Ketika Limbah Pembakaran Tak Lagi Berakhir di Sawah

Ahmad Redam memperlihatkan residu limbah hasil pembakaran yang sebelumnya kerap dibuang ke area persawahan. Praktik pembakaran limbah yang berdampak pada lingkungan dan lahan pertanian ini mulai dihentikan seiring upaya pengelolaan limbah yang lebih aman dan berkelanjutan.
Foto: Dok Pribadi/Natera

Abu sisa pembakaran sampah sering dianggap akhir cerita. Warnanya kusam, teksturnya halus, dan kerap dibiarkan menumpuk di sudut tempat pengolahan sampah atau lebih parah, dibuang begitu saja ke sawah dan lahan kosong. Di banyak desa, abu adalah limbah yang tak terlihat, tapi tak pernah benar-benar dipikirkan dampaknya.

Di sebuah sudut desa di Blitar, tumpukan abu itu justru memantik ide. Bagi Sunalis, limbah abu bukan residu tak berguna, melainkan bahan yang masih bisa diberi kesempatan kedua. “Hampir 80 persen bangunan ini dari abu pembakaran,” ujar Ahmad Redam menunjuk rumah sederhana yang ia bangun sebagai bukti nyata eksperimennya 

Limbah yang Biasanya Dilupakan

Dalam sistem pengelolaan sampah berbasis pembakaran, abu adalah konsekuensi yang sulit dihindari. Sampah yang tak bisa didaur ulang dibakar, volumenya menyusut, tapi meninggalkan residu halus yang tetap berpotensi mencemari tanah dan air jika dibuang sembarangan. Selama bertahun-tahun, abu kerap dianggap “aman” karena tak berbau dan tak mencolok.

Padahal, jika dibiarkan menumpuk, abu bisa mengubah struktur tanah, merusak kesuburan sawah, bahkan terbawa air hujan ke saluran irigasi. Sunalis melihat langsung persoalan itu sejak merintis pengelolaan sampah desa pada 2014. “Kalau hanya dibakar, masalahnya tidak selesai. Abu tetap ada,” katanya

Eksperimen dari YouTube ke Dunia Nyata

Berangkat dari rasa penasaran, Sunalis mulai bereksperimen. Ia mencampur abu pembakaran dengan pasir, pecahan kaca yang dihaluskan, dan bahan perekat sederhana. Referensinya tak rumit bahkan sebagian ia pelajari dari video YouTube. Awalnya, ia mencoba membuat batako dari abu sekam. Hasilnya di luar dugaan: batako itu cukup kuat untuk bangunan sederhana 

Namun, keraguan datang dari warga. Batako dari sampah? Terlalu berisiko, kata mereka. Alih-alih berdebat, Sunalis memilih jalan ekstrem yang membangun rumahnya sendiri dari material berbasis abu. “Kalau cuma teori, orang ragu. Kalau jadi bangunan, baru percaya,” ujarnya.

Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia menjadi semacam etalase ide bahwa limbah abu bisa bertransformasi menjadi sesuatu yang fungsional, bahkan estetis.

Mengurangi yang Tak Terdaur Ulang

Inovasi ini bukan tentang menggantikan semua material bangunan konvensional. Fokus utamanya adalah mengurangi volume limbah yang selama ini benar-benar berakhir tanpa solusi. Dalam sistem pengelolaan sampah desa, abu termasuk kategori residu yang nyaris mustahil didaur ulang.

Dengan mengolah abu menjadi batako, pot tanaman, hingga miniatur ornamen, jumlah limbah yang dibuang ke lingkungan bisa ditekan signifikan. “Daripada dibuang ke sawah, lebih baik jadi sesuatu yang berguna,” kata Sunalis 

Bagi generasi muda, pendekatan ini terasa relevan. Bukan sekadar jargon circular economy, tapi praktik nyata berbasis keterbatasan alat dan dana. Semua dilakukan mandiri, dengan peralatan sederhana, dan terus diuji lewat trial and error.

Lebih dari Sekadar Material

Yang menarik, upaya mengolah abu ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari ekosistem pengelolaan sampah desa, pemilahan manual, pembakaran residu, hingga eksperimen lanjutan pasca-pembakaran. Abu menjadi penghubung antara masalah dan solusi antara apa yang tersisa dan apa yang masih mungkin.

Sunalis sadar inovasinya belum sempurna. Ia mengakui belum ada kajian ilmiah mendalam soal komposisi dan dampak jangka panjang material berbasis abu ini. Namun baginya, langkah kecil tetap lebih baik daripada membiarkan limbah menumpuk tanpa arah.

Abu yang Mengubah Cara Pandang

Di tengah krisis sampah yang kian kompleks, kisah ini menawarkan sudut pandang lain: solusi tidak selalu lahir dari teknologi mahal atau proyek besar. Kadang, ia muncul dari abu dari sisa yang dianggap tak bernilai.

Bagi Gen Z yang tumbuh dengan kesadaran lingkungan dan semangat, cerita ini terasa dekat. Bahwa inovasi bisa dimulai dari halaman rumah sendiri. Bahwa limbah, sejauh apa pun dianggap akhir, masih menyimpan kemungkinan.

Dan bahwa abu, jika dipikirkan ulang, tak selalu berarti selesai. Ia bisa jadi awal dari harapan baru.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.