Kolaborasi Jadi Kunci

umpukan sampah plastik yang telah dipilah di bank sampah.
Sampah yang dipilah berdasarkan jenis material memiliki nilai ekonomi dan lebih mudah didaur ulang dibanding sampah tercampur.
Foto: Dok Pribadi/Natera

Kolaborasi menjadi salah satu kunci penting dalam mengatasi persoalan sampah yang terus meningkat di indonesia. Di tengah tantangan tersebut, bank sampah indah lestari (BSIL) di kota malang memilih membangun geerakan lingkungan melalui kerja sama nyata dengan berbagai pihak, mulai dari pesantren, hotel, sekolah, komunitas, hingga penyelenggara berbagai acara di Kota Malang. Bagi BSIL, perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah tidak cukup dibangun lewat unggahan media sosial, tetapi harus hadir melalui kerja sama yang berkelanjutan.

Didirikan pada 2024 bersama iLitterless Indonesia dan TPS 3R Basama, BSIL tidak hanya berperan sebagai bank sampah, tetapi juga menjadi penghubung berbagai komunitas yang ingin mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab. Kolaborasi tersebut lahir dari relasi yang dibangun secara perlahan, bukan sekadar kampanye digital.

Co-Founder iLitterless Indonesia sekaligus penggerak BSIL, Maye, menjelaskan bahwa media sosial memang dimanfaatkan untuk memperkenalkan aktivitas mereka. Namun, sebagian besar kolaborasi justru muncul melalui jaringan personal yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

“Media sosial, terutama Instagram, bagi kami adalah etalase untuk menunjukkan aktivitas kami. Tujuannya memancing kolaborasi. Tapi banyak kerja sama yang terjadi justru berasal dari networking personal, bukan dari Instagram,” ujar Maye.

Menurutnya, pendekatan tersebut membuat kolaborasi yang terjalin lebih organik karena berangkat dari kesamaan visi dalam mengelola lingkungan, bukan sekadar mengikuti tren.

Kolaborasi yang Tumbuh dari Relasi

Salah satu bentuk kolaborasi yang dijalankan BSIL adalah bersama Pondok Pesantren Al Hikmah Malang. Awalnya, Maye diundang sebagai narasumber dalam kegiatan kampus yang berlangsung di pesantren tersebut. Dari pertemuan itu, ia memperkenalkan konsep green pesantren, yakni pengelolaan sampah yang dilakukan langsung dari lingkungan pesantren.

Melalui program tersebut, para santri diajak memilah sampah plastik, kardus, dan botol bekas setiap selesai kegiatan di masjid maupun lingkungan asrama. Sampah yang telah dipilah kemudian dijemput oleh BSIL untuk diolah lebih lanjut, sedangkan hasil penjualannya dikembalikan sebagai kas kegiatan santri.

Tak berhenti di situ, BSIL juga mengembangkan sistem impact report, yaitu laporan yang tidak hanya mencatat jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dampak lingkungan yang dihasilkan.

Maye menilai laporan berbasis dampak lebih mudah dipahami masyarakat dibanding sekadar angka berat sampah.

“Yang kami laporkan bukan sekadar berapa kilogram sampah yang berhasil dipilah, tetapi dampaknya. Misalnya setara dengan penyelamatan berapa pohon, penghematan berapa liter bensin, atau berapa jam energi listrik yang berhasil dihemat,” jelasnya.

Konsep tersebut pertama kali diuji coba selama Ramadan di Masjid Al Ghazali, Pesantren Al Hikmah. Selama satu bulan, puluhan kilogram sampah berhasil dipilah, kemudian diterjemahkan menjadi nilai dampak lingkungan melalui pendekatan carbon footprint dan life cycle assessment yang kini masih terus dikembangkan.

Kolaborasi serupa juga dilakukan bersama berbagai institusi pendidikan, sekolah rakyat, komunitas, hingga kelompok masyarakat yang menjadi nasabah tetap BSIL. Sampah yang telah dipilah akan dijemput secara berkala untuk diproses sesuai jenis materialnya.

Dari Hotel hingga Night Market

Jaringan BSIL tidak berhenti pada komunitas pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka mulai memperluas kolaborasi ke sektor swasta, termasuk hotel dan penyelenggara acara.

Salah satu kerja sama yang menjadi perhatian ialah pengelolaan sampah pada Tong Tong Night Market di Hotel Salimar, Kota Malang. Pada kegiatan tersebut, BSIL bertugas menangani sistem pengumpulan sampah, sedangkan iLitterless Indonesia memberikan edukasi sekaligus menyusun impact report dari seluruh sampah yang berhasil dikumpulkan selama acara berlangsung.

Menurut Maye, pendekatan tersebut menjadi contoh bahwa penyelenggaraan sebuah acara dapat tetap menghasilkan dampak lingkungan yang lebih baik jika sejak awal pengelolaan sampah dirancang secara sistematis.

Selain Hotel Salimar, BSIL juga mulai menjalin komunikasi dengan berbagai hotel lain, salah satunya Hotel Santika, yang menunjukkan ketertarikan untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Menariknya, sebagian besar kerja sama tersebut tidak lahir dari kampanye media sosial.

“Kalau sementara ini mengandalkan networking personal saja, kolaborasinya sudah banyak. Instagram tetap penting, tapi lebih sebagai etalase. Relasi yang kami bangun secara langsung justru menghasilkan banyak kerja sama nyata,” kata Maydha

Ia mengakui BSIL belum memiliki sumber daya khusus untuk mengelola media sosial secara intensif. Karena itu, Instagram digunakan sebagai ruang dokumentasi aktivitas sekaligus sarana memperkenalkan gerakan kepada publik, sementara proses membangun kolaborasi dilakukan melalui komunikasi langsung.

Strategi tersebut dinilai lebih efektif untuk menciptakan gerakan lingkungan yang berkelanjutan. Bagi BSIL, perubahan tidak selalu lahir dari unggahan yang viral, melainkan dari kepercayaan yang tumbuh melalui kerja bersama.

Ke depan, BSIL berkomitmen memperluas jejaring dengan lebih banyak komunitas, pelaku usaha, hingga penyelenggara acara di Kota Malang. Harapannya, semakin banyak pihak yang terlibat dalam pengelolaan sampah sejak dari sumbernya sehingga persoalan sampah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tempat pemrosesan akhir (TPA), melainkan menjadi tanggung jawab bersama yang dibangun melalui kolaborasi.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.