Jerhemy Owen Ungkap Culture Shock Cara Buang Sampah di Indonesia

Jerhemy Owen saat Talkshow Telkom Sustainability
Jerhemy Owen berbagi cerita soal budaya sampah dan gaya hidup berkelanjutan dalam Webinar Awarding Session Bumi Berseru Fest 2025 oleh Telkom Indonesia dan Danantara Indonesia.
Foto : Dokumentasi Talkshow Telkom Sustainability

Jerhemy Owen mungkin sudah tidak asing lagi bagi Naters. Konten kreator yang akrab disapa Owen ini kerap membagikan keresahannya soal lingkungan dan gaya hidup berkelanjutan.

Namun, Owen tidak langsung bicara soal krisis iklim. Ia justru mulai dari hal sederhana, yaitu cara orang membuang sampah.

Pengalaman itu muncul saat ia tinggal di Belanda. Di sana, Owen melihat kebiasaan masyarakat yang jauh berbeda dari Indonesia.

Cerita itu ia bagikan dalam Talkshow Awarding Day Bumi Berseru Fest bertema “Sustain The Hype, Scale The Impact: Dari Aksi Lokal ke Dampak Berkelanjutan” pada 25 April 2026.

Talkshow tersebut hadir lewat kolaborasi Telkom Sustainability, Telkom Indonesia, dan Bumi Berseru Fest. Fahrein Rachel Latsha memandu diskusi bersama Jerhemy Owen sebagai narasumber utama.

“Di Indonesia, orang orang masyarakat Indonesia itu terlalu gampang buat buang sampah. Kalau di sana, buang sampah itu susah.”

Kalimat itu keluar begitu saja saat Jeremy berbincang bersama peserta Talkshow. Nada suaranya terdengar santai, tetapi kritiknya terasa tajam.

Owen bercerita soal kebiasaan kecil yang dulu sering ia anggap biasa. Salah satunya saat ingin membuang baterai bekas.

Di Belanda, baterai tidak boleh bercampur dengan sampah rumah tangga. Orang harus menaruhnya di tempat khusus limbah B3. Sementara di Indonesia, hampir semua sampah bercampur jadi satu. Mulai dari plastik, sisa makanan, sampai baterai bekas.

Owen mengaku sempat bingung saat pulang ke Indonesia. Ia tidak tahu harus membuang baterai ke mana.

“Ini gua buang kemana? Baterai kayak bingung sendiri, kan? Karena semua dicampur gitu.” ujarnya saat menceritakan culture shock yang ia rasakan setelah kembali ke Indonesia.

Culture shock itu tidak berhenti di sana. Owen juga pernah kesulitan saat ingin membuang kasur bekas.

Kasur rusak itu tidak bisa langsung ia taruh di pinggir jalan. Ia harus membuat janji dengan dinas pengangkut sampah.

“Aku mau buang kasur aja kayak aku harus bikin janji sama dinasnya untuk mengambil sampah.”

Bahkan, Ia harus membayar biaya layanan. Proses pengambilan pun tidak datang dalam hitungan jam. Ia perlu menunggu beberapa hari. Semua terasa ribet dan panjang.

Namun justru dari situ Owen melihat sesuatu yang menarik. Kesulitan itu membuat orang berpikir lebih lama sebelum membeli barang.

Jerhemy Owen dan Kebiasaan Konsumsi yang Berubah

Di Belanda, orang tidak mudah membuang barang. Mereka lebih memilih memberi, menjual, atau memakai ulang. Owen melihat kebiasaan itu tumbuh karena sistem berjalan ketat, di mana aturan memaksa orang lebih sadar terhadap sampah.

Jerhemy Owen dan Fahrein Rachel Latsha dalam Talkshow Telkom Sustainability
Jerhemy Owen bersama Fahrein Rachel Latsha selaku Host membahas budaya sampah dan gaya hidup berkelanjutan dalam Webinar Awarding Session Bumi Berseru Fest 2025.
Foto : Dokumentasi Talkshow Telkom Sustainability

“Kalau kita enggak pilah sampah, sampahnya enggak diambil.”

Aturan itu terdengar sederhana. Tetapi dampaknya besar bagi pola konsumsi masyarakat. Orang jadi lebih hati-hati sebelum belanja. Mereka mulai mempertimbangkan umur pakai sebuah barang.

“Daripada ribet buang sampah atau daripada gua buang… mendingan gua kasih orang aja yang membutuhkan.”

Owen merasa Indonesia justru bergerak sebaliknya. Buang sampah terasa terlalu mudah.

Orang bisa membuang barang kapan saja. Kadang bahkan langsung ke sungai atau lahan kosong.

Akibatnya, masyarakat jarang berpikir panjang sebelum membeli sesuatu. Barang rusak sedikit langsung berganti baru. Padahal, sampah tidak pernah benar-benar hilang, tapi hanya berpindah tempat.

Owen percaya masalah lingkungan tidak cukup selesai lewat kampanye besar. Perubahan juga lahir dari kebiasaan kecil sehari-hari.

Menurutnya, gaya hidup ramah lingkungan bukan lagi tren media sosial. Semua itu sudah masuk fase bertahan hidup.

“Kalau misalkan kita enggak hidup ramah lingkungan, itu kita enggak bisa survive ke depannya.”

Karena itu, ia merasa semua orang perlu mulai dari langkah sederhana. Tidak perlu langsung sempurna.

Ia sendiri percaya setiap orang punya proses berbeda. Tidak semua perubahan harus besar dalam satu waktu.

“Mulai dari hal yang paling simpel. Mulai dari hal yang paling kecil yang enggak bikin kalian ribet.”

Baginya, masalah sampah bukan cuma soal tempat pembuangan. Tetapi soal kebiasaan yang terus kita pelihara setiap hari.

Dan mungkin, perubahan memang harus mulai dari rasa tidak nyaman saat membuang sesuatu.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.