Gaya Tanpa Jejak, Ketika Fashion dan Lingkungan Berjalan Beriringan

Tren mode boleh berganti, tapi tanggung jawab terhadap bumi nggak pernah lekang. Kini, semakin banyak desainer dan pecinta fashion yang memilih jalur slow fashion  berpakaian stylish tanpa meninggalkan jejak kerusakan lingkungan. 
Mulai dari penggunaan bahan alami, pewarna ramah lingkungan, hingga daur ulang kain, setiap langkah kecil dalam dunia fashion punya arti besar bagi masa depan bumi ini.
Foto: Pinterest @Fibre2Fashion.com

Kota Malang — Hai Naters! Ada pepatah: mode itu cepat berlalu, tapi bumi tetap mengikutinya. Di balik tren yang berubah setiap musimnya, industri fashion ternyata meninggalkan jejak lingkungan yang tidak ringan. Tapi sekarang, semakin banyak pilihan untuk berpakaian dengan gaya dan tanpa meninggalkan jejak rusak bagi planet bumi kita ini.

Industri fashion global selama ini dikenal sebagai pemain besar dalam masalah lingkungan: konsumsi air yang masif, bahan berbahaya, dan limbah tekstil yang menumpuk. Contohnya di Indonesia: industri tekstil merupakan salah satu pilar ekonomi, tetapi bersamaan dengan itu “Indonesia menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil per tahun”.

Menurut riset, praktik “slow fashion” atau fashion berkelanjutan mulai mendapat perhatian karena memakai bahan ramah lingkungan, pewarna alami, maupun daur ulang.

Dalam konteks Indonesia, sebuah penelitian menyebut bahwa konsep sustainable fashion belum tersebar secara sistematis – “nilai-nilai keberlanjutan hanya dimulai dari brand independen” saja.

Mau mulai dari mana? Berikut beberapa manifestasi nyata dari fashion berkelanjutan yang makin populer:

  • Memilih bahan yang ramah lingkungan seperti organik, daur ulang, atau pewarna alami.
  • Memakai kembali, menukar, atau membeli pakaian second-hand (thrifting) sebagai alternatif terhadap budaya “pakai sekali buang”.
  • Brand Indonesia yang fokus ke eco-fashion: contohnya memakai bahan lokal, mendukung pengrajin, dan terbuka dengan proses produksinya.
  • Generasi muda (Gen Z) di Indonesia semakin punya kesadaran terhadap fashion berkelanjutan penelitian menunjukkan bahwa “pengetahuan lingkungan dan perhatian terhadap lingkungan” mempengaruhi sikap terhadap fashion berkelanjutan.

Apa Artinya untuk Kamu, Naters?

Gaya hidup fashion yang ramah lingkungan bukan berarti harus mahal atau kaku. Berikut beberapa langkah sederhana:

  • Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya perlu ini atau hanya ingin?” Sebuah artikel edukatif menyebut bahwa membeli impulsif akan memperburuk limbah tekstil. 
  • Coba eksplor thrifting atau barter pakaian dengan teman.
  • Cari brand yang transparan tentang produksi mereka  bahan, proses, pekerjaannya.
  • Rawat pakaianmu supaya tahan lama: semakin lama pakaian bisa dipakai, semakin sedikit limbah yang dihasilkan. 

Meski tren positif tumbuh, masih ada banyak tantangan:

  • Kebanyakan fashion besar di Indonesia belum menerapkan nilai keberlanjutan secara menyeluruh. 
  • Harga dan aksesibilitas fashion berkelanjutan kadang masih menjadi penghalang bagi banyak konsumen.
  • Tapi di sisi lain, potensi Indonesia sangat besar: warisan tekstil tradisional, komunitas kreatif, dan semakin banyak kesadaran konsumen.

Jadi, Naters — berpakaian bukan hanya tentang gaya, tapi juga tentang pilihan yang punya dampak. Ketika kamu memilih untuk gaya tanpa jejak, kamu memilih untuk bagian dari perubahan yang lebih besar.

Mode cepat bisa berlalu, tapi gaya yang peduli lingkungan akan terus dikenang dan planet pun ikut lega.

Ingat: pakaianmu bukan hanya cerita untuk kamu, tapi juga cerita untuk bumi.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.