
Foto: Dok Pribadi/Natera
Konsep green living ecosystem Khace mulai berkembang sebagai upaya mengintegrasikan gaya hidup ramah lingkungan dalam aktivitas sehari-hari. Khace menghadirkan ruang kreatif yang menggabungkan komunitas, kreativitas, dan keberlanjutan dalam satu ekosistem.
Green living ecosystem Khace tidak hanya menghadirkan ruang hijau, tetapi juga menjadi wadah aktivitas yang memungkinkan masyarakat untuk merasakan langsung praktik hidup berkelanjutan. Mulai dari desain ruang terbuka, kegiatan komunitas, hingga sistem pengelolaan sumber daya, semuanya dirancang untuk mendukung konsep green living ecosystem Khace secara menyeluruh.
Konsep ini muncul dari latar belakang komunitas arsitektur lanskap yang ingin menciptakan ruang yang tidak hanya indah, tetapi juga fungsional dan berkelanjutan. Khace menjadi bentuk nyata bagaimana ruang dapat hidup melalui aktivitas yang terintegrasi dengan lingkungan.
Menurut Judha Widitha selaku owner Khace, ruang tidak akan bermakna tanpa aktivitas yang menghidupkannya.
“Ketika kita merancang ruang, ruang itu harus hidup. Kalau tidak ada aktivitas, maka itu jadi ruang mati. Maka kami menghidupkannya lewat komunitas, kreativitas, dan konsep lingkungan,” ujar Judha Widitha.
Konsep ini sekaligus menjadi respons terhadap kebutuhan ruang publik yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan keberlanjutan. Khace berupaya menghadirkan ruang yang tidak sekadar dinikmati, tetapi juga dipahami proses dan nilai di dalamnya oleh pengunjung.
Integrasi Komunitas dan Kreativitas

Foto: Dok Pribadi/Natera
Green living ecosystem Khace dikembangkan sebagai ruang kreatif sekaligus pusat komunitas yang terbuka bagi berbagai kalangan. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, Khace juga menghadirkan beragam aktivitas seperti workshop, pameran seni, pertunjukan budaya, hingga diskusi kreatif yang melibatkan banyak latar belakang komunitas. Melalui kegiatan tersebut, Khace berupaya menciptakan ruang interaksi yang aktif sekaligus mendorong munculnya ide-ide baru yang tetap selaras dengan konsep keberlanjutan.
Pendekatan ini menjadikan Khace sebagai ruang interaksi yang dinamis, di mana ide-ide baru dapat muncul melalui kolaborasi antar individu. Aktivitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi lingkungan secara tidak langsung.
Selain itu, konsep arsitektur yang diterapkan juga mendukung keberlanjutan. Khace memanfaatkan pencahayaan alami, sirkulasi udara terbuka, serta penggunaan tanaman sebagai elemen utama dalam desain ruang. Hal ini tidak hanya menciptakan kenyamanan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada energi buatan seperti pendingin ruangan.
Tanaman yang digunakan bahkan tidak ditanam permanen, melainkan menggunakan polybag agar dapat dipindahkan dan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan proyek lain. Sistem ini memperlihatkan bahwa elemen dekoratif juga dapat memiliki fungsi ganda dalam mendukung keberlanjutan.
“Semua yang ada di sini memang tidak instan. Kami ingin menunjukkan bahwa ini adalah tempat yang juga tumbuh, sama seperti lingkungan itu sendiri,” jelas Judha.
Melalui konsep ini, pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati suasana, tetapi juga memahami bahwa keberlanjutan adalah proses yang membutuhkan waktu, konsistensi, dan keterlibatan banyak pihak.
Urban Farming dan Sistem Berkelanjutan
Salah satu bagian penting dari green living ecosystem Khace adalah penerapan urban farming. Praktik ini memungkinkan masyarakat perkotaan untuk tetap bercocok tanam meskipun memiliki keterbatasan lahan.
Di Khace, berbagai tanaman seperti tomat, cabai, dan terong ditanam dan dimanfaatkan untuk kebutuhan kantin. Konsep ini dikenal sebagai from farm to table, di mana hasil kebun langsung diolah menjadi makanan yang dikonsumsi oleh pengunjung.
“Konsepnya adalah from farm to table. Apa yang kami tanam di sini, sebisa mungkin bisa kami olah menjadi makanan yang dikonsumsi di sini,” ungkap Judha Widitha.
Selain sebagai sumber pangan, urban farming juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi pengunjung. Mereka dapat melihat langsung proses penanaman, perawatan, hingga panen. Bahkan, beberapa pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan tanaman sebagai bagian dari pengalaman belajar.
Khace juga mengembangkan sistem siklus berkelanjutan yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, dan pengelolaan limbah. Sampah organik dikumpulkan untuk dijadikan kompos, sementara ke depannya akan dikembangkan sistem maggot untuk mengolah limbah dapur menjadi pakan ternak.
Siklus ini dirancang agar seluruh elemen saling terhubung dan tidak menghasilkan limbah yang terbuang percuma. Konsep ini menjadi contoh nyata bagaimana sistem kecil dapat mencerminkan prinsip keberlanjutan dalam skala yang lebih besar.
Namun, penerapannya tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah menjaga konsistensi praktik organik di tengah lingkungan yang masih menggunakan bahan kimia seperti pestisida.
“Yang paling sulit adalah menjaga visi itu tetap berjalan. Kami ingin organik, tapi lingkungan sekitar masih menggunakan pestisida. Itu jadi tantangan,” jelas Judha.
Meski demikian, Khace tetap berkomitmen untuk mengembangkan green living ecosystem secara bertahap. Dengan pendekatan kolaboratif, edukatif, dan berbasis pengalaman, ruang ini diharapkan dapat menjadi contoh nyata bahwa gaya hidup ramah lingkungan dapat diintegrasikan dalam aktivitas sehari-hari tanpa harus mengubah semuanya secara instan.