Kolaborasi Komunitas, Mahasiswa, dan Pemerintah Lokal ala Trash Hero Tumapel

Aksi nyata Volunteer Go Green Rumah Zakat untuk Bumi yang Lebih Hijau dan Sehat
Foto: Trash Hero Tumapel

Pagi itu, bantaran sungai di Kota Malang tidak hanya dipenuhi suara air dan dedaunan basah. Langkah-langkah kecil berdatangan dari berbagai arah: mahasiswa dengan rompi lapangan, warga yang membawa alat sederhana, hingga relawan komunitas lingkungan yang sudah hafal medan. Mereka tidak datang sebagai pihak yang paling tahu, apalagi paling benar. Mereka datang sebagai jejaring saling menyapa, saling belajar, dan saling bekerja.

Di titik inilah kolaborasi menemukan bentuk nyatanya.

Trash Hero Tumapel, komunitas lingkungan yang berdiri sejak 2018, menjadi simpul pertemuan banyak kepentingan seperti idealisme anak muda, kebutuhan warga, dan peran pemerintah lokal. Dari aksi bersih sungai hingga edukasi publik, komunitas ini menjahit kerja bersama lintas peran yang jarang terlihat di permukaan.

Dari Seniman ke Mahasiswa, Wajah Baru Gerakan

Trash Hero Tumapel lahir dari keresahan para seniman dan pegiat lingkungan di Malang. Saat itu, ruang gerak komunitas lingkungan masih terbatas. Namun waktu mengubah wajah organisasi ini. Pasca pandemi, tongkat estafet justru berpindah ke tangan pemuda dan mahasiswa.

“Sebelum pandemi, yang banyak menggerakkan itu seniman dan pegiat lama. Setelah COVID-19, justru mahasiswa yang mengisi dan menggerakkan organisasi,” ujar Basil.

Saat ini, relawan inti Trash Hero Tumapel hanya berjumlah sekitar 9 sampai 11 orang dari siswa kelas 12 SMA hingga dosen. Jumlahnya kecil, tapi jejaringnya luas. Mahasiswa menjadi motor penggerak: mengorganisir kegiatan, mendokumentasikan aksi, hingga menghubungkan komunitas dengan kampus dan media.

Bagi mahasiswa, Trash Hero bukan sekadar tempat turun lapangan. Ia menjadi ruang belajar alternatif tentang empati, kerja kolektif, dan realitas persoalan lingkungan yang tidak selalu hitam-putih.

We Clean, We Educate, We Change

Tiga mantra ini menjadi benang merah seluruh kerja Trash Hero Tumapel. We Clean berarti aksi bersih-bersih, dari sungai hingga pantai. We Educate diwujudkan lewat edukasi ke sekolah, warga, dan komunitas. Sementara We Change adalah upaya mendorong perubahan kebijakan publik bagian yang paling sunyi, tapi krusial.

Kolaborasi membuat tiga pendekatan ini saling menguatkan. Dalam satu kegiatan, mahasiswa belajar memetakan isu, warga berbagi realitas sehari-hari, dan komunitas menghubungkan semuanya dengan advokasi kebijakan. Pemerintah lokal hadir sebagai mitra kadang aktif, kadang terbatas namun tetap menjadi bagian dari jejaring perubahan.

Pemerintah Lokal, Hadir di Tengah Dinamika

Dalam beberapa kegiatan, seperti aksi lingkungan di Singosari, Trash Hero Tumapel bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan melibatkan hingga 150 orang warga, relawan, dan mahasiswa. Dukungan pemerintah memang belum selalu ideal. Pendanaan masih didominasi iuran internal komunitas.

“Sebagian besar pembiayaan itu dari kami sendiri. Pemerintah biasanya membantu ketika kami mengajukan, misalnya soal perizinan atau fasilitas,” ujar Basil

Namun kehadiran pemerintah lokal tetap penting seperti perizinan, fasilitas pengangkutan, hingga legitimasi gerakan. Di lapangan, sering kali justru PNS muda yang menunjukkan antusiasme tinggi, meski terbentur sistem dan keterbatasan kebijakan.

Di titik ini, kolaborasi bukan tentang siapa paling berkuasa, tapi siapa mau tetap bertahan di meja yang sama.

Warga Bukan Objek, Tapi Mitra

Trash Hero Tumapel memilih pendekatan yang berbeda. Warga bantaran sungai tidak diposisikan sebagai penyebab masalah, melainkan bagian dari solusi. Banyak warga sadar bahwa membuang sampah ke sungai itu keliru. Masalahnya, mereka sering tidak punya pilihan lain karena minimnya fasilitas pengelolaan sampah.

Itulah sebabnya, setelah aksi bersih-bersih, relawan kembali menyapa warga. Bukan untuk menggurui, tapi berdiskusi. Dari obrolan ringan itulah muncul kepercayaan modal paling penting dalam kerja lingkungan.

Dalam beberapa kolaborasi dengan program mahasiswa, Trash Hero juga mengenalkan metode kompos Takakura: teknik pengolahan sampah organik tanpa bau, cocok untuk rumah dengan lahan sempit.

Data, Medan Sulit, dan Kerja Sunyi

Kerja kolaboratif ini tidak selalu mudah. Sungai-sungai di Malang memiliki medan curam dan licin. Sampah yang ditemukan pun beragam mulai dari kemasan makanan, fast fashion, hingga popok sekali pakai yang sulit dipilah.

Melalui sistem brand audit, sampah tidak hanya diangkut, tetapi juga ditimbang, dicatat, dan dilaporkan ke pusat Trash Hero internasional. Data inilah yang kemudian menjadi bahan advokasi global untuk menekan produsen dan mendorong kebijakan yang lebih adil.

Merajut Perubahan, Pelan tapi Bersama

Bagi Trash Hero Tumapel, aksi bersih-bersih hanyalah pintu masuk. Tujuan akhirnya adalah langkah preventif, perubahan perilaku, sistem, dan kebijakan. Dalam keterbatasan relawan dan dana, jejaring menjadi kekuatan utama.

“Yang kami pegang itu keteladanan. Konsisten saja dulu. Perubahan nanti akan muncul dengan sendirinya,” kata Basil menutup perbincangan

Komunitas, mahasiswa, warga, dan pemerintah lokal bergerak dengan tempo berbeda, tapi menuju arah yang sama. Di Malang Raya, perubahan itu tidak datang dengan gebrakan besar, melainkan dirajut pelan dari sungai, dari kampus, dari kerja bersama.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.