
Di Malang, sebuah usaha bernama Thrills4Life mengubah cara kita memandang sampah lewat gagasan sederhana: kresek jadi karya. Melalui proses upcycle kresek, usaha ini membuktikan bahwa kantong plastik sekali pakai yang biasanya hanya berakhir di TPA bisa berubah menjadi material baru yang kuat, estetik, dan bernilai.
Transformasi ini dijalankan oleh Cecilia, perajin yang awalnya menekuni ecoprint karena kecintaannya pada tanaman. Namun ketika melihat langsung tumpukan kantong plastik di acara dan TPA, ia merasa perlu melakukan sesuatu. “Kalau sudah cinta lingkungan, otomatis ingin merawat,” ujarnya.
Kementerian Lingkungan Hidup mencatat bahwa plastik adalah salah satu jenis sampah paling dominan dan paling sulit terurai.
Dari Kecintaan pada Tanaman ke Upcycle Kresek
Thrills4Life bergerak melalui dua jalur: Trilogic (ecoprint) dan Plastika Art (upcycle kresek). Trilogic lahir dari kecintaan Cecilia terhadap flora lokal mulai jati, ketepeng kebo, hingga daun mentor. Sementara Plastika Art muncul dari keprihatinannya terhadap kantong kresek yang menumpuk di mana-mana.
Saat pertama kali memperkenalkan konsep produk dari limbah, reaksi orang beragam. Ada yang kaget, ada yang tak percaya. “Orang masih mikirnya ‘ah cuma kresek’, padahal prosesnya panjang,” kata Cecilia. Tantangan terbesarnya adalah mengubah cara pandang masyarakat bahwa limbah bisa bernilai tinggi.
Setiap lembar kresek dipilah warna, dicuci, lalu di press dengan teknik tertentu hingga menjadi material yang tebal dan kokoh. Proses memadukan warna adalah bagian paling tricky. “Harus feeling banget, jangan terlalu tipis atau gosong,” ujarnya.
Berkat proses itu, banyak orang tak menyangka bahwa material akhirnya berasal dari plastik sekali pakai. Dampaknya pun terlihat: berkurangnya kresek yang dibuang, meningkatnya partisipasi masyarakat, hingga banyak komunitas ikut menyumbang sampah bersih untuk diolah.
Data KLHK menyebut 17–20% sampah nasional berasal dari plastik, dan sebagian besar berasal dari konsumsi sehari-hari
Dari Meja Pameran Lokal ke Melbourne dan Portugal
Ciri khas Thrills4Life sangat kuat: lembaran Plastika Art bertekstur seperti kulit sintetis namun berasal dari kresek, serta kain ecoprint bermotif daun dengan narasi flora lokal. Setiap produk selalu disertai cerita tentang daun, warna, dan prosesnya.
Kekuatan narasi itu membuat banyak hotel bekerja sama, dari Ijen Suites, Gets, hingga Songgoriti Hot Spring. Tamu hotel sering penasaran dan akhirnya membeli karena keunikannya.
Tidak berhenti di lokal, karya ecoprint Thrills4Life juga menembus pasar internasional. Motif daun mentor menarik pembeli dari Melbourne dan Portugal. Permintaan yang naik menuntut kualitas stabil warna harus tahan lama, bahan natural, dan proses benar-benar berkelanjutan.
Namun perjuangan paling melelahkan tetap edukasi. “Harus jelasin berkali-kali bahwa proses ini sustainable,” kata Cecilia. Fenomena greenwashing juga sering ia jumpai produk yang mengaku ramah lingkungan tetapi tidak jujur dari prosesnya.
Dalam lima tahun ke depan, Cecilia ingin lebih banyak orang memahami bahwa limbah bisa menjadi karya, serta memperkenalkan flora lokal ke ranah nasional hingga internasional.