Hasil Produk Kreatifitas Masyarakat menjadi Jalan Menuju Rupiah

Hasil karya warga sekitar berbahan dasar sampah yang di komersialkan
Foto: Dok Pribadi/Natera

Bank Sampah Malang, berdiri sejak 2011 mampu untuk menjawab persoalan pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga. Melalui keterlibatan masyarakat dalam mengolah sampah menjadi produk kerajinan bernilai jual, limbah rumah tangga kini menjadi jalan menuju rupiah dan kesadaran lingkungan bagi masyarakat.

Bank Sampah Malang lahir dari kegelisahan akan persoalan sampah yang kian menumpuk di Kota Malang pada periode 2009–2010.

“Waktu itu pengelolaan sampah di Kota Malang masih sangat bermasalah, timbulan sampah terus bertambah dan membebani TPA,” ujar Isa, Admin dan Teller Bank Sampah Malang.

Saat itu, Rahmat, yang menjabat sebagai Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup, melihat sistem pengelolaan sampah kota belum berjalan optimal dan berisiko memperparah beban tempat pembuangan akhir (TPA). Berangkat dari keresahan tersebut, ia belajar langsung ke Bank Sampah pertama di Indonesia yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta. Sepulangnya ke Malang, gagasan pendirian Bank Sampah disampaikan kepada pimpinan dinas dan mendapat respons positif.

Bank Sampah Malang kemudian mulai beroperasi dan diresmikan pada 15 November 2011 oleh Menteri Lingkungan Hidup saat itu. Pada awal berdirinya, keberadaan bank sampah sempat menuai penolakan warga karena dianggap membawa tumpukan sampah ke lingkungan. Padahal, sampah yang diterima telah melalui proses pemilahan, terutama sampah anorganik kering seperti plastik, kertas, logam, dan kaca.

Edukasi 3R sebagai Pondasi Perubahan

Perlahan, persepsi masyarakat mulai berubah seiring intensifnya sosialisasi mengenai prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Fungsi Bank Sampah tidak berhenti pada penimbangan dan tabungan sampah.

“Tujuan utama kami menyadarkan masyarakat tentang pentingnya memilah dan mengelola sampah dengan benar melalui konsep 3R yaitu reduce, reuse, recycle,” ujar Isa.

Lebih dari itu, lembaga ini menjadi ruang edukasi sekaligus pemberdayaan masyarakat. Salah satu program utamanya adalah pelatihan kerajinan daur ulang yang melibatkan warga sekitar. Melalui pelatihan ini, masyarakat diajak melihat sampah bukan sebagai beban, melainkan bahan baku yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Beragam produk lahir dari tangan-tangan warga.

“Kemasan kopi, plastik multilayer, sampai ring gelas itu kami ajarkan ke warga supaya bisa diolah jadi tas, dompet, tikar, atau tempat tisu,” tambahnya.

Bungkus kopi dan kemasan plastik multilayer diolah menjadi tas, dompet, tikar, hingga tempat tisu. Ring gelas plastik disusun menjadi aksesori rumah tangga, sementara kertas dan kardus bekas disulap menjadi produk dekoratif. Hampir seluruh proses produksi dilakukan oleh warga, khususnya ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya berperan sebagai penyetor sampah.

Kreativitas menjadi Produk Kerajinan Bernilai Jual

Tidak hanya sebagai pengepul, Bank Sampah Malang juga berperan sebagai fasilitator dalam memberi pembinaan dan pelatihan kepada masyarakat. Disini, Bank Sampah Malang menyediakan contoh produk karya masyarakat dan menjadi ruang display. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Produk yang dipajang di sini semuanya buatan warga. Kalau ada yang pesan, kami arahkan langsung ke pembuatnya,” tutur pengelola Bank Sampah Malang.

Produk kerajinan yang dipajang di Bank Sampah bukan milik institusi, melainkan milik para pengerajin warga. Ketika ada pesanan, pembeli langsung diarahkan kepada pembuatnya. Skema ini memberi ruang bagi warga untuk memperoleh keuntungan langsung dari hasil karyanya. Dalam beberapa kasus, hasil penjualan dibagi dengan sistem titip jual, di mana sebagian kecil masuk sebagai kas pengelolaan, sementara mayoritas menjadi hak pengrajin.

“Warga sekarang tidak hanya menabung sampah, tapi juga bisa menjual hasil kerajinannya sendiri. Dari situlah mereka mendapat tambahan penghasilan,” ungkapnya.

Sampah yang sebelumnya tidak bernilai kini bisa menjadi tambahan penghasilan. Warga tidak hanya mendapatkan uang dari tabungan sampah, tetapi juga dari penjualan produk kreatif. Nilainya memang tidak selalu besar, namun cukup untuk membantu kebutuhan rumah tangga dan menumbuhkan semangat berwirausaha berbasis lingkungan.

Dampak sosialnya pun signifikan, aktivitas produksi kerajinan mendorong interaksi antarwarga, membangun rasa percaya diri, serta menumbuhkan kebanggaan atas karya sendiri. Bank Sampah Malang menjelma menjadi ruang bersama, tempat berbagi pengetahuan dan keterampilan. Anak-anak dan generasi muda juga mulai terlibat, baik melalui kegiatan sosialisasi maupun praktik sederhana pengolahan sampah.

Dari sisi lingkungan, keberadaan Bank Sampah berkontribusi pada pengurangan sampah yang masuk ke TPA.

“Rata-rata setiap bulan kami mengelola sekitar 15 sampai 17 ton sampah anorganik yang semuanya dipilah dan disalurkan,” ujar pengelola.

Setiap bulannya, belasan ton sampah anorganik dapat dikelola melalui pemilahan, distribusi ke industri daur ulang, maupun diolah menjadi produk kerajinan. Kebiasaan memilah sampah di tingkat rumah tangga pun semakin tumbuh, didorong oleh insentif ekonomi dan program penghargaan dari pemerintah daerah.

Meski tantangan masih ada mulai dari konsistensi produksi, perluasan pasar, hingga regenerasi pengrajin Bank Sampah Malang menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat menjadi solusi berlapis.

 “Kalau sosialisasi dilakukan terus-menerus, masyarakat akan sadar karena mereka melihat langsung nilai rupiahnya,” ucapnya.

Sampah tidak hanya diselesaikan sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga diolah menjadi peluang ekonomi dan ruang pemberdayaan sosial.

Kisah ini menegaskan satu hal bahwa ketika masyarakat dilibatkan secara aktif, kreativitas dapat tumbuh dari hal yang paling dianggap remeh. Dari sampah rumah tangga, lahir produk bernilai dan rupiah yang berputar di tangan warga sebuah bukti bahwa solusi berkelanjutan bisa dimulai dari lingkungan terdekat.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.