
Foto:Dok Pribadi/Natera
Kota Blitar – Halo Naters! Di banyak desa, abu sisa pembakaran sampah sering dianggap tak lagi punya nilai. Ia menjadi akhir dari sebuah proses dibuang, ditimbun, lalu dilupakan. Padahal, abu menyimpan jejak dari berbagai jenis limbah rumah tangga plastik, kertas, hingga residu lain yang tak lagi bisa diolah. Di desa Jatinom, abu justru menjadi medium baru untuk bercerita tentang ketekunan, perubahan, dan seni yang tumbuh dari kerja sunyi mengelola sampah.
Perjalanan ini bermula sejak 2014, saat persoalan sampah di desa masih jauh dari kata tertata. Warga terbiasa membuang sampah ke sungai, kebun, atau lahan kosong. Tidak ada sistem pengambilan, tidak ada tempat pengolahan, dan sampah dianggap urusan masing-masing rumah. Ketika desa mencari kader untuk menjadi pengambil sampah, tak satu pun anak muda bersedia. Bau, kotor, dan stigma sosial membuat pekerjaan ini dihindari.
Menemukan Candi Penataran di Tengah Tumpukan Limbah
Inspirasi seni itu datang dari rutinitas yang paling melelahkan: memilah sampah. Setiap hari, tumpukan plastik, kertas, dan residu harus dipisahkan satu per satu. Di tengah pekerjaan itulah ia menemukan sebuah miniatur candi yang rusak, retak, kusam, dan nyaris tak berbentuk. Benda itu kemungkinan dibuang karena dianggap tak lagi berguna.
Tidak ikut dibakar atau ditimbun, miniatur candi itu justru dibawa pulang. Ia merasa ada sesuatu yang sayang untuk dihilangkan begitu saja. Di rumah, candi kecil itu diperbaiki perlahan. Disambung, dibersihkan, dan dirapikan. Prosesnya tidak instan, tetapi memberi kepuasan tersendiri.
“Waktu itu saya nemu candi kecil tapi rusak, terus saya bawa pulang, Tak perbaiki, pelan-pelan.” tuturnya.
Dari situ, muncul pemikiran sederhana namun menentukan arah selanjutnya. Jika miniatur candi yang rusak bisa diperbaiki, mungkinkah membuat candi baru dari bahan yang selama ini dianggap tak berguna?
Abu Pembakaran yang Berubah Makna
Di TPS, pembakaran sampah residu menjadi bagian dari proses yang tak terhindarkan. Abu sisa pembakaran biasanya hanya dianggap sisa akhir tak bernilai dan tak tersentuh. Namun ia melihat tekstur abu yang halus dan mudah dibentuk jika dicampur bahan tertentu
Ia mulai bereksperimen secara mandiri. Abu dicampur, dicetak, lalu dikeringkan. Banyak percobaan gagal. Cetakan retak, bentuk hancur, atau hasilnya rapuh. Tapi proses itu terus diulang, seiring keyakinannya bahwa sampah harus diberi kesempatan kedua.
“Awalnya sering gagal, pecah terus, Tapi lama-lama ketemu caranya.” katanya.
Dalam tahap awal itu, ia sempat meminta bantuan seorang temannya bukan untuk mengolah abu, melainkan khusus membuatkan cetakan. Cetakan tersebut dibuat dari bahan sederhana agar bisa meniru bentuk candi yang diinginkan. Setelah cetakan jadi, seluruh proses berikutnya kembali ia kerjakan sendiri, dari pencampuran bahan, pencetakan, hingga pengeringan.
Menariknya, produksi miniatur candi ini tidak dilakukan dalam satu waktu khusus. Di sela-sela kesibukannya sebagai pengelola sampah, ia menyempatkan diri membuat satu miniatur candi sebelum berangkat kerja. Waktu pagi menjadi ruang tenang untuk bekerja dengan abu, sebelum aktivitas pengambilan dan pemilahan sampah dimulai.
“Satu hari itu paling satu candi. Biasanya sebelum berangkat kerja,” tuturnya.
Bagi dirinya, produksi satu candi setiap hari bukan sekadar rutinitas. Itu adalah cara menjaga konsistensi, sekaligus pengingat bahwa perubahan tidak selalu lahir dari langkah besar. Kadang, cukup satu karya kecil yang dibuat dengan sabar bahkan sebelum hari kerja dimulai.
Dari Residu Menjadi Identitas
Seiring waktu, karya-karya tersebut mulai dikenal di lingkup sekitar. Beberapa desa di Kecamatan Kanigoro mulai memesan miniatur candi buatannya. Ada yang digunakan sebagai cinderamata desa, ada pula yang dijadikan pajangan kantor atau ruang publik. Bagi warga yang mengenalnya sejak awal, perubahan ini terasa kontras. Abu yang dulu identik dengan bau dan kotoran, kini hadir dalam rupa benda estetik yang memiliki nilai.
Karya ini juga menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah tidak selalu berakhir di mesin, komposter, atau tempat pembuangan akhir. Di tangan orang-orang yang bersedia bertahan, bahkan sisa paling akhir pun masih bisa diberi kehidupan kedua. Dari abu sampah, lahir bukan