
Kota Malang – Hotbottles, sebuah gerakan seni daur ulang asal Malang, lahir dari eksperimen iseng Pak Taufiq mengolah botol plastik bekas menjadi karya baru. Dari proses coba-coba di rumahnya, Hotbottles kini berkembang hingga menjadi kolaborator museum daur ulang di B-Walk dan Brawijaya Edupark melalui karya-karya berbasis limbah yang unik dan edukatif.
Di lansir dari MALANGVOICE Hotbottles ini berlokasi di Alam Dieng Residence Blok a no.1, Sukun, Kota Malang sudah berdiri berdiri pada 18 Januari 2016. Di sini lah sebuah rumah menampung banyak tumpukan botol plastik, potongan tutup deterjen, baterai bekas, dan komponen elektronik rusak tersusun rapi seperti stok bahan baku sebuah studio seni. Benda-benda yang bagi kebanyakan orang hanya dianggap sampah, justru menjadi sumber kreativitas bagi Taufiq Saguanto, pendiri Hotbottles. Dari tempat kecil inilah kisah gerakan seni daur ulang itu bermula bukan dari rencana besar, melainkan dari sebuah aksi iseng yang berubah menjadi perjalanan panjang penuh kejutan.
Taufiq masih mengingat saat pertama kali dirinya menantang diri sendiri dengan membuat sesusatu karya dari botol plastik bekas. Hidupnya sedang berada di persimpangan, dan ia memilih menghabiskan waktunya dengan bereksperimen.
“Awalnya cuma iseng. Nggak ada rencana besar. Aku tantang diriku sendiri, bisa nggak bikin karya dari botol bekas?” ceritanya.
Percobaan pertama itu tidak langsung menghasilkan sesuatu yang indah. Bentuknya masih kasar, lemnya belepotan, dan warnanya tidak serasi. Namun, justru dari situ rasa penasaran tumbuh. Ia terus mencoba membelah botol, memanaskan bagian tertentu, memadukan potongan plastik, hingga akhirnya menciptakan karya pertamanyasebuah lampu meja dari botol air mineral.
“Awalnya jelek, tapi setelah beberapa kali coba, hasilnya lumayan. Dari situ aku mulai yakin bisa dikembangkan,” kata Taufiq.
Perlahan, iseng itu menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi keterampilan yang bernilai seni, keterampilan berkembang menjadi gerakan kecil yang akhirnya ia beri nama Hotbottles. Nama itu pun lahir dengan sederhana, terinspirasi dari proses pemanasan plastik yang hampir selalu dilakukannya setiap membuat karya.

Namun perjalanan Hotbottles bukan tanpa hambatan. Di awal, banyak orang menganggap aneh aktivitas Taufiq yang menghabiskan waktu dengan botol-botol bekas. Bahkan ada yang meragukan nilai seninya. Tetapi ia tetap melanjutkan, berpegang pada prinsip bahwa karya dari limbah harus punya pesan kuat yaitu sampah bisa bernilai, sejauh kita mau melihatnya lebih dekat.
Perlahan, karya-karya Hotbottles mulai menarik perhatian. Pada suatu pameran kampus, lampu botol yang ia buat berhasil mencuri perhatian dan membuat publik terkejut bahwa objek tersebut berasal dari limbah. Dari titik itu, jalan Hotbottles terbuka.
Salah satu momen penting dalam perjalanan Hotbottles sebagai gerakan seni daur ulang asal Malang adalah ketika pengelola museum daur ulang di B-Walk dan Brawijaya Edupark mengundangnya untuk berkolaborasi. Mereka mengetahui karya-karya Taufiq melalui berbagai pameran dan media sosial, lalu tertarik membawa pendekatan kreatif tersebut ke ruang edukasi publik.
“Awalnya diajak kerja sama karena mereka lihat aku sering bikin karya dari limbah. Mereka pengen pengunjung belajar sambil melihat langsung bentuk-bentuknya,” ujarnya.
Di museum tersebut, Taufiq menampilkan berbagai karya mulai dari lampu, vas, figur manusia, hingga instalasi berbahan botol, baterai bekas, dan komponen elektronik B3. Khusus untuk bahan B3, ia mengubahnya menjadi dekorasi interior vintage. “Daripada jadi sampah berbahaya, mending dijadiin karya. Kalau ditata estetik, bisa jadi barang bagus,” katanya sambil menunjukkan beberapa radio tua yang ia modifikasi.
Kolaborasi ini bukan hanya menjadi pencapaian bagi Hotbottles, tetapi juga membuka ruang edukasi baru bagi masyarakat. Banyak pengunjung, terutama anak-anak, tertarik melihat bagaimana sampah bisa berubah rupa.
Ia selalu percaya bahwa kesadaran lingkungan harus ditanamkan sejak dini. Karena itu, Hotbottles kini juga menjadi tempat kunjungan sekolah untuk belajar daur ulang. Anak-anak diajak melihat proses pembuatan karya, mencoba memotong dan merangkai potongan botol, hingga membawa pulang karya buatan mereka sendiri.
Kini, lebih dari sekadar gerakan seni, Hotbottles telah menjadi ruang belajar, ruang inspirasi, dan ruang eksperimen tanpa batas. Semua bermula dari satu aksi iseng yang kemudian tumbuh menjadi karya yang melampaui dugaan Taufiq sendiri.
“Yang penting konsisten. Setiap hari kalau bisa satu karya. Dari situ kita bisa tumbuh,” ujarnya.
Dari botol-botol bekas itu, Hotbottles membuktikan bahwa perubahan besar kadang lahir dari hal kecil—bahkan dari sebuah iseng yang akhirnya diterjemahkan menjadi sebuah gerakan kreatif untuk lingkungan.