
Foto:Dok Pribadi/Natera
Kota Malang – Halo Naters! Pagi itu, halaman sebuah sekolah dasar di kawasan Sawojajar, Kota Malang, riuh oleh suara anak-anak. Di tangan mereka bukan mainan, melainkan botol plastik bekas minuman. Ada yang masih utuh, ada yang sudah diremas. Di depan kelas, relawan iLitterless bercerita sederhana, ke mana sampah pergi setelah dibuang?
Pertanyaan itu menjadi pintu masuk iLitterless Go to School, sebuah inisiatif edukasi lingkungan yang menanamkan kebiasaan pilah sampah sejak usia dini. Tidak dengan nada menggurui, tapi lewat cerita, praktik langsung, dan contoh yang dekat dengan keseharian anak-anak.
Momen kecil ini menjadi bagian dari iLitterless Go to School, sebuah program edukasi lingkungan yang perlahan tapi konsisten masuk ke ruang-ruang belajar. Dimulai dari sekolah dasar, gerakan ini kini menjangkau berbagai jenjang pendidikan di Kota Malang, termasuk SDN Sawojajar 2, SD Muhammadiyah 4, SMPN 18 Malang, SMAS Brawijaya Smart School (BSS), hingga SMK Cor Jesu Malang.
“Anak-anak itu cepat menangkap kalau disampaikan dengan cara yang sederhana,” ujar Nina Amelia, Educational and Outreach Coordinator iLitterless.
Mengapa Sekolah Jadi Titik Awal
Masuknya iLitterless ke sekolah-sekolah bukan tanpa alasan. Menurut Nina Amelia, Educational and Outreach Coordinator iLitterless, sekolah adalah ruang paling strategis untuk membangun kebiasaan jangka panjang.
“Kalau kita ingin perubahan yang sustain, kita harus mulai dari usia paling muda. Anak-anak ini nanti yang akan tumbuh dengan kebiasaan baru, bukan sekadar ikut tren,” ujar Nina.
Di sekolah, sampah hadir setiap hari dari bungkus jajanan, botol minum, hingga kemasan makanan. Namun selama ini, sebagian besar berakhir tercampur tanpa proses pemilahan. Melalui iLitterless Go to School, siswa tidak hanya diajak mengenal jenis sampah, tetapi juga memahami dampaknya jika dibiarkan berakhir di TPA.
Pendekatan ini diterapkan secara bertahap. Di tingkat sekolah dasar seperti SDN Sawojajar 2 dan SD Muhammadiyah 4, fokus edukasi berada pada pengenalan dasar yaitu membedakan sampah organik dan anorganik, serta kebiasaan sederhana seperti membilas botol sebelum dibuang. Sementara di tingkat SMP dan SMA, diskusi mulai melebar ke isu konsumsi dan tanggung jawab individu.
Materi yang Dibuat Relatable
Respons dari siswa dan guru menjadi salah satu indikator keberhasilan program ini. Banyak guru menyambut baik kehadiran iLitterless karena memberikan praktik langsung yang selama ini sulit dilakukan di sekolah.
“Anak-anak jadi lebih berani bertanya dan mengingatkan. Bahkan ada yang mulai menegur temannya kalau buang sampah sembarangan,” ungkap Nina.
Di beberapa sekolah, perubahan kecil mulai terlihat. Tempat sampah yang sebelumnya hanya jadi simbol kini mulai digunakan sesuai fungsinya. Diskusi tentang sampah tidak lagi berhenti di kelas, tetapi terbawa hingga ke rumah.
Bagi iLitterless, perubahan ini mungkin belum besar secara angka. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Edukasi lingkungan tidak selalu tentang data tonase, melainkan tentang kebiasaan yang perlahan mengakar.
Melalui iLitterless Go to School, sekolah-sekolah di Malang menjadi ruang awal bagi generasi muda untuk memahami bahwa memilah sampah bukan hal rumit. Ia adalah tindakan kecil, yang jika dilakukan bersama, bisa membawa dampak panjang. Dari kelas, menuju kebiasaan dan dari kebiasaan, menuju perubahan.
Kampus sebagai Ruang Kolaborasi
Program edukasi iLitterless tidak berhenti di sekolah dasar. Di Malang, mereka memperluas jangkauan ke kampus, menjadikan mahasiswa bukan hanya audiens, tetapi mitra kolaborasi.
Di Institut Asia, iLitterless menempatkan Mobi RS 2.0, mesin setor botol plastik berbasis digital yang dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT). Mahasiswa yang menyetor botol plastik akan mendapatkan poin, yang kemudian bisa ditukar menjadi voucher.
“Mobi RS 2.0 ini kami taruh di Institut Asia sebagai bagian dari edukasi sekaligus praktik,” jelas Nina.
“Mahasiswa bisa langsung merasakan bahwa memilah sampah itu ada dampak dan insentifnya.”
Sementara itu, di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), iLitterless menghadirkan Mobi Girl, unit Mobi yang secara khusus menampung limbah skincare, body care, dan makeup. Penempatannya menyesuaikan karakter kampus dan aktivitas penggunanya.
Selain UMM dan Institut Asia, iLitterless juga berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya (UB), Universitas Merdeka (UNMER) dan Universitas Machung melalui edukasi, aktivasi, dan pelibatan mahasiswa dalam kampanye pengelolaan sampah.