
Malang – Bagaimana Kampanye 3L (Lipat, Letak, Lepas) yang digagas Tetra Pak diterapkan di Malang Raya melalui kemitraan dengan iLitterless Indonesia dibahas dalam liputan bersama Nina Amelia, Education and Outreach Coordinator iLitterless. Dalam skema ini, iLitterless berperan sebagai collection partner yang mengumpulkan dan mengelola kemasan pascakonsumsi khususnya kotak susu dari sekitar 30 kafe mitra agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Kotak susu kerap diperlakukan seperti karton biasa. Ringan, praktis, dan sering langsung dibuang. Padahal, kemasan ini tersusun dari lapisan kertas, plastik, dan aluminium yang membutuhkan perlakuan khusus agar dapat diproses di fasilitas daur ulang. Tanpa penanganan yang tepat sejak sumbernya, kemasan berlapis ini mudah tersisih dari sistem daur ulang.
Kampanye 3L, Inisiatif Produsen untuk Pascakonsumsi
Kampanye 3L (Lipat, Letak, Lepas) merupakan inisiatif Tetra Pak sebagai bagian dari pengelolaan kemasan pascakonsumsi dan penerapan prinsip Extended Producer Responsibility (EPR). Kampanye ini menyederhanakan langkah penanganan kemasan bekas minum agar memenuhi standar daur ulang.
Lipat berarti membuka dan melipat kemasan untuk mengurangi sisa cairan dan volume. Letak mengacu pada menempatkan kembali komponen kecil (seperti sedotan) ke dalam kemasan. Lepas berarti melepaskan bagian tertentu sesuai petunjuk agar pemilahan material di pabrik menjadi lebih efisien.
“Kelihatannya sepele, tapi tiga langkah ini menentukan apakah kemasan bisa diterima pabrik daur ulang,” ujar Nina Amelia.
Peran iLitterless sebagai Collection Partner di Malang Raya
Dalam pelaksanaan di tingkat lokal, iLitterless Indonesia ditunjuk oleh Tetra Pak sebagai collection partner untuk wilayah Malang Raya. Peran ini mencakup pengumpulan kemasan pascakonsumsi dari mitra kafe dan masyarakat, pengelolaan pemilahan, serta memastikan aliran kemasan menuju fasilitas daur ulang yang sesuai.
Pelurusan peran ini penting, iLitterless bukan penggagas kampanye 3L, melainkan mitra pelaksana di lapangan yang menjembatani edukasi, pengumpulan, dan pengelolaan kemasan dari sumbernya.
Mengapa Kafe Menjadi Titik Awal
Menurut Nina, kafe dipilih sebagai titik awal karena menghasilkan kotak susu dalam jumlah konsisten setiap hari. Hampir semua kafe menggunakan susu UHT sebagai bahan baku utama minuman.
“Semua kafe pakai susu. Itu yang paling banyak,” katanya.
Fokus pada satu jenis sampah terlebih dahulu dipilih agar mudah dipahami dan diterapkan oleh staf kafe yang bekerja dengan ritme cepat.
Pendekatan bertahap ini memudahkan internalisasi kebiasaan 3L tanpa membebani operasional. Kotak susu menjadi pintu masuk sebelum praktik memilah meluas ke jenis sampah lain.
Dari Edukasi Barista ke Rutinitas Harian

Implementasi 3L tidak berhenti pada materi visual. iLitterless melakukan edukasi langsung kepada barista dan kru kafe pihak yang paling sering bersentuhan dengan kemasan susu.
“Kalau cuma ditempel poster tapi orangnya tidak paham, ya percuma,” ujar Nina.
Saat ini, sekitar 30 kafe mitra telah menerapkan 3L dalam rutinitas harian. Kotak susu yang diperlakukan sesuai panduan kemudian dikumpulkan terpisah dan dijemput berkala oleh iLitterless sebagai collection partner.
Terhubung ke Jalur Daur Ulang
Kemasan yang terkumpul dikirim ke fasilitas daur ulang rekanan dalam skema EPR Tetra Pak. Alur ini memastikan kemasan tidak sekadar berpindah tempat, tetapi benar-benar diproses.
“Kami jemput dari kafe, lalu kami kirim ke pabrik daur ulangnya,” kata Nina.
Informasi umum tentang pendekatan pengelolaan dan kampanye edukasi iLitterless tersedia di laman resmi
Laporan sebagai Alat Refleksi
Selain pengumpulan, kafe mitra menerima laporan berkala terkait jumlah kotak susu yang terkumpul. Laporan ini membantu kafe merefleksikan pola konsumsi dan operasional.
“Di akhir bulan, kami kirim laporan. Jadi mereka tahu, sampah kotak susu mereka ada berapa kilo,” ujar Nina.
Tantangan Konsistensi
Tantangan utama adalah menjaga konsistensi di tengah kesibukan operasional dan pergantian staf. Tantangan lain adalah persepsi lama bahwa kotak susu “tidak bernilai”.
“Di Malang belum banyak pihak yang bisa mengelola kotak susu. Itu yang bikin orang malas memilah,” kata Nina.
Kehadiran sistem lanjutan menjadi kunci untuk mematahkan persepsi tersebut.
Edukasi yang Relevan untuk Anak Muda
Sebagai organisasi yang digerakkan anak muda, iLitterless mengemas edukasi 3L dengan bahasa ringan dan visual yang mudah dipahami melalui kolaborasi kafe, media sosial, dan aktivitas komunitas.
“Kalau terlalu ribet, orang nggak mau mulai. Jadi kami ajak dari yang paling gampang,” ujar Nina.
Dari Kafe ke Dampak yang Lebih Luas
Bagi iLitterless, implementasi 3L adalah pintu masuk membangun kebiasaan memilah yang lebih luas. Dimulai dari kafe ruang konsumsi harian praktik ini diharapkan menular ke rumah tangga dan ruang publik lain.
Di tengah persoalan sampah perkotaan, kampanye 3L menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil asal peran jelas, sistem tersedia, dan kemitraan produsen-NGO berjalan konsisten.