
Hello Naters!-Di sebuah ruang kerja sederhana di Blitar, kain batik tidak digambar dengan canting dan tidak pula mengikuti pola pakem. Warna-warna justru dicipratkan langsung ke permukaan kain oleh tangan-tangan penyandang disabilitas, jatuh bebas tanpa sketsa, tanpa rencana yang kaku. Dari proses yang jujur dan apa adanya inilah batik ciprat Rumah Kinasih lahir, lalu bertemu dengan potongan jeans bekas milik D’belel untuk membentuk cerita baru.
Batik Ciprat sebagai Ruang Ekspresi
Rumah Kinasih di Blitar dikenal sebagai ruang aman bagi penyandang disabilitas untuk belajar, berkarya, dan membangun kemandirian. Di tempat ini, proses berkarya tidak diburu target atau hasil yang harus sempurna. Salah satu aktivitas utamanya adalah membatik ciprat, teknik membatik yang memberi kebebasan penuh pada setiap pembuatnya.
“Motifnya kan beda beda itu yang jadi unik, nggak ada aturan pemubuatanya jadi mereka bebas berekspresi” ujar Sari pemilik D`belel
Dalam batik ciprat, para pembatik tidak perlu menggambar pola atau mengikuti aturan baku. Mereka cukup memegang alat, memilih warna, lalu mencipratkannya ke kain sesuai perasaan dan ritme masing-masing. Tidak ada tuntutan simetri, tidak ada ukuran benar atau salah. Setiap cipratan warna menjadi jejak kehadiran pembuatnya unik, spontan, dan tidak bisa diulang.
Pendekatan ini membuat proses membatik terasa lebih inklusif. Para penyandang disabilitas bisa mengekspresikan diri tanpa tekanan, tanpa takut salah, dan tanpa harus menyesuaikan diri dengan standar yang kaku. Dari kain-kain inilah lahir batik ciprat yang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga menyimpan cerita tentang keberanian, kebebasan, dan ruang aman untuk tumbuh.
Dari Jeans Bekas ke Tas yang Punya Cerita
D’belel sejak awal berdiri sebagai brand tas upcycle yang memanfaatkan celana jeans bekas. Sari dengan sadar memilih bahan yang sudah pernah dipakai, meski itu berarti ia harus berhadapan dengan warna yang memudar, kain yang tidak seragam, serta potongan yang terbatas. Justru dari keterbatasan itulah karakter D’belel terbentuk. Setiap bekas lipatan, jahitan lama, dan perbedaan warna menjadi penanda bahwa tas ini punya riwayat, bukan produk massal tanpa cerita.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Kolaborasi dengan Rumah Kinasih mulai terjalin pada tahun 2020, di masa pandemi Covid-19. Saat itu, ruang gerak banyak orang terbatas, termasuk para penyandang disabilitas di Rumah Kinasih. Sari melihat kondisi tersebut sebagai momen untuk saling menguatkan. Ia memiliki keinginan untuk membantu sekaligus memperkenalkan batik ciprat karya penyandang disabilitas ke masyarakat yang lebih luas melalui produk D’belel.
“mereka kan gak tau tuh namanya social distancing, terkadang harus lockdown gitu kan gak tau nih, jadi kan mereka resah gitu. Terus saya kepikiran nih mau mengangkat batik Ciprat itu jadi tas” ujar Sari kepada tin Natera
Proses kolaborasi ini tidak berjalan instan. Para penyandang disabilitas terlebih dulu mengerjakan batik ciprat di Blitar, menuangkan ekspresi mereka ke atas kain tanpa pola baku. Setelah itu, kain batik ciprat tersebut dipadukan dengan jeans bekas dalam tahap produksi tas. Dari pertemuan dua material yang sama-sama membawa cerita inilah lahir tas D’belel x Rumah Kinasih produk yang tidak hanya berfungsi sebagai tas, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan solidaritas, empati, dan keberlanjutan di tengah masa sulit.
Kolaborasi yang Mengajak Berpikir Ulang
Di tengah industri fesyen yang bergerak cepat dan cenderung seragam, D’belel dan Rumah Kinasih memilih berjalan dengan ritme yang berbeda. Mereka tidak mengejar produksi besar atau desain yang harus selalu sama. Jumlah tas dibuat terbatas, setiap desain hadir dengan bentuk dan pola yang berbeda, dan hasil akhirnya tidak selalu terlihat “aman” secara visual. Justru dari perbedaan itulah karakter produk ini lahir jujur, berani, dan tidak berusaha menyenangkan semua orang.
Kolaborasi ini juga menunjukkan bahwa isu lingkungan dan isu sosial tidak bisa dipisahkan. Upcycle jeans bekas membantu mengurangi limbah tekstil yang terus bertambah, sementara batik ciprat membuka ruang kerja dan ekspresi bagi penyandang disabilitas. Kedua isu ini bertemu dalam satu produk yang bisa dipakai sehari-hari. Sebuah tas yang tidak hanya membawa barang, tetapi juga membawa cerita tentang pilihan sadar, proses yang adil, dan upaya kecil untuk menciptakan dampak yang lebih luas.