
Foto : Dok Pribadi/Natera.
Setiap pagi pukul tujuh, Sunalis sudah berada di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kanigoro, Kabupaten Blitar. Berseragam dinas lingkungan hidup, ia menyapu daun kering, plastik bekas, dan sisa limbah pengunjung. Hingga pukul dua siang, kegiatan itu setiap hari ia lakukan menyapu, mengumpulkan, dan membersihkan.
Namun kegiatan upaya penyelamatan lingkungan oleh Sunalis tidak berhenti di jam kerja. Saat hari libur tiba, ia justru kembali berurusan dengan sampah. Bedanya, kali ini bukan karena tugas kantor, melainkan karena kegelisahan pribadi. Bersama anaknya, Sunalis menyusuri sungai di sekitar rumah. Untuk mencari Pampers bekas yang dibuang sembarangan utamanya di sungai, tak hanya Pampers bekas ia juga mengumpulkan pecahan kaca atau beling yang mengendap di aliran air sungai.
“Sebenarnya sekalian bersihkan sungai, soalnya kebanyakan sampah pampers itu berakhir dibuang ke sungai” celetuknya pada saat tim Natera berkunjung ke tempat tinggalnya.
Proses limbah Pampers

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Sunalis tahu betul risiko dari apa yang ia kumpulkan. Pampers bekas bukan jenis sampah yang ramah disentuh. Baunya sangat menyengat, tampilannya sudah pasti menjijikkan, dan menyimpan banyak bakteri. Tapi justru karena itulah ia merasa perlu turun tangan. Limbah Pampers yang dibuang ke sungai bukan hanya soal bau, tapi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan.
Ketika mengumpulkan limbah Pampers dan pecahan kaca Anak laki lakinya kerap ikut, itu yang membuat sunalis makin merasa bahagia karena anaknya mau belajar sejak dini bahwa sungai bukan tempat sampah. Mereka memungut Pampers satu per satu, memasukkannya ke karung, lalu mengumpulkan beling yang berserakan di bantaran sungai. Semua sampah yang ia dapat dibawa pulang. Tidak langsung diolah, tapi diproses melalui tahapan yang panjang dan penuh ketelatenan.
Limbah pampers bekas terlebih dahulu dicuci hingga benar-benar bersih, lalu dijemur di bawah matahari. Setelah kering, Pampers direndam dalam cairan alkohol 70 persen. Tujuannya supaya menghilangkan bakteri yang masih menempel. Prosesnya tidak selesai di situ Setelah direndam, Pampers kembali dijemur hingga kering sempurna. Barulah kemudian digunting kecil-kecil. Potongan inilah yang kelak menjadi salah satu bahan utama patung Garuda Pancasila.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Sementara itu, limbah kaca melalui proses berbeda. Beling dicuci hingga bersih, lalu ditumbuk manual sampai hancur dan halus. Setiap pulang kerja dari RTH, Sunalis menumbuk kaca sedikit demi sedikit. Tidak ada mesin, hanya tenaga tangan dan kesabaran. Hingga akhirnya, serpihan kaca berubah bentuk menyerupai pasir tidak lagi tajam, aman untuk diolah.
Gabungan Limbah
Ketika semua bahan sudah siap, proses pembuatan patung dimulai. Potongan Pampers yang sudah steril dan pasir dari kaca dicampur dalam satu wadah. Perbandingannya satu banding satu. Sunalis lalu menambahkan sedikit semen sebagai perekat. Bukan untuk mendominasi, hanya sekadar mengikat. Ada satu bahan unik lain yang ia tambahkan tetesan cairan tebu. Cairan ini berfungsi untuk membuat adonan lebih kokoh dan padat. Racikan itu diaduk perlahan hingga menyatu. Tidak ada takaran khusus untuk menambahkan tetes tebu.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Adonan yang sudah jadi kemudian dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk Garuda Pancasila. Proses ini membutuhkan ketelitian ekstra. Setiap lekukan sayap, paruh, dan tubuh Garuda harus terisi sempurna. Setelah itu, cetakan didiamkan semalaman. Pagi hari sebelum berangkat bekerja, Sunalis membuka cetakan satu per satu. Patung Garuda yang masih mentah dikeluarkan dengan hati-hati, lalu dijemur di bawah sinar matahari. Setelah benar-benar kering, patung masuk ke tahap akhir: pengecatan. Warna emas dan detail khas Garuda Pancasila diaplikasikan perlahan. Dari limbah yang dianggap menjijikkan dan berbahaya, kini muncul simbol negara yang gagah dan bermakna.
Garuda Yang Kokoh
Satu patung Garuda Pancasila karya Sunalis dibanderol dengan harga Rp130 ribu. Bukan harga yang mahal jika melihat proses panjang di baliknya. Namun bagi Sunalis, nilai utama patung ini bukan soal rupiah. Ia ingin menunjukkan bahwa sampah bahkan yang paling dihindari seperti Pampers dan beling masih bisa untuk dimanfaatkan. Itu mengartikan limbah tidak selalu harus berakhir di TPA atau sungai. Dengan pengetahuan, kesabaran, dan niat, ia bisa berubah menjadi sesuatu yang bermakna.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Keterlibatan anaknya dalam proses ini juga bukan kebetulan. Sunalis ingin nilai kepedulian lingkungan tumbuh sejak dini. Bukan lewat omelan, tapi lewat praktik langsung. Memungut sampah, membersihkannya, lalu mengubahnya menjadi karya. Di tangannya, Pampers bekas dan kaca pecah tidak lagi sekadar masalah lingkungan. Ia berubah menjadi patung Garuda simbol negara yang lahir dari limbah.