Karya Yustin yang Satukan Kemasan Plastik dan Batik Tulis

Manekin mengenakan koleksi busana Yust Collection berbahan perca batik
Manekin yang mengenakan koleksi Yust Collection, busana berbahan perca batik dari sisa kain produksi agar tak berakhir sebagai sampah.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Di sebuah ruang kerja sederhana, potongan plastik kemasan berwarna-warni bertumpukan berdampingan dengan kain batik tulis. Di sinilah Yustin menyalurkan kreativitasnya, menyulap benda-benda yang sering berakhir di tempat sampah menjadi karya baru yang penuh makna.

Yustin memadukan limbah plastik dan kain perca batik dengan sentuhan yang pas, lalu merangkainya menjadi produk-produk fungsional yang juga bercerita. Bagi Yustin, keduanya saling melengkapi, batik menjaga nilai budaya, sementara plastik menjadi pengingat nyata akan persoalan lingkungan kita saat ini.

Berangkat dari Batik Tulis

Perjalanan Yustin bermula dari batik tulis. Selama bertahun-tahun, ia menekuni proses membatik yang sarat akan nilai tradisi dan ketelatenan. Namun pada 2019, Ia melihat dua hal yang terus hadir bersamaan. Sisa kain batik dari proses produksi dan tumpukan plastik kemasan sekali pakai yang selalu bertambah setiap hari. Dari situ, ia mulai bereksperimen.

Ia merambah karya daur ulang non-logam, memadukan kain perca batik tulis dengan plastik bekas kemasan sachet. Dua dunia yang berbeda, tradisi dan limbah, namun ia satukan dalam satu karya.

“Kemudian daur ulangnya juga. Nah, aku kadang juga mix keduanya. Antara batik dengan daur ulangnya tak mix,” ujar Bu Yustin.

Kemasan Plastik andalan Yustin

Yustin sering mendaur ulang plastik multi lapis dalam kemasan berbentuk saset sebagai salah satu limbah pilihannya. Mulai dari bungkus makanan instan, bungkus kopi hingga produk perawatan tubuh seperti sabun cair atau shampoo sachet. 

Melansir dari laman Waste4Change, plastik multi-lapis tergolong sangat sulit didaur ulang. Setiap kemasan terdiri dari beberapa lapisan mulai dari lapisan penyegel, pelindung, hingga lapisan cetak yang memiliki titik leleh berbeda. Perbedaan karakter inilah yang membuat proses peleburan plastik jenis ini menjadi sulit dan jarang masuk sistem daur ulang konvensional.

Karena itu, langkah daur ulang yang Yustin ambil menjadi upaya sederhana untuk menyikapi kemasan saset yang akrab di keseharian kita, tetapi kerap kali berakhir sebagai sampah abadi yang tinggal di dalam bumi setelah sekali pakai.

Yustin yang “Senang Dapat Sampah”

Di tengah sulitnya pengolahan kemasan plastik saset, Yustin justru melihat peluang. Limbah yang sering ditolak sistem daur ulang itu ia jadikan bahan utama. Ruang kerjanya yang penuh dengan potongan plastik kemasan yang telah bersih,

Pendekatan yang ia lakukan tak jauh berbeda dengan ecobrick, tetapi hasil akhirnya langsung berbentuk produk yang siap pakai.

Yustin duduk sambil menunjukkan produk Yust Collection
Yustin menunjukkan langsung koleksi tas buatannya ke Tim Natera. Ia Memperlihatkan bagaimana plastik bekas dapat menjadi produk yang fungsional dan ramah lingkungan tentunya.
Foto : Dok Pribadi/Natera

“Jadi aku senang banget kalau ada yang ngasih, malah ngasih sampah. Ya, soalnya memang dibutuhkan gitu loh,” katanya.

Tetangga sekitar sudah memahami kebiasaan itu. Plastik yang Yustin terima harus dalam kondisi bersih, dan proses pengolahannya pun tidak selalu ia lakukan sendiri. Aktivitas ini menjadi ruang kebersamaan dengan keluarga, terutama sang ibu.

“Ini yang gunting-gunting ini ibu aku. Jadi daripada diam sambil gunting-gunting seperti ini lah.”

Potongan plastik berwarna-warni yang tersusun secara abstrak, membentuk pola berbeda pada tiap tas, dan tak ada potongan yang terbuang.

“Ini juga perca-perca yang kecil-kecil pun aku enggak buang, jadi aku bikin kayak gini juga,” tambahnya sambil menunjukkan hasil karyanya.

Karya Terus Mengalir, Prinsip Tak Tergoyahkan

Tas-tas karya Bu Yustin tidak berhenti sebagai eksperimen saja. Produk ini menemukan pasarnya. Hampir setiap hari Yustin memproduksi tas, terutama menjelang momen tertentu ketika permintaan meningkat.

“Setiap hari produksi. Soalnya aku kan juga, apalagi ini mau tahun baru, mau lebaran, kan dekat ya ini ya. Aku harus bikin banyak ini, tas-tas kayak gini,” jelasnya.

Tas handmade karya Yustin yang berbahan jeans bekas dan plastik bekas
Salah satu karya tas oleh Yustin yang dibuat dari jeans bekas dengan kombinasi potongan sampah plastik bekas sehari-hari. Potongan plastik yang tersusun acak membentuk pola mozaik yang menarik.
Foto : Dok Pribadi/Natera

Dari sisi ekonomi, usaha ini relatif efisien. Modal utama digunakan untuk membeli ring tas, resleting, lem, dan cat. Selebihnya, Bu Yustin berpegang pada prinsip daur ulang total. Plastik bukan satu-satunya material yang ia manfaatkan. Limbah tekstil juga menjadi bagian dari karyanya.

Denim Bekas yang Berlanjut

“Nah kayak gini, ini kan celana jeans yang sudah bekas, jadi celana jeans yang sudah sobek gitu, aku cuci, aku laundry-kan,” ceritanya.

Denim tersebut dipotong kecil-kecil, lalu dipadukan dengan potongan plastik. Meski masih ada komponen yang harus dibeli baru, semangat memanfaatkan bahan sisa terus dijaga. Ia bahkan mencari perca dari pengrajin sepatu dan tas.

“Kemudian aku potong-potong mix sama ini jadi ini. Jadi ya sebisa mungkin benar-benar daur ulang.”

Setiap karya yang lahir dari tangan Bu Yustin menyimpan dua misi. Di satu sisi, kemasan plastik yang sulit didaur ulang, diselamatkan dari potensi mencemari lingkungan. Di sisi lain, kain perca batik tulis tetap hidup, tidak berhenti sebagai sisa produksi.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.