
Foto: Dok Pribadi/Natera
Pagi itu, suasana kampus Universitas Muhammadiyah Malang berjalan seperti biasa. Mahasiswa berlalu-lalang dengan kopi susu di tangan, tas selempang di bahu, dan earphone yang tak lepas dari telinga. Namun di salah satu sudut kampus, beberapa dari mereka berhenti sejenak membuka tas, mengeluarkan botol plastik atau kemasan skincare, lalu memasukkannya ke sebuah dropbox berwarna cerah.
Tidak ada poster larangan. Tidak ada jargon berat soal krisis iklim. Yang ada hanya satu pesan sederhana setor sampahmu, mulai dari yang paling mudah.Di sanalah iLitterless hadir di UMM bukan sebagai pengingat dosa ekologis, tapi sebagai teman yang mengajak pelan-pelan.
Berangkat dari Nongkrong, Lahir Sebuah Gerakan
Gerakan iLitterless tidak lahir dari ruang rapat atau forum akademik, melainkan dari kebiasaan nongkrong. Education and Outreach Coordinator iLitterless, Nina Amelia, melihat satu pola yang terus berulang, kafe selalu menghasilkan sampah dalam jumlah besar, terutama dari kemasan minuman.
“Berangkatnya itu dari hal yang sangat dekat sama kami. Nongkrong di kafe, tapi kok sampahnya banyak banget. Terutama kotak susu, itu pasti ada di semua kafe,” ujar Nina Amelia
Kesadaran itu semakin kuat ketika pandemi datang. Aktivitas berpindah ke rumah, dan sampah rumah tangga justru melonjak. Titik baliknya terjadi saat Nina Amelia menonton dokumenter Plastic Ocean, yang memperlihatkan dampak sampah plastik terhadap biota laut.
“Di situ ada rasa emosional. Kenapa makhluk lain yang nggak tahu apa-apa justru harus menanggung akibatnya sampai mati karena sampah,” tuturnya.
Dari kegelisahan personal itulah iLitterless lahir dengan misi membuat orang memproduksi sampah lebih sedikit dari biasanya.
Kampus, Ruang Tumbuh Kebiasaan Baru
Masuknya iLitterless ke UMM bukan tanpa alasan. Kampus dipandang sebagai ruang strategis untuk menanamkan kebiasaan. Mahasiswa datang dari berbagai latar belakang dan akan kembali ke masyarakat dengan nilai yang mereka bawa.
Di UMM, iLitterless hadir dengan pendekatan sistemik edukasi, layanan penjemputan sampah terpilah, hingga pendampingan. Sampah yang disetor bukan sekadar dikumpulkan, tapi diperlakukan sebagai data mencerminkan pola konsumsi mahasiswa.
“Jenis sampah yang disetorkan itu sebenarnya menggambarkan apa yang teman-teman konsumsi sehari-hari,” ujar Nina. “Dari kafe itu paling banyak kotak susu, dari mahasiswa kos biasanya kemasan plastik dan skincare.”
Data itu menjadi cermin, bukan alat menyalahkan.
Edukasi Tanpa Menggurui, Cara Gen Z
Alih-alih menuntut kesempurnaan, iLitterless justru mengajak mahasiswa memulai dari langkah paling sederhana. Tidak harus langsung memilah banyak jenis sampah.
“Kalau nggak suka pilah sampah yang ribet, nggak apa-apa. Mulai dari satu aja dulu. Botol plastik, atau kemasan skincare,” ujar Nina.
Pendekatan ini terasa relevan bagi Gen Z generasi yang cenderung alergi pada ceramah, tapi responsif terhadap ajakan yang praktis dan fun. Edukasi dikemas lewat Instagram, aktivasi kampus, hingga sistem reward.
Setor sampah, unggah story, dapat voucher ngopi. Bagi iLitterless, cara-cara seperti ini bukan gimmick, melainkan strategi membangun kebiasaan.
Ruang Aman untuk Belajar Bersama
Yang membedakan iLitterless di UMM adalah suasana yang mereka bangun. Mahasiswa bebas bertanya, mencoba, bahkan salah.
“Kita pengin jadi kayak teman. Kalau ada yang DM nanya ‘kak ini boleh disetor nggak?’, itu justru tanda mereka peduli,” ujar Nina.
Pendekatan ini membuat isu lingkungan terasa lebih manusiawi. Tidak menakutkan, tidak eksklusif.
Dari Aksi Kecil Menjadi Kebiasaan
Di kampus UMM, iLitterless bukan sekadar singgah. Ia menjadi pemantik perubahan kecil yang realistis. Dari satu botol plastik, lahir kesadaran. Dari satu dropbox, muncul percakapan.
Mungkin perubahan besar tidak selalu dimulai dari aksi heroik. Kadang, ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, di ruang yang terasa aman. Dan di UMM, cerita itu sedang berjalan.