Malang – Program GreenTrip mengajak peserta mengunjungi perusahaan hijau dan rendah karbon di Indonesia, salah satunya Capunglam Worm Fresh, untuk memahami langsung praktik keberlanjutan dan prospek karier berkelanjutan melalui kunjungan lapangan bersama Cahyo Ilham Firmansyah Subagio, CEO Capunglam, dan Adel dari tim Marketing. Saat wawancara dijelaskan, GreenTrip membuka ruang belajar bagi generasi muda untuk melihat bagaimana isu lingkungan diterjemahkan ke dalam sistem kerja nyata dan kebutuhan industri hijau.
GreenTrip lahir dari kegelisahan akan minimnya pemahaman anak muda tentang bagaimana sampah dan keberlanjutan terhubung dengan dunia kerja. Cahyo menjelaskan bahwa selama ini banyak orang mengira pengelolaan sampah berhenti di kompos atau maggot, tanpa melihat potensi lanjutan yang lebih besar.
“Kalau sampah organik cuma berhenti jadi kompos atau maggot, value nya kecil. Tapi kalau kita integrasikan ke tanaman, ayam, dan ikan, nilainya bisa meningkat,” ujarnya
Belajar dari Proses, Bukan Sekadar Narasi
Dalam GreenTrip, peserta diajak menyusuri langsung proses pengolahan limbah organik di Capunglam Worm Fresh. Dari limbah organik, perusahaan ini menghasilkan maggot yang kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan, sementara residunya menjadi pupuk bagi tanaman. Rantai ini diperlihatkan secara utuh agar peserta memahami bahwa keberlanjutan adalah sistem, bukan aktivitas terpisah.
Menurut Cahyo, GreenTrip dirancang agar peserta mampu mengagregasi pemahaman tersebut.
“Fungsinya GreenTrip itu biar mereka tahu bahwa sampah itu tidak berhenti di satu titik, tapi bisa terhubung ke banyak sektor,” katanya.
Ia menekankan bahwa pemahaman semacam ini penting agar anak muda tidak melihat isu lingkungan secara parsial.
GreenTrip sebagai Ruang Orientasi Karier Hijau
Lebih dari sekadar kunjungan edukatif, GreenTrip diposisikan sebagai ruang orientasi karier. Cahyo menyoroti bahwa banyak anak muda sebenarnya tertarik bekerja di sektor hijau, tetapi tidak tahu pintu masuknya.
“Mereka sering tanya, perusahaan seperti apa sih yang buka peluang, skill apa yang harus dimiliki,” ujarnya.
Dalam diskusi, Capunglam memperkenalkan kebutuhan industri hijau, termasuk peran di bidang operasional, pengelolaan limbah, hingga pemasaran. Cahyo juga menyinggung pentingnya pemahaman sertifikasi dan standar keberlanjutan.
“Sekarang sudah ada sertifikasi ESG. Itu juga kita sosialisasikan, supaya mereka tahu arah industri ke depan,” katanya
.
Menjawab Kebingungan Gen Z
Bagi Gen Z, isu lingkungan sering hadir sebagai nilai ideal, tetapi belum selalu diterjemahkan sebagai jalur karier. GreenTrip mencoba menjawab kebingungan tersebut dengan memperlihatkan realitas lapangan termasuk tantangan teknis dan manajerial. Cahyo menyebut bahwa industri hijau di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan kondisi politik, namun peluangnya tetap besar.
“Menurut riset, di tahun 2030 nanti peluang anak-anak masuk ke industri hijau itu besar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perusahaan wajib memiliki program tanggung jawab sosial dan pengelolaan lingkungan, yang membuka kebutuhan tenaga kerja dengan pemahaman keberlanjutan.
Relevansi dengan Tren Global Green Jobs
Secara global, pekerjaan hijau atau green jobs terus berkembang seiring transisi menuju ekonomi rendah karbon. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mendefinisikan green jobs sebagai pekerjaan yang berkontribusi pada pelestarian lingkungan sekaligus menyediakan kerja layak . Tren ini juga mulai terasa di Indonesia, terutama di sektor pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular.
GreenTrip memperlihatkan bagaimana tren global tersebut diterjemahkan di tingkat lokal. Peserta tidak hanya mendengar istilah ekonomi sirkular, tetapi melihat langsung bagaimana konsep itu dijalankan dalam praktik sehari-hari di Capunglam.
Dari Edukasi Lingkungan ke Dunia Kerja Nyata
Adel dari tim Marketing Capunglam menilai bahwa pengalaman langsung jauh lebih efektif dibandingkan paparan teori. Dengan melihat proses kerja di lapangan, peserta dapat memahami bahwa perusahaan hijau tetap beroperasi dengan logika bisnis.
“Bukan cuma soal idealisme, tapi juga bagaimana sistemnya berjalan,” ujarnya dalam sesi wawancara.
Praktik ini memperlihatkan bahwa perusahaan hijau dapat menjadi ruang belajar terbuka bagi publik.
Membangun Kepercayaan Diri Peserta
Salah satu dampak GreenTrip adalah tumbuhnya kepercayaan diri peserta dalam memandang karier berkelanjutan. Dengan melihat langsung perusahaan hijau beroperasi, mereka memperoleh gambaran nyata bahwa sektor ini bukan sekadar wacana. Interaksi dengan pelaku industri juga membantu peserta memetakan keterampilan yang perlu dipersiapkan.
Bagi Capunglam, membuka akses pembelajaran melalui GreenTrip merupakan investasi jangka panjang. Cahyo menegaskan bahwa masa depan keberlanjutan bergantung pada kesiapan sumber daya manusia.
“Kalau mau industri hijau berkembang, orang-orangnya harus disiapkan dari sekarang,” katanya.
Menyentuh Masa Depan Karier Berkelanjutan
Melalui GreenTrip, kunjungan ke perusahaan hijau diposisikan sebagai pintu masuk memahami masa depan dunia kerja. Program ini mempertemukan idealisme lingkungan dengan realitas industri, sekaligus membuka kemungkinan baru bagi generasi muda dalam memandang pilihan karier.
Bagi peserta, GreenTrip bukan sekadar pengalaman singkat, melainkan ruang refleksi tentang bagaimana nilai keberlanjutan dapat dijalani sebagai profesi. Sebuah langkah awal untuk menyentuh dunia kerja hijau secara nyata langsung dari lapangan.