLH Saat Verlab?
Saat kunjungan November lalu, DLH fokus pada:
- Konsistensi aktivitas bank sampah
- Kerapian pembukuan (catatan setoran dan penimbangan)
- Proses pemilahan dan pengelolaan
- Kualitas fasilitas penyimpanan limbah seperti minyak jelantah
- Keterlibatan warga dan program edukasi aktif.
“Kami pastikan kegiatan rutin berjalan, pembukuan lengkap, dan sampah tersortir dengan baik,” ungkap Nur. Hasilnya, tim DLH memberikan apresiasi atas keberlanjutan program dan konsistensi warga.
Walaupun Verlab telah selesai, pekerjaan M212 tidak berhenti.
“Tindak lanjutnya ya tetap menjaga konsistensi program dan meningkatkan edukasi masyarakat” kata Nur Penggerak Utama M212.
Edukasi, baginya adalah proses panjang yang tidak akan selesai hanya dengan satu penilaian.
Menurut kaca mata Natera – Galeri Daur Ulang M212 menunjukkan bagaimana penilaian Adipura seharusnya dimaknai bukan sekadar target administratif, tetapi sebagai evaluasi berharga bagi komunitas.
Dalam ruang kecil di kampung, M212 membuktikan bahwa sistem pengelolaan sampah yang berbasis partisipasi warga mampu memenuhi standar verifikasi nasional. Di tengah tantangan kompetisi pasar dan fluktuasi produksi kreatif, M212 bertahan lewat satu hal: konsistensi.
Seperti bungkus kopi yang disusun rapi menjadi rompi, perubahan lingkungan pun dibangun dari keping-keping kecil yang dikelola setiap hari.