
Foto : Dok Pribadi/Natera
Saat tumpukan kertas dari berbagai kantor di Kota Malang menunggu giliran untuk dibuang, pernahkah Naters membayangkan bahwa ada sebuah kisah yang perlahan tumbuh dari sisa-sisa yang sering luput dari penglihatan kita?
Dari sisa kertas yang selama ini hanya kita anggap limbah. Kisah ini muncul dari tepi jalan, lewat tangan sekelompok orang yang seringkali dipandang dengan kewaspadaan, tetapi kemudian justru menjadi pemantik langkah kreatif yang tak disangka-sangka.
Awal Mula Topeng Bubur Kertas
Mereka adalah “Preman Mengajar.” Nama yang terdengar kontras dengan apa yang kemudian mereka lakukan, yaitu mengolah limbah kertas menjadi Topeng Malangan.
Kisah ini bermula sekitar tahun 2015, ketika sekelompok preman mencoba mengkreasikan bubur kertas bekas menjadi topeng dan menjualnya di depan sekolah sebagai cara sederhana untuk menambah penghasilan.
Topeng-topeng itu terbuat dari bahan yang banyak di sekeliling kita, yaitu “kertas” namun bentuknya justru memancing rasa ingin tahu banyak siswa dan siswi di sekolah tersebut. Dari situ, tercipta interaksi awal yang menjadi pintu bagi sesuatu yang lebih besar.

Foto : Dok Pribadi/Natera
“Dulu kan emang ada seorang seniman, namanya preman mengajar. Akhirnya dia berinisiatif sama teman-temannya membuat ide kerajinan topeng dari kertas. Karena kertas itu kan sangat banyak,” ujar Erwin, salah satu pengelola koleksi Museum Singhasari, sambil duduk di ruang kerja museum.
Ketertarikan para siswa yang semakin tinggi lambat laun berubah menjadi permintaan untuk mencoba. Antusiasme itu kemudian mencuri perhatian pihak sekolah, yang melihat peluang edukasi dari aktivitas sederhana itu. Akhirnya, munculah permintaan sekolah kepada para pembuat topeng itu untuk berbagi keterampilan mereka.
“Dia mencoba jualan di depan sekolah, dan ada minat dari siswa-siswinya. Akhirnya ada beberapa sekolah yang ingin belajar. Akhirnya namanya preman mengajar,” jelasnya.
Dari sini, kegiatan itu tak hanya soal kerajinan tangan. Ia berubah menjadi ruang belajar antara pembuat topeng dan anak-anak sekolah. Sampah Kertas disobek, direndam, dihaluskan, dicampurkan dengan adonan, dimasukkan ke cetakan, dijemur, dan wajah-wajah baru pun terbentuk.
Program “Belajar Bersama”
Beberapa tahun kemudian, kegiatan ini berkembang menjadi aktivitas kreatif yang mudah untuk dilakukan. Pelatihan kecil bermunculan di sekolah-sekolah, kemudian di sanggar-sanggar lokal. Seniman juga mulai terlibat, membawa perspektif baru tentang tradisi topeng Malangan yang berusia ratusan tahun.
Hingga pada 2021, kegiatan ini terangkum dalam satu payung, yaitu “program Belajar Bersama”
Topeng bubur kertas ini akhirnya tidak lagi dianggap sebagai kerajinan sederhana berbahan limbah. Tetapi sebagai wadah yang mampu menjembatani tradisi dan inovasi, budaya dan keberlanjutan.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Titik balik terbesar datang pada 2024, ketika Museum Singhasari memutuskan untuk menggabungkan program ini ke dalam kurikulum edukasinya. Museum yang selama ini menjaga sejarah Panji Malangan melihat potensi untuk memadukan pelestarian budaya dengan praktik daur ulang.
“Kita ambil dari kantor museum ini kertas yang sudah tidak terpakai dan dari dinas. Biasanya dinas pariwisata yang kita ambil,” tambah Erwin.
Dalam sekali pengambilan, museum bisa membawa pulang tiga hingga empat dus kertas bekas. Kertas-kertas lama yang sudah usang itu dihancurkan menjadi bubur. Komposisinya berupa campuran bubur kertas, tepung kalsium, lem, dan sedikit semen dengan rasio 1:2, hingga menghasilkan fondasi yang lebih kuat dan tahan lama.
Di Museum Singhasari, edukasi berjalan secara berlapis. Pengunjung pertama-tama akan mengenal sejarah, memahami karakteristik topeng Malangan, kemudian masuk ke tahap kreatif, yaitu memberi warna-warna pada topeng bubur kertas untuk menghidupkan karakternya.
“Jadi dibuat program di Museum Singhasari namanya program ‘belajar bersama’ Setelah sejarah sekaligus edukasi tentang kesenian. Sehingga nanti akhirnya, kesenian ini nanti akan mau warnanya topeng seperti apa.” Jelasnya
Sekitar 14 kilometer di utara Kota Malang, Museum Singhasari ini berada di Kecamatan Singosari, sebuah titik tenang yang menyimpan banyak cerita lama di balik bangunan modernnya. Dari pusat kota, perjalanan singkat ke sana terasa seperti pindah suasana tanpa harus jauh-jauh.
Kegiatan mewarnai topeng di Museum Singhasari hadir sebagai pengalaman singkat yang tetap menghadirkan sentuhan edukasi tentang daur ulang. Dengan biaya sekitar dua puluh ribu rupiah, peserta sudah mendapat satu topeng bubur kertas beserta cat pewarna.
Prosesnya berlangsung santai di pendopo museum, sambil mengenal bahan-bahan topeng yang berasal dari kertas sisa kantor. Setelah kering, peserta bisa membawa pulang topeng buatan mereka sebagai kenang-kenangan.
Warnai Topengmu!

Foto : Dok Pribadi/Natera
Seringkali ketika kita melewati pendopo Museum Singhasari, akan tampak deretan topeng bubur kertas dengan beragam macam warna yang sedang mengering. Setiap topeng berbeda bentuk, berbeda guratan cat, membentuk karakter berbeda. Tidak ada satu pun yang identik, meski semuanya berasal dari tumpukan limbah kertas yang sama.
Topeng-topeng itu menyimpan perjalanan panjang, bermula dari pinggir jalan sebagai karya sederhana, kemudian masuk ke ruang kelas ketika para siswa mulai mempelajarinya. Dari sana, proses kreatifnya berkembang di sanggar seni bersama para perajin dan seniman lokal.
Hingga akhirnya, topeng-topeng ini menjadi bagian dari pendidikan budaya di museum, membawa jejak perubahan dari karya jalanan menjadi satu wadah pelestarian tradisi yang berkelanjutan.
“Apa pun limbah yang kita buang, bisa kita olah menjadi berbagai bentuk.” Ujarnya sambil tersenyum kecil.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya kadang lahir dari usaha kecil oleh orang-orang yang tidak pernah terbayangkan akan terlibat dalam proses ini. Bahwa limbah dapat menjadi awal dari karya. Bahwa kreativitas mampu menghubungkan tradisi dengan kebutuhan zaman.
Dari penjualan sederhana di depan sekolah, hingga menjadi program resmi museum, kisah topeng bubur kertas ini mengingatkan akan perubahan sering kali tumbuh dari tempat-tempat yang tidak kita duga.
Dan dalam tumpukan kertas tak terpakai itu, tersimpan kemungkinan yang lebih besar daripada hanya berakhir menjadi sampah, tetapi sebuah ruang bagi seni, bagi pembelajaran, dan bagi upaya sederhana menjaga keberlanjutan lingkungan.