
Di tengah kota Malang, GartenHaus tampil sebagai café hijau yang mendorong perilaku ramah lingkungan lewat langkah sederhana: mengurangi tisu. Sejak awal berdiri dengan konsep eco-building, GartenHaus memaksimalkan tanaman hidup dan material kayu daur ulang, lalu mengambil keputusan penting untuk membatasi penggunaan tisu demi menekan sampah tisu yang dulu berserakan di halaman mereka. Keputusan kecil ini sejalan dengan banyak penelitian yang menegaskan bahwa konsumsi tisu menyumbang limbah harian yang cukup besar, bahkan di ruang publik seperti café dan restoran
GartenHaus dibangun dari ruang pribadi sang owner yang dipenuhi monstera, sirih-sirihan, dan tanaman rambat. Sejak 2016, café ini ingin menjadi “rumah taman” yang sejuk alami tanpa AC. Tanaman hidup mengatur suhu, kayu bekas proyek arsitektur dipakai ulang sebagai interior, dan halaman luar dirancang sebagai ruang hijau yang benar-benar terasa seperti kebun. Lingkungan alami ini membuat keputusan mengurangi penggunaan tisu menjadi bagian penting dari identitas mereka sebagai café ramah lingkungan.
Saat Sampah Tisu Mengganggu Ruang Hijau
Sebelum kebijakan baru muncul, sampah tisu menjadi masalah harian. Pengunjung bebas mengambil tisu sebanyak yang mereka mau. Hasilnya? Banyak tisu yang jatuh, tertiup angin, atau dibuang sembarangan. Kondisi makin terlihat berantakan saat momen gugurnya bunga pohon bersamaan dengan tisu-tisu putih yang terurai di tanah.
Dari sinilah perubahan dimulai. GartenHaus memutuskan membatasi stok tisu di meja dan menyesuaikan pemberiannya lewat staf. Bukan melarang, tetapi mengingatkan bahwa tisu adalah sumber daya yang harus dipakai secukupnya. Dampaknya langsung terlihat: halaman kembali bersih, kolam tidak lagi dipenuhi serpihan tisu, dan tanaman tidak tertutup limbah kertas.
Prinsip ini tidak berdiri sendiri. Konsep mereka sejak awal selaras dengan prinsip green building: mengurangi energi, mengurangi limbah, dan memaksimalkan ruang terbuka. Literasi global juga menekankan bahwa pengurangan produk sekali pakai seperti tisu adalah langkah awal gaya hidup sadar lingkungan
Pengelolaan sampah di GartenHaus pun berjalan konsisten. Sampah organik dipisah, tanaman dirawat tiap hari, dan kolam dibersihkan rutin. Bahkan tanpa AC, ruang tetap adem berkat kanopi alami dari tanaman rindang.
Ruang Hijau yang Pelan-Pelan Mendidik

Menariknya, kebijakan mengurangi tisu justru membuat banyak pengunjung sadar bahwa mereka sering mengambil lebih dari kebutuhan. Beberapa bahkan bertanya mengapa kebijakan itu ada yang akhirnya membuka percakapan tentang lingkungan.
Selain merawat tanaman, GartenHaus juga pernah menjadi tempat pertemuan komunitas hewan lewat akun Kartan Animal. Event itu kini sesekali hidup kembali lewat kolaborasi. Semua elemen ini membuat GartenHaus bukan hanya café, tetapi ruang yang mengajarkan bahwa kenyamanan bisa lahir dari hal-hal sederhana: tanaman hidup, udara alami, dan perilaku bijak.
“Semoga anak muda makin peduli lingkungan, mulai dari hal yang kecil,” kata Eno. Karena perubahan besar, kadang dimulai dari hal sepele seperti mengambil tisu secukupnya.