Komunitas Eco Friend, Ruang Tumbuh Anak Muda untuk Aksi Lingkungan Nyata

Diskusi komunitas Eco Friend Capunglam bersama anak muda membahas zero waste
Diskusi komunitas Eco Friend Capunglam membahas zero waste dan peluang industri hijau bersama anak muda.
Foto: Dok Pribadi/Natera

Capunglam membangun Komunitas Eco Friend sebagai ruang belajar sekaligus ruang aksi bagi anak muda dan mahasiswa yang peduli lingkungan. Komunitas ini hadir untuk menjawab kebingungan generasi muda saat ingin berkontribusi pada isu sampah, zero waste, dan industri hijau.

Eco Friend tidak hanya fokus pada diskusi, tetapi juga membuka peluang keterlibatan langsung dalam kegiatan lapangan. Anak muda bisa belajar pengelolaan sampah, memahami rantai nilai limbah, serta terlibat sebagai volunteer di berbagai program Capunglam.

Menurut Firman selaku CEO Capunglam, komunitas menjadi jembatan penting antara edukasi dan praktik nyata. “Kami sadar layanan lingkungan tidak bisa tumbuh tanpa ruang belajar bersama yang dekat dengan anak muda,” ujar Firman.

Komunitas ini menyasar mahasiswa dan pemuda dari latar belakang yang beragam. Capunglam membuka ruang kolaborasi bagi karang taruna, pegiat lingkungan pemula, hingga mahasiswa yang ingin mengaitkan riset akademik dengan praktik lapangan.

Eco Friend juga berperan sebagai kanal marketing berbasis komunitas yang berkelanjutan. Pendekatan ini membantu Capunglam memperkenalkan layanan lingkungan tanpa pola promosi konvensional yang kaku.

Ruang Belajar Zero Waste dan Industri Hijau untuk Anak Muda

Komunitas Eco Friend Capunglam bersama mahasiswa dan anak muda
Kegiatan komunitas Eco Friend Capunglam menjadi ruang belajar aktif bagi mahasiswa dan anak muda.
Foto: Dok Pribadi/Natera

Eco Friend hadir sebagai ruang belajar zero waste yang relevan dengan keseharian anak muda. Komunitas ini mengemas materi lingkungan melalui diskusi interaktif, studi kasus, dan berbagi pengalaman lapangan.

Adel selaku Marketing Capunglam menjelaskan bahwa edukasi lingkungan perlu pendekatan yang membumi. “Kami tidak hanya bicara teori, tapi mengajak anak muda memahami masalah di lingkungan mereka sendiri,” kata Adel.

Diskusi komunitas sering mengangkat persoalan sampah di wilayah kabupaten dan desa. Banyak anggota Eco Friend menceritakan kebiasaan buang sampah ke sungai karena tidak ada sistem pengelolaan yang jelas.

Dari cerita tersebut, Capunglam merancang program edukasi langsung ke desa. Tim Eco Friend hadir memberi pendampingan, membangun sistem pilah sampah, serta memperkenalkan pengelolaan organik sederhana.

Eco Friend juga membuka diskusi seputar industri hijau dan peluang kerja. Banyak anak muda merasa tertarik, tetapi bingung menentukan jalur masuk ke sektor lingkungan profesional.

Komunitas ini membantu anggota memahami kebutuhan industri hijau seperti keterampilan dasar, sertifikasi ESG, dan peran CSR perusahaan. Diskusi ini membantu anak muda melihat isu lingkungan sebagai peluang masa depan, bukan sekadar aktivitas sukarela.

Firman menilai potensi industri hijau di Indonesia sangat besar jika didukung kesiapan sumber daya manusia. “Anak muda perlu ruang aman untuk belajar, gagal, dan tumbuh sebelum masuk industri hijau,” ungkapnya.

Terlibat Langsung sebagai Volunteer Pengelolaan Sampah Organik

Eco Friend mendorong anggotanya terlibat langsung dalam kegiatan volunteer Capunglam. Keterlibatan ini memberi pengalaman nyata tentang pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Kegiatan volunteer meliputi pemilahan sampah, pengolahan organik, hingga pendampingan acara publik. Anggota komunitas belajar membedakan sampah bernilai ekonomi dan sampah residu yang perlu pengolahan lanjutan.

Adel menyebut pengalaman lapangan membantu perubahan perilaku anggota komunitas. “Setelah turun langsung, mereka lebih sadar bahwa memilah sampah ternyata lebih menantang daripada membuangnya,” jelas Adel.

Eco Friend juga rutin mengikuti kegiatan lapangan seperti field trip ke fasilitas pengolahan sampah. Di lokasi ini, anggota mempelajari siklus pengolahan organik menggunakan maggot, pupuk, ternak, dan tanaman.

Pengalaman ini membuka wawasan bahwa sampah organik tidak berhenti sebagai kompos bernilai rendah. Capunglam mengintegrasikan pengolahan organik dengan sistem pangan untuk meningkatkan nilai ekonomi.

Melalui aktivitas tersebut, anggota Eco Friend memahami konsep ekonomi sirkular secara langsung. Sampah berubah menjadi sumber protein, pupuk gratis, dan bahan pangan yang saling terhubung.

Komunitas ini juga aktif membantu Capunglam saat event besar. Kehadiran Eco Friend memungkinkan Capunglam mengelola sampah acara dengan lebih rapi dan terarah.

Firman menegaskan peran komunitas sangat krusial bagi keberlanjutan gerakan. “Eco Friend bukan sekadar pendukung, tetapi bagian dari ekosistem Capunglam yang saling menguatkan,” tuturnya.

Eco Friend terus berkembang sebagai ruang kolaborasi lintas disiplin. Anak muda tidak hanya belajar menjaga lingkungan, tetapi juga membangun kepemimpinan, empati sosial, dan keterampilan praktis.

Melalui komunitas ini, Capunglam berharap lahir generasi muda yang siap menghadapi tantangan lingkungan dengan solusi nyata. Eco Friend menjadi bukti bahwa perubahan bisa tumbuh dari ruang belajar yang inklusif dan konsisten.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.