
Foto : Dok Pribadi/Natera
Di Kota Malang yang kian dipenuhi kafe modern berpendingin ruangan dan dinding kaca, sebuah ruang hijau tetap bertahan dengan caranya sendiri. Di sudut yang tersembunyi, Gartenhaus hadir sebagai tempat yang mempertahankan konsep ruang terbuka tanpa AC.
Bagi sebagian orang, memilih kafe tanpa AC di kota tropis seperti Malang terasa seperti tantangan. Banyak kafe baru berlomba menawarkan ruangan ber-AC, kursi empuk, dan suasana indoor yang steril.
Namun, Gartenhaus memilih jalan lain. Kafe ini hadir sebagai rumah kebun yang mengajak pengunjung merasakan kembali kesegaran udara alami, lengkap dengan segala tantangannya. Ia mengandalkan tanaman dan sirkulasi udara alami untuk menciptakan kenyamanan.
Konsep yang Lahir dari Hobi dan Filosofi Alam
Nama “Gartenhaus” berasal dari bahasa Jerman yang berarti “rumah kebun”. Kafe ini mulai beroperasi pada 2016, tetapi filosofi alamnya telah tumbuh jauh sebelumnya.
Pemilik rumah kebun ini, seorang arsitek kayu, merancang tempat ini layaknya rumah pribadi dengan taman luas. Pada awalnya, tempat ini bahkan belum membuka diri untuk umum.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Seperti yang diungkapkan salah satu karyawan yang telah bekerja selama empat tahun di sana, Eno.
“Dari awal kita buka, sebenarnya kita nggak buat umum. Jadi kayak kita bikin rumah yang ada kebunnya. Kita punya tamu sendiri, buat menjamu tamu.” Jelasnya kepada tim Natera penuh senyuman.
Lambat laun, nama Gartenhaus menyebar dari mulut ke mulut. Orang-orang mulai penasaran dengan tempat yang disebut-sebut sebagai “hutan kota” di tengah Malang.
Akhirnya, pada 2016, kafe ini membuka pintunya untuk publik, tanpa melepaskan nuansa privat dan akrab yang sejak awal menjadi identitasnya.
Hijau di Setiap Sudut
Konsep ruang outdoor di Gartenhaus bukan sekadar dekorasi. Beragam tanaman tumbuh di setiap sudut, mulai dari monstera, tanaman hias langka, hingga pohon kopi.
Di area kafe, dua hingga tiga pohon kopi tumbuh subur. Meski begitu, hasil panennya hanya dinikmati secara pribadi oleh pemilik dan staf.
Kafe ini juga memanfaatkan sampah organiknya sendiri untuk menutrisi tanaman. Daun kering, ampas kopi, dan sisa ampas jahe dari kafe kembali ke tanah sebagai pupuk alami.
“Kalau ampas kopi, kita ambil ampasnya saja. Kalau wedang jahe, kita buang dulu airnya, lalu sisanya balik ke tanah. Kita pakai teknik penguraian alami.”
Konsep ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga membentuk siklus hidup berkelanjutan di dalam kafe itu sendiri.
Tantangan di Balik Kesejukan Alami
Meski menawarkan pengalaman berbeda, Gartenhaus tetap menghadapi tantangan nyata. Saat hujan turun, ruang terbuka yang menjadi andalan kafe ini terasa semakin terbatas. Pengunjung kesulitan mencari perlindungan, sementara kursi kayu khas Gartenhaus menjadi kurang nyaman.

Foto : Dok Pribadi/Natera
“Kalau hujan, kita susah banget nerima customer masuk. Apalagi kalau sudah lama, tempatnya terbatas.”
Selain itu, dominasi kayu dan tanaman di bagian luar kafe sering membuat orang mengira Gartenhaus sebagai toko mebel. Pengunjung membutuhkan waktu untuk menyadari bahwa di balik tampilan seperti “hutan” itu, tersembunyi kafe yang hangat dan penuh cerita.
Di tengah era ketika kafe ber-AC menjadi standar kenyamanan, Gartenhaus tetap setia pada konsep awalnya. Para karyawan merawat tanaman, membersihkan elemen kayu, dan menjaga kolam tetap jernih tanpa bahan kimia berlebihan.
Gartenhaus mungkin bukan pilihan bagi mereka yang mencari kenyamanan instan. Namun, bagi siapa pun yang ingin merasakan kesejukan alami, mendengar gemerisik daun, dan menikmati kopi di tengah rimbun hijau, tempat ini menjadi oase langka.
Di antara deretan kafe modern yang seragam, Gartenhaus mengingatkan bahwa kesejukan tidak selalu datang dari mesin pendingin. Alam bisa mengatur udara, sementara manusia belajar beradaptasi.
Di situlah keajaiban Gartenhaus bertahan, sebuah ruang hijau yang terus bernapas, di tengah kota yang semakin sesak.