
Foto: Dok Pribadi/Natera
Di bagian belakang Khace, ada satu ruang yang tidak sekadar tumbuh tapi terus berputar. Mereka menyebutnya Umbara. Sekilas terlihat seperti area peternakan kecil, tapi sebenarnya ini adalah percobaan membangun satu sistem utuh: sirkular.
Tidak ada yang benar-benar dibuang di sini; semua hasil akan kembali menjadi bagian dari sistem.
“Sebenarnya juga berhubungan dengan rencana secara konseptual kami mengintegrasikan keseluruhan area ini pertanian,” ujar pengelola Khace Judha Widitha.
“Kalau teman-teman pernah dengar permakultur, bagaimana siklus itu terus berputar.”
Limbah yang Tidak Pernah Jadi Sampah
Di banyak tempat, sisa dapur berakhir sebagai sampah. Tapi di Umbara, limbah justru menjadi titik awal dari siklus.
Kami merencanakan untuk memasukkan sampah organik dari dapur ke dalam sistem maggot. Dari situ, kami mengolah limbah tersebut menjadi pakan bernutrisi tinggi untuk ternak.

Foto: Tempo.co
“Sampah itu nanti akan masuk ke maggot. Dari maggot nanti maggotnya akan dikasihkan makan ke ayam. Berarti terus berputar,” jelasnya.
Ayam-ayam yang dipelihara kemudian menghasilkan kotoran, dan kami tidak membiarkannya begitu saja. Kami mengolah kotoran tersebut menjadi pupuk untuk tanaman.
Dari pupuk itu, tanaman tumbuh dan kembali menjadi bahan konsumsi di Khace.
“Salah satu elemen yang mendukung peternakan juga gitu. Ada ayamnya, kemudian kotorannya nanti dijadikan pupuk, itu nanti untuk tanaman, tanamannya kita makan,” lanjutnya.
Ayam, Tanaman, dan Rantai yang Terhubung

Foto: Dok Pribadi/Natera
Untuk menjaga siklus ini tetap berjalan, Umbara mengandalkan berbagai elemen yang saling terhubung. Salah satunya adalah ternak ayam.
Khace Umbara mulai mengembangkan berbagai jenis ayam, seperti ayam Brahma, ayam Silkie, ayam Poland, hingga ayam Horen. Mereka bukan hanya menjadi bagian dari peternakan, tapi juga penggerak dalam rantai sirkular ini.
Ke depan, kami juga akan memperluas sistem ini dengan menambahkan kambing sebagai ternak ruminansia.
“Jenisnya juga nanti masih kami lihat… kemarin maunya kan kambing juga. Tapi itu nanti aman atau enggak, kami masih harus lihat dulu,” ujarnya.
Untuk mendukung kebutuhan pakan, Umbara juga menanam rumput khusus seperti paspalum notatum atau rumput bahia.
Rumput itu digunakan untuk pakan ternak ruminansia. Tapi itu enggak terlalu populer disini karena biasanya rumput gajah biasa itu yang gede-gede itu. Nah ini karena rumput ini biasanya digunakan untuk area-area yang kurang air.
Menariknya, rumput ini tidak hanya berfungsi sebagai pakan, tapi juga sebagai penahan lereng, menjaga kondisi tanah tetap stabil.
Membangun Sistem Sirkular Secara Bertahap
Meski terdengar ideal, membangun sistem sirkular bukan hal instan. Umbara masih dalam proses mencoba, menguji, dan menyesuaikan.
“Kalau ngomong green living ecosystem itu… visinya berat,” katanya.
“Yang jadi tantangan itu bagaimana ini bisa sustain.”
Tantangan terbesar bukan pada konsep, tapi pada konsistensi menjalankan siklus itu sendiri. Khace Umbara mengolah limbah secara optimal, menjaga ketersediaan pakan tetap berkelanjutan, dan menghubungkan seluruh elemen dalam satu sistem terpadu.
Umbara tidak mencoba menjadi sempurna sejak awal. Mereka justru memulai dari hal kecil dari sisa dapur, dari ayam, dari tanah lalu membiarkan sistem itu tumbuh perlahan.
Di tengah gaya hidup yang sering memisahkan produksi dan konsumsi, Umbara menawarkan pendekatan yang berbeda: mendekatkan kembali keduanya dalam satu siklus.
Di sini, limbah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk, lalu kembali menjadi bagian dari kehidupan yang sama.