Kampung Eco Desa yang Mengubah Sampah Jadi Kehidupan

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan Pembinaan dan Sosialisasi Kampung Hijau dalam Rangka Persiapan Evaluasi Kampung Hijau
Foto :  DLH Sleman sedang sosialisasi program kampung hijau di Lumbungrejo

Natera.id— Naters tau gak sih? Di tengah maraknya isu lingkungan global, masih ada titik-titik kecil di Indonesia yang menjadi sumber harapan kampung-kampung yang berupaya menata kembali hubungan antara manusia dan alam. Salah satunya adalah Kampung Hijau di Sleman, sebuah inisiatif yang tumbuh dari kesadaran warga untuk hidup selaras dengan lingkungan. Program ini bukan sekadar proyek pemerintah, melainkan gerakan kolektif yang menunjukkan bahwa perubahan besar bisa bermula dari langkah kecil di halaman rumah sendiri.

Kampung Eco di Sleman menjadi contoh nyata bahwa kesadaran lingkungan tidak harus dimulai dari kebijakan besar di tingkat nasional, melainkan bisa tumbuh dari semangat masyarakat akar rumput. Warga bergotong royong menjaga kebersihan sungai, mengelola sampah secara mandiri, dan menanam pohon di lahan kosong. Di beberapa sudut kampung, terlihat deretan tanaman obat keluarga, kebun vertikal, serta tempat kompos sederhana hasil kreasi warga. Sumber

Menurut salah satu pejabat Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman yang diwawancarai oleh Infopublik.id, program Kampung Hijau lahir untuk mendorong masyarakat berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam, bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai penggerak utama. Namun, yang menarik adalah bagaimana masyarakat kemudian menafsirkan program itu bukan sekadar rutinitas bersih-bersih, melainkan sebagai gaya hidup baru yang berkelanjutan.

Kini, banyak warga Sleman yang mengubah cara pandang mereka terhadap sampah. Jika dulu sampah dianggap sebagai beban, kini mereka melihatnya sebagai potensi. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik disortir untuk dijual atau dijadikan bahan kerajinan. Di salah satu RW di Kecamatan Ngaglik, kelompok ibu-ibu bahkan berhasil memproduksi tas dan pot bunga dari plastik bekas yang sebelumnya hanya menumpuk di halaman rumah.

Dalam laporan Times Indonesia, disebutkan bahwa Pemkab Sleman juga berperan aktif memberikan pendampingan dan pelatihan bagi warga agar lebih terampil mengelola limbah rumah tangga. Pendekatan yang digunakan bukan lagi bersifat top-down, tetapi lebih partisipatif dan berbasis komunitas. Dinas Lingkungan Hidup memberikan fasilitasi alat komposter, bibit tanaman, hingga pelatihan pembuatan eco-enzym, sehingga masyarakat dapat belajar langsung mengubah kebiasaan lama menjadi perilaku yang ramah lingkungan.

Dampaknya tidak hanya terlihat dari sisi kebersihan, tetapi juga dari kualitas sosial warga. Banyak warga yang mengaku bahwa kegiatan gotong royong menjaga kebersihan lingkungan membuat hubungan antarwarga semakin erat. “Kami merasa seperti memiliki tujuan bersama, bukan hanya membersihkan sampah, tapi juga menjaga warisan untuk anak cucu,” ujar salah satu warga yang dikutip oleh Times Indonesia (dalam parafrasa).

Lebih jauh lagi, program Kampung Hijau juga menjadi ruang edukasi ekologis bagi generasi muda. Sekolah-sekolah di sekitar kampung kini rutin melibatkan siswa dalam kegiatan menanam pohon, memilah sampah, hingga lomba daur ulang kreatif. Langkah ini menumbuhkan nilai tanggung jawab sejak dini, bahwa menjaga bumi bukan tugas orang dewasa saja, melainkan tanggung jawab bersama.

Namun, di balik keberhasilannya, masih ada tantangan yang perlu dihadapi. Tidak semua warga memiliki tingkat kesadaran yang sama, dan belum semua kawasan di Sleman memiliki fasilitas pengelolaan sampah terpadu. Di sinilah pentingnya dukungan berkelanjutan dari pemerintah, swasta, dan akademisi agar gerakan seperti Kampung Hijau tidak berhenti sebagai proyek sesaat.

Gerakan Kampung Eco menjadi refleksi bahwa transformasi lingkungan tidak selalu memerlukan dana besar atau teknologi canggih. Cukup dengan kesadaran, kemauan, dan kolaborasi antar warga, perubahan nyata bisa diwujudkan. Dari kampung-kampung inilah masa depan hijau Indonesia perlahan disemai.

Karena sejatinya, menjaga lingkungan bukan soal siapa yang paling peduli, tetapi siapa yang paling konsisten. Alam tidak membutuhkan manusia untuk tetap hidup manusialah yang membutuhkan alam untuk tetap bernapas. Sumber

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.