
Foto: Dok Pribadi/Natera
Kota Batu – Halo Naters! Di banyak kota wisata, tumpukan sampah organik dari restoran, kafe, dan rumah makan sering kali berakhir membusuk di TPA. Padahal, menurut berbagai studi, sampah makanan menyumbang emisi gas metana yang 25 kali lebih kuat memerangkap panas dibanding karbon dioksida. Di Kota Batu yang dikenal sebagai kota wisata, aktivitas kuliner yang padat membuat produksi food waste meningkat, sementara lahan pembuangan kian terbatas.
Dampaknya tidak hanya mencemari tanah dan memicu bau menyengat, tetapi juga menyisakan jejak karbon yang panjang. Ketika sampah organik tidak dikelola dengan benar, ia kehilangan potensi untuk menjadi kompos, pakan ternak, atau sumber energi terbarukan.
Di tengah persoalan itu, sebuah kafe bernama Retrorika menawarkan sudut pandang berbeda. Usaha rintisan ini mengelola limbahnya hingga ke akar memisahkan sampah organik untuk pakan ternak di Retrofarm dan mendaur ulang anorganik melalui bank sampah. Dari dapur sederhana mereka, sebuah praktik ekologis dijalankan secara konsisten menunjukkan bahwa bisnis skala kecil pun bisa punya kontribusi nyata dalam mengurangi tekanan sampah kota.
Sampah Makanan Cafe Retrorika Jadi Pakan Ternak
Kategori organik di Retrofarm tidak berhenti pada satu tempat saja. Mereka memecahnya menjadi dua jenis yaitu organik konsumsi dan organik non-konsumsi. Sisa makanan dari pelanggan yang sudah dimasak, dan layak konsumsi akan menjadi pakan ternak.
“Sampah organik itu kami bagi dua. Satu yang sisa makanan kita yang dimakan manusia itu dikumpulkan jadi satu, terus diberikan ke ternak. Kami kerjasama dengan peternak dan kami juga punya ternak di situ,” jelasnya.
Sistem ini mengurangi beban sampah sekaligus menghemat biaya pakan. Jumlah limbah makanan yang berhasil dialihkan cukup besar, mengingat kapasitas kunjungan Retrorika yang terus meningkat. Dengan mengolahnya menjadi pakan, rantai produksi makanan mereka tidak hanya berhenti di meja pelanggan, tetapi berputar kembali dalam bentuk manfaat baru.
Tidak mengherankan, pendekatan sederhana ini memberi dampak signifikan. Limbah makanan, yang biasanya berakhir membusuk dan menghasilkan gas metana berbahaya, kini masuk ke sistem ekonomi sirkular skala kecil yang lebih ramah lingkungan.
Mengubah Daun & Kulit Buah Menjadi Tanah Subur
Sementara itu, organik non-konsumsi seperti daun pisang, kulit buah, dan sisa tanaman lain tidak cocok untuk pakan ternak. Limbah ini masuk ke jalur berbeda yaitu dilakukan komposting. Yang sampah organik misalnya dari daun, daun pisang, kulit buah, kan nggak mau itu dimakan ternak. Nah itu kami komposkan.
“yang sampah organik misalnya dari daun, daun pisang, kulit buah, kan nggak mau itu dimakan ternak. Nah itu kami komposkan. Kami punya komposter sendiri, dan sudah banyak kali panen,” katanya.
Prosesnya dimulai dengan pencacahan. Limbah diperkecil menggunakan mesin khusus agar lebih cepat terurai. Setelah itu, bahan-bahan tersebut dimasukkan ke komposter, diberi bakteri pengurai, dan disimpan selama lima hingga enam bulan.
Hasilnya tidak dibiarkan terbuang. Kompos tersebut dipakai untuk unit usaha lain bernama Retroplant, bisnis tanaman hias kreatif milik Retrorika. Media tanam yang mereka jual mulai dari pot kecil hingga tanaman besar menggunakan kompos hasil olahan mereka sendiri.
Dengan begitu, satu sumber daya bisa berputar dari dapur, ke tanah, lalu kembali menjadi produk ekonomi. Sistem ini adalah gambaran kecil dari bagaimana pengelolaan limbah skala mikro dapat berkontribusi pada keberlanjutan.
Anorganik Terolah, Bukan Terlupakan
Meskipun fokus utama Retrofarm adalah menangani sampah organik, Retrorika tidak menutup mata terhadap limbah anorganik yang jumlahnya juga signifikan. Kantong plastik, kemasan minuman, kotak susu, hingga kaleng bekas tetap memiliki tempat dalam sistem pengelolaan mereka.
Retrorika bekerja sama dengan bank sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, yang setiap waktu mengelola limbah anorganik bernilai daur ulang.
“Barang-barang yang bisa didaur ulang itu kami masukkan ke bank sampah,” jelasnya.
Dengan kerja sama ini, limbah anorganik yang sebelumnya berpotensi berakhir di TPA bisa dialihkan masuk ke rantai daur ulang yang lebih terjamin pengelolaannya.
Namun, yang membuat Retrorika berbeda adalah keberanian mereka untuk mengambil langkah tambahan. Tidak semua limbah anorganik dikirim ke bank sampah. Ada beberapa jenis yang mereka olah sendiri untuk kebutuhan internal, dan yang paling ikonik adalah pemanfaatan kotak susu UHT.
Kotak susu yang umumnya berlapis aluminium dan sering kali sulit didaur ulang oleh masyarakat umum ditangani dengan perlakuan khusus.
“Kotak susu itu kami bersihkan, kami keringkan, dipilok, dikasih stiker terus jadi packaging kaos,” tambahnya.
Prosesnya tidak sebentar, Kotak harus dicuci dengan sabun agar tidak berbau, dikeringkan sempurna untuk mencegah jamur, lalu disemprot cat (pilok) dan ditambahkan stiker desain khas Retrorika
Langkah kecil ini membuat dampak yang cukup besar. Selain mengurangi volume limbah anorganik, sistem ini juga memotong biaya produksi packaging, memperpanjang usia pakai material, serta memperkuat branding Retrorika sebagai usaha yang peduli terhadap lingkungan.